Jum'at, 15 Desember 2017

Warga Surabaya Meninggal Diduga karena Kencing Tikus

Selasa, 21 Nopember 2017 18:06:45 WIB
Reporter : Arif Fajar Ardianto
Warga Surabaya Meninggal Diduga karena Kencing Tikus

Surabaya (beritajatim.com) - Masyarakat Kota Surabaya diimbau untuk mewaspadai potensi timbulnya penyakit di musim hujan. Terutama penyakit yang ditularkan oleh binatang. Kewaspadaan ini bisa dimulai dengan membiasakan hidup bersih di lingkungan tempat tinggal masing-masing.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Febria Rachmanita menyampaikan, tidak hanya nyamuk yang selama ini menjadi penular penyakit demam berdarah atau cikunguya, tikus juga bisa menjadi perantara penyakit. Menurutnya, tikus bisa menyebabkan penyakit leptospirosis bila ternyata urine atau darahnya mengandung bakteri lestospira.

Seperti kejadian yang terjadi pada keluarga di Dukuh Karangan Gang 5 RT 10/ RW 03, Kelurahan Babatan, Kecamata Wiyung, yang diduga terjangkit virus tikus. Menurut Febria, untuk kejadian yang menimpa keluarga di Kelurahan Babatan tersebut, masih di duga (terjangkit leptospirosis).

“Sudah dilakukan pemeriksaan cepat (rapid test) ibu nya (Suparmi) dan negatif. Kalau untuk bapaknya masih suspect karena belum ada hasil ceknya, itu hasilnya nanti 7-10 hari. Untuk tikusnya, kami sudah ambil untuk dicek ke Salatiga guna melihat apakah ada bakteri lestospira,” ujar Febria Rahmanita kepada wartawan di lokasi, Selasa (21/11/2017).

Menurut Febria, di kawasan tersebut memang banyak ditemukan tikus. Menurutnya,  dari upaya yang dilakukan petugas Linmas dan warga, kemarin ditemukan 20 tikus  dan delapan tikus pada hari ini.

“Untuk daerah sini akan kami pantau selama 15 hari ke depan untuk dilakukan pemeriksaan kesehatan,” sambung dia.

Selama ini, sambung Febria, Dinkes Kota Surabaya rutin melakukan penyuluhan setiap pekan kepada warga. Ada kader lingkungan dan juga dari Puskesmas yang turun mengingatkan warga untuk menjaga kebersihan lingkungan. Termasuk imbauan untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk dan membersihkan barang-barang yang tida terpakai di dalam rumah.

“Kami lakukan penyuluhan setiap pekan terkait kebersihan lingkungan. Tikus itu senang bercampur dengan dengan barang-barang kotor. Jadi satu-satunya cara untuk pencegahan adalah dengan menjaga kebersihan lingkungan. Tidak hanya di dalam rumah, tetapi juga di lingkungan sekitar rumah,” sambung pejabat yang baru menunaikan ibadah haji ini.

Terkait penyakit yang diakibatkan oleh virus tikus, Febria menjelaskan bahwa gejalanya hampir mirip dengan flu. Juga dibarengi dengan mata merah dan bial didiagnosa lanjut, matanya agak kuning.

“Langkah pertama yang dilakukan begitu ada gejala panas, segera bawa ke Puskesmas untuk dilakukan diagnosa. Dan yang kedua, yang paling penting jaga kebersihan. Tumpukan barang yang nggak terpakai itu dibuang,” sambung pejabat yang juga dokter gigi ini.

Kabag Humas Pemkot Surabaya, Muhammad Fikser menambahkan, ketika ada informasi terkait kejadian di Dukuh Karangan Gang 5 RT 10/ RW 03, Kelurahan Babatan, Kecamata Wiyung, personel dari Linmas dan Penanggulangan Bencana langsung melakukan pembersihan bersama warga di lokasi rumah.

“Kemudian dilakukan renovasi rumah oleh personel penanggulangan bencana Linmas dan kecamatan,” jelas Fikser.

Terkait usulan untuk rehabilitasi rumah melalui program RSDK (Rehabilitasi Sosial Daerah Kumuh) nya Dinas Sosial Kota Surabaya, Fikser menyebut belum bisa dilaksanakan karena kelengkapan administrasi. Sebab, rumah tersebut merupakan milik saudaranya yang kemudian diizinkan dipakai.

“Sementara kalau untuk renovasi rumah, itu jadi milik yang bersangkutan dan proses administrasinya jelas. Jadi yang bisa dilakukan pemkot adalah memplester lantai dan dinding. Sebenarnya secara fisik, rumahnya masih layak, hanya kebersihannya,” sambung Kabag humas. [rif/but]

Tag : penyakit

Komentar

?>