Rabu, 23 Mei 2018

Stop Konsumsi Antibiotik Sembarangan

Kamis, 16 Nopember 2017 18:04:38 WIB
Reporter : Renni Susilawati

Surabaya (beritajatim.com) - Saat flu, batuk, dan demam, seringkali masyarakat lebih suka membeli maupun meminta dokter meresepkan obat antibiotik untuk penyembuhan.  Padahal penyakit itu bukan karena bakteri, yang perlu antibiotik melainkan akibat virus.

Kebanyakan dan keseringan mengkonsumsi Antibiotik akan memicu terjadinya bakteri yang ada dalam tubuh menjadi resisten yang disebut dengan Resistensi Antimikroba (AMR).

"Banyak anggapan yang salah tentang antibiotik, seolah-olah semua penyakit bisa disembuhkan dengan antibiotik. Padahal saat ini bahaya akibat AMR jauh lebih besar, salah satunya menimbulkan infeksi," ujar dr Hari Paraton, Sp.OG(K), Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA), dalam Peringatan World Antibiotic Awareness Week 2017 di RS Dr Soetomo, Kamis (16/11/2017).

AMR saat ini juga menjadi mesin "pembunuh" di rumah sakit, sebab saat operasi berhasil dilakukan, timbul infeksi pada bekas luka yang cukup parah. Sehingga bukan penyakit awalnya yang membunuh tetapi infeksi lukanya.

"Bahkan ada kasus di rumah sakit ini, penyembuhan infeksi dari dampak AMR ini hingga 100 hari lebih.Dan biaya yang dihabiskan ratusan juta," aku Hari.

Menurut data WHO, pada tahun 2014 terdapat 480.000 kasus baru multidrug-resistent tuberculosis (MDR-TB) di dunia dan 700.000 kematian per tahun akibat bakteri resisten. Selain itu, berdasarkan laporan the Review on Antimicrobial Resistance, diperkirakan bahwa jika tidak ada tindakan global yang efektif, AMR akan membunuh 10 juta jiwa di seluruh dunia setiap tahunnya pada tahun 2050. Angka tersebut melebihi kematian akibat kanker, yakni 8,2 juta jiwa per tahun dan bisa mengakibatkan total kerugian global mencapai US$ 100 triliun. Keprihatinan terhadap semakin banyaknya bakteri yang resistensi dengan antibiotik telah mendorong banyak negara dan berbagai insitusi di dunia untuk memberikan perhatian yang lebih terhadap isu kesehatan ini.

Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Prof. Dr. dr.  Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), MARS, DTMH, DTCE – Senior Advisor WHO - SEARO, menyebutkan saking seriusnya isu ini, juga menjadi pembicaraan penting dalam pertemuan PBB.

"Perlu adanya sosialisasi yang masif. Untuk itu terbentuk Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA). Dan sosialisasi yang melibatkan tenaga medis dan masyarakat yang dilakukan RS Dr Soetomo ini sangat penting," jelasnya.

Dalam rangka peringatan Pekan Peduli Antibiotik Sedunia 2017,  RSUD Dr. Soetomo Surabaya menggelar edukasi mulai 13 sampai 19 November dengan berbagai kegiatan seperti lomba cerdas cermat “Sadar-Antibiotik”, lokakarya, seminar semi populer dan diskusi media diselenggarakan oleh Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)  Dr. Soetomo Surabaya bekerjasama dengan Badan Kesehatan Dunia (WHO), Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Pemerintah provinsi Jawa Timur, Universitas Airlangga, dan Pfizer. [rea/but]

Tag : kesehatan

Komentar

?>