Sabtu, 16 Desember 2017

Ini Solusi Akhir SLB PGRI Rogojampi

Kamis, 23 Nopember 2017 07:23:59 WIB
Reporter : Rindi Suwito
Ini Solusi Akhir SLB PGRI Rogojampi

Banyuwangi (beritajatim.com) - Solusi untuk SLB PGRI Rogojampi akhirnya terpecahkan setelah DPRD Banyuwangi memanggil pihak yang berkepentingan untuk duduk bersama dan mendengarkan pendapat atau hearing.

Komisi IV DPRD Banyuwangi mempertemukan antara, pihak Sekolah Luar Biasa (SLB) PGRI Rogojampi, Kepala Desa Lemahbangdewo, UPTD Pendidikan Rogojampi, Yayasan PGRI dan Dinas Pendidikan Banyuwangi.

Dalam pertemuan yang dipimpin oleh Sekretaris Komisi IV Salimi meminta semua pihak menjelaskan duduk permasalahan masing-masing. Dimulai dari pihak SLB yang ditanggapi oleh Kepala Sekolah SLB PGRI Rogojampi, Suhadi. Pihaknya mengatakan, pihak sekolah bersikukuh tak mau meninggalkan tempat sebelum mendapat solusi ruang kelas baru.

"Kami terus ditekan untuk segera mengosongkan sekolah itu. Sementara kami tak diberi solusi untuk tempat yang baru. Mau kemana anak-anak ini akan belajar," ungkap Suhadi, Rabu (22/11/2017).

Sementara Dinas Pendidikan yang diwakili Sekretaris Dwi Yanto membuka pendapat dengan memberikan sejumlah opsi. Opsi pertama SLB bergeser ke Kantor Desa Lemahbangdewo yang lama. Opsi kedua, mengupayakan tempat untuk SLB yang nantinya untuk dibangun ruang kelas permanen.

"Karena, sekolah yang ditempati saat ini telah akan digunakan untuk layanan warga desa, kami meminta kepada kepala desa untuk legowo bertukar tempat sementara dengan kantor lama. Kalau, kepala desa ini ngotot kantornya akan digunakan untuk balai dusun, sebenarnya seberapa urgent kantor dusun itu digunakan?," ucap Sekretaris Dinas Pendidikan Banyuwangi, Dwi Yanto.

Pihak Dinas Pendidikan Propinsi menanggapi serius atas usulan itu. Mengenai SLB, sebenarnya memang kepentingan langsung dari Dinas Pendidikan Propinsi.

"Kami siap mengawal dan memfasilitasi untuk penganggaran ke propinsi dan pusat," kata Kepala Cabang Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur, Banyuwangi, Istu Handono.

Pihak Yayasan PGRI Provinsi Jawa Timur cabang Banyuwangi juga sepakat dengan opsi pemindahan sementara SLB ke kantor desa.

"Saya terharu mendengar laporan dari kasek SLB PGRI, sehingga melakukan rapat membahas untuk persoalan ini. Tapi dari pernyataan semua, kami sepakat dengan opsi Dinas Pendidikan. Sebenarnya kalau dilihat, ini sangat bertentangan dengan gerakan Banyuwangi, apa yang telah digembar-gemborkan oleh bupati yang menyatakan Banyuwangi menjadi kabupaten Inklusif, ramah anak, welas asih," ucap Guntur Ketua Yayasan pembina pendidikan PGRI proponsi Jatim cabang Banyuwangi.

Menanggapi adanya sejumlah pernyataan, pihak DPRD melimpahkan pendapat ke pihak Desa Lemahbangdewo. Kepala Desa Agus Iswanto Prihadi sejenak berubah pikiran dan turut menyetujui opsi pemindahan sementara SLB ke kantor desanya. "Saya dengan BPD telah legowo kantor desa kami digunakan untuk belajar anak-anak," terangnya.

Sebenarnya, Camat Rogojampi Nanik Machrufi sudah menawarkan sejumlah tempat untuk mengakomodir para siswa SLB tersebut, termasuk menggunakan balai desa lama. Tapi, musyawarah buntu lantaran pihak sekolah tetap enggan meninggalkan tempat.

"Dalam surat kesepakatan, sebenarnya pihak SLB siap pindah, dan memberikan waktu harusnya dalam pertemuan tanggal 20 Nopember 2017. Mereka akan pindah ke SDN 4 Rogojampi tapi kondisinya tidak layak sehingga kami memberikan solusi untuk bertahan menempati," ungkapnya.

Dari pertemuan itu, sejumlah wakil rakyat yang turut hadir juga menyepakati untuk pemindahan sementara SLB ke kantor desa. Secara naungan, DPRD Banyuwangi telah memiliki Perda No 6 tahun 2017 mengenai Perlindungan Dan Pemenuhan Hak- hak Penyandang Disabilitas. Sehingga mereka ini ada ikatan dengan pejabat, sehingga harus peduli dan tidak melakukan diskriminasi.

"Catatannya, tegas saya minta pihak sekolah jangan mau dipindah atau digeser kalau belum ada bangunan baru, ini menyangkut nama baik daerah. Kalau nggak begitu akan seperti ini lagi. Nanti kami akan bantu pengawalan bagaimana solusi untuk mendapat tempat dan pembangunannya. Apakah nanti di tahun 2018 atau 2019," kata Salimi.

Sebelumnya, puluhan Siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) PGRI di Desa Lemahbang Dewo, Kecamatan Rogojampi terpaksa diminta segera keluar ke sekolah mereka. Padahal, para siswa ini telah menempati lokasi itu sejak 2004 lalu.

Hal itu lantaran, ruang kelas yang ditempati akan digunakan untuk kantor desa yang baru. Terlebih, bangunan 3 ruang yang berdiri itu berada di lahan milik Tanah Kas Desa (TKD) setempat.

Kondisi ini membuat sejumlah wali murid khawatir. Mereka sangat keberatan adanya keinginan Kepala Desa Lemahbangdewo yang ingin mengambil sekolah tersebut. Mereka ingin, pihak desa mau memperhatikan nasib anak penyandang disabilitas ini. [rin/suf]

Tag : sekolah

Komentar

?>