Rabu, 17 Oktober 2018

Kelahiran Bayi Prematur di Kabupaten Mojokerto Masih Tinggi

Senin, 20 Nopember 2017 08:24:32 WIB
Reporter : Misti P.
Kelahiran Bayi Prematur di Kabupaten Mojokerto Masih Tinggi

Mojokerto (beritajatim.com) - Angka bayi yang dilahirkan prematur di Kabupaten Mojokerto masih tinggi. Data RSUD Prof Dr Soekandar, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, sejak Januari hingga Oktober 2017 yakni sebanyak 133 bayi atau rata-rata 13 kasus per bulan.

Dokter Spesialis Anak RSUD Prof dr Soekandar, Anggono R. Arfianto mengatakan, bayi yang lahir prematur menjadi salah satu faktor penyumbang angka kematian bayi (AKB). "Dan faktor penyebab bayi dilahirkan prematur itu karena kondisi kesehatan ibu saat kehamilan," ungkapnya, Senin (20/11/2017).

Sepanjang Januari hingga Oktober ini saja, rumah sakit pelat merah itu sudah merawat 133 kasus. Dengan begitu, angka kelahiran prematur rata-rata terjadi 13 kasus per bulan. Sedangkan kasus tertinggi terjadi pada bulan April lalu dengan 24 kasus.

"Hampir setiap bulan, kami selalu melayani ibu yang melahirkan bayi prematur. Sebagian besar kasus bayi lahir prematur dipicu akibat kondisi ibu selama masa kehamilan. Baik yang disebabkan karena mengalami kekurangan nutrisi maupun adanya gangguan kesehatan," katanya.

Seperti gangguan jantung, gangguan napas, maupun gangguan infeksi penyakit lainnya. Sehingga kondisi ibu tidak lagi mampu mempertahankan kehamilan sehingga bayi akan terlahir belum pada saatnya. Idealnya bayi dilahirkan pada rentang usia di atas 37 minggu hingga 42 minggu.

"Sedangkan di bawah usia minimal tersebut, bayi dikatakan sebagai lahir prematur. Sebaliknya, kelahiran di atas usia kandungan lebih dari 42 minggu disebut postmatur. Bayi yang dilahirkan di bawah rentang usia ideal, organ-organ di dalam tubuhnya belum terbentuk secara sempurna," ujarnya.

Bayi yang dilahirkan secara prematur dan postmatur, keduanya juga memiliki risiko masing-masing. Khusus prematur, bayi berisiko akan mengalami berat bayi lahir rendah (BBLR) atau berat badan yang kurang dari 1.500 gram. Risiko yang paling umum terjadi pada bayi baru lahir adalah terserang Respiratory Distress Syndrome (RD).

"Istilahnya belum matang, semua organnya belum matang sehingga bayi berisiko untuk kejang sangat kuat sekali. Karena paru-parunya belum mampu mengembang seperti bayi normal lainnya sehingga berisiko henti napas pada bayi sehingga bayi harus dirawat secara intensif," ujarnya.

Bayi harus dirawat secara intensif di ruang perawatan khusus bayi Neonatal Intensive Care Unit(NICU). Tim dokter akan memantau penuh selama 24 jam karena secara umum, bayi tersebut seharusnya berada di dalam kandungan. Namun karena terlahir lebih awal, sehingga harus ditempatkan di inkubator.

"Inkubator mempunyai suhu tertentu yang menyerupai kondisi dalam rahim ibu. Intinya jika kondisi ibu sehat maka bayi juga sehat, begitu juga sebaliknya. Sehingga disarankan para ibu hamil harus memperhatikan kesehatan selama masa kehamilan. Baik kesehatan diri sendiri maupun kondisi janin," tuturnya.

Kasi Pelayanan Mutu dan Profesi Medik RSUD Prof dr Soekandar ini menambahkan, jika terjadi gejala ketidaknormalan agar segera melakukan pemeriksaan ke dokter maupun fasilitas kesehatan terdekat. [tin/suf]

Tag : bayi

Komentar

?>