Sabtu, 16 Desember 2017

DPRD Banyuwangi: Yayasan PGRI Jangan Hanya Diam

Kamis, 23 Nopember 2017 08:03:07 WIB
Reporter : Rindi Suwito
DPRD Banyuwangi: Yayasan PGRI Jangan Hanya Diam

Banyuwangi (beritajatim.com) - Permasalahan mengenai Sekolah Luar Biasa (SLB) PGRI Rogojampi yang mendapat perlakuan kurang manusiawi, direspon serius oleh Komisi IV DPRD Banyuwangi. Dewan melakukan langkah segera untuk menjembatani masalah tersebut.

"Kami sudah melakukan langkah awal untuk menyelamtkan dulu. Bagaimana SLB PGRI Rogojampi ini mendapat tempat yang baru. Entah itu gedung milik siapa tapi untuk di SLB tidak apa-apa," kata Sekretaris Komisi IV DPRD Banyuwangi, Salimi, Rabu (22/11/2017).

Namun, kata Salimi, mengenai langkah lebih lanjut pihaknya meminta agar Yayasan PGRI yang menaungi SLB itu untuk lebih aktif. Pihaknya menganggap, Yayasan PGRI yang mestinya  memiliki kebijakan vital menyelesaikan masalah.

"Seyogyanya, yayasan PGRI ini jangan hanya diam. DPRD hanya bisa memfasilitasi, PGRI yang memiliki naungan juga harus memikirkan ini," ungkapnya.

Terlebih, lanjut Salimi, sangat disayangkan jika organisasi besar seperti PGRI ini tak mampu menyelesaikan masalah ini. Bahkan, banyak sekolah SLB di Banyuwangi yang masih numpang karang di tanah kas desa atau milik pemerintah. Ironisnya, mereka sudah menempati sekolah itu sejak puluhan tahun.

"Ini kan aneh, sudah 17 tahun ada yang 20 tahun tapi masih belum punya gedung sekolah sendiri. Jangan sampai persoalan ini berlanjut ke SLB di tempat-tempat lain. Masak organisasi besar tidak bisa menyelesaikan masalah seperti ini. PGRI ini Persatuan Guru Republik Indonesia buka. Persatuan Guru Republik Banyuwangi, masak guru se Indonesia tidak bisa," katanya.

Kedepan, Salimi menekan pada yayasan PGRI agar segera melakukan langkah untuk menyediakan gedung sekolah khusus SLB ini. Demi keberlangsungan proses pembelajaran siswa SLB, DPRD meminta PGRI mempriotitaskan hal tersebut.

"Saya minta segera yayasan PGRI ini menyediakan gedung baru, mereka jangan dibiarkan. Bagaimana caranya harus komunikasi, tapi itu semua harus ditangani oleh yayasan PGRI. Jangan seenaknya menyerahkan beban kepala sekolah untuk pontang-panting nyari fasilitas kayak di Lemahbangdewo ini, kalau begini kepala sekolahnya yang babak belur," terangnya.

Pasalnya, Ia menilai yayasan PGRI Banyuwangi terindikasi kurang peduli terhadap keberlangsungan SLB di Banyuwangi. Sehingga atas kejadian ini, seluruh pihak meminta agar yayasan PGRI harus merespon cepat.

Sekedar diketahui, jumlah siswa disabilitas di Banyuwangi mencapai 1045 orang. Terdapat 217 lembaga reguler pendidikan inklusi maupun non reguler. [rin/suf]

Tag : sekolah

Komentar

?>