Jum'at, 15 Desember 2017

Warga Tolak Rencana Pembangunan Pusat Pengelolaan Limbah B3

Jum'at, 17 Nopember 2017 23:13:45 WIB
Reporter : Misti P.
Warga Tolak Rencana Pembangunan Pusat Pengelolaan Limbah B3

Mojokerto (beritajatim.com) - Pemprov Jatim melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jatim menggelar sosialisasi dengan warga terkait rencana pembangunan pusat pengelolan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di Desa Cendoro, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, Jumat (17/11/2017).

Namun warga menolak rencana pembangunan tersebut. Warga khawatir akibat pembangunan tersebut akan terjadi pencemaran lingkungan. Namun jika pembangunan tetap dilaksanakan, maka warga akan mengelar demo.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala DLH Provinsi Jatim Diah Susilowati mengatakan, pertemuan dengan masyarakat pengelola lahan perhutani wilayah di Kecamatan Dawarblandong tersebut sesuai perintah Gubernur Jatim. "Pemprov berencana akan melakukan pembangunan pusat pengolahan limbah B3," ungkapnya.

Pembangunan pusat pengelolaan limbah B3 tersebut berlokasi di Desa Cendoro, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. Diah menjelaskan, Pemprov Jatim akan melaksanakan tukar guling lahan dengan pihak Perhutani dan kategori pengelolaan limbah B3 akan dipilah-pilah sesuai dengan UU lingkungan hidup.

"Karena pemerintah saat ini mewajibkan untuk mendirikan pabrik pengolah limbah yang bekerjasama dengan pihak ketiga. Pemerintah membangun dengan tujuan untuk mensejahterakan masyarakat bukan untuk merugikan masyarakat. Seluruh rencana akan dikaji dampaknya ke lingkungan sekitar," jelasnya.

Pemprov Jatim juga akan melakukan pergantian semua tanaman yang sudah ditanam sesuai dengan nominalnya dan pohon jati yang sudah tertanam. Masih kata Diah, pembangunannya tidak semua langsung dikerjakan pada lahan yang rencana memiliki luas sekitar 50 Ha, namun dilakukan secara bertahap.

"Tujuan pembangunan pusat pengolahan limbah yang ada di Kecamatan Dawarblandong yakni untuk mengatasi masalah limbah dari perusahaan yang ada di wilayah Jombang, Lamongan dan Mojokerto. Pertemuan ini untuk mencari saran dan masukan dari warga sekitar agar bisa ditemukan win win solution terkait rencana ini," ujarnya.

Diah menegaskan, lokasi pendirian pusat pengolahan limbah B3 tersebut di lahan milik Perhutani dengan alasan jauh dari pemukiman penduduk serta kondisi air maupun lainnya akan selalu dipantau. Pihaknya berjanji akan mengecek secara berkala sehingga warga tidak perlu takut adanya pencemaran lingkungan.

"Jika di tengah jalan ada pencemaran bisa diberhentikan. Semua juga dilindungi hukum, kawasan tersebut sudah dipetak dan sangat strategis karena lahan ini masuk dalam kawasan industri kedepannya. Pengolahan (limbah) menggunakan teknologi canggih bisa dilihat secara langsung," tegasnya.

Perwakilan warga Jaelani menjelaskan, warga sepakat menolak rencana pembangunan pusat pabrik pengolahan limbah B3 di Desa Cendoro tersebut. "Jika ingin membangun jangan di sini tapi cari lokasi lain. Kami tidak berniat untuk menghalangi pembangunan, tapi jika tetap dilaksanakan kami akan demo dan mengirim surat kepada Presiden," tuturnya.

Perwakilan warga lainnya, Suwinto menambahkan, terkait pembangunan pusat pengolahan limbah B3. "Kami hanya sebagian dari perwakilan warga, mayoritas warga yang lain akan bersikap sama dengan kita yaitu tetap menolak. Kami khawatir terjadi pencemaran seperti di PT PRIA," tegasnya.

Karena tidak ada titik temu dalam sosialisasi tersebut, sejumlah perwakilan dari warga meninggalkan tempat pertemuan. Terkait penolakan tersebut, warga beberapa kali menggelar demo memasang spanduk yang isinya menolak pembangunan pusat pengolahan limbah B3 di wilayah Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto.

Selain dihadiri Kepala DLH Provinsi Jatim, dalam sosialisasi tersebut juga dihadiri Camat Dawarblandong, Kapolsek Dawarblandong, Staf penyusun AMDAL dari ITS, perwakilan dari DLH Kabupaten Mojokerto serta perwakilan warga pengolah lahan Perhutani wilayah Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. [tin/suf]

Komentar

?>