Kamis, 16 Agustus 2018

Bahaya Tar Rokok, KABAR Dorong Gunakan Tembakau Alternatif

Rabu, 08 Nopember 2017 16:00:34 WIB
Reporter : Teddy Ardianto Hendrawan
Bahaya Tar Rokok, KABAR Dorong Gunakan Tembakau Alternatif

Jakarta - Bendung bahayanya Tar terhadap kesehatan masyarakat sejumlah pegiat anti Tar membentuk Koalisi Indonesia Bebas Tar (KABAR).

Koalisi yang berasal dari lintas profesi yakni Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP), Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Tar Free Foundation, Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI), Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI), serta Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) ini tujuannya mencari solusi dampak buruk TAR yang ada di rokok saat dibakar.

Ketua KABAR, Prof. Achmad Suaqie mengatakan selama ini orang lebih banyak mendiskusikan mengenai bahaya nikotin yang menyebabkan kecanduan.

Padahal, TAR jauh lebih berbahaya karena mengandung zat-zat karsinogenik yang dihasilkan dari pembakaran rokok.

“Akibat pengetahuan yang rendah ini seringkali masyarakat salah menentukan pilihannya, utamanya yang berkaitan dengan dampak dari produk tembakau,” ujar pria yang kiniel menjabat Guru Besar di Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Padjajaran Bandung.

Koalisi ini berkomitmen untuk menjadi bagian dari solusi atas permasalahan dampak rokok bagi kesehatan, dengan mengedepankan informasi berbasis penelitian ilmiah dan teknologi demi mengatasi dampak buruk TAR melalui produk tembakau alternatif.

 “Di negara-negara maju, mereka melakukan berbagai penelitian dan pengembangan atas produk tembakau alternatif yang memiliki tingkat bahaya yang lebih rendah guna mencari solusi bagi para perokok,” jelas Syawqie

Berdasarkan data kementerian Kesehatan Inggris Raya pada 2015, rokok yang dibakar produk nikotin menurunkan resiko 95 persen dari rokok yang di bakar.

“Informasi seperti inilah yang perlu disampaikan kepada masyarakat agar mereka mendapatkan akses atas informasi berbasis penelitian ilmiah sehingga nantinya mereka dapat menentukan pilihannya,” tambahnya.

APVI, salah satu anggota KABAR yang mewakili suara konsumen, juga mengungkapkan kekhawatiran yang sama mengenai minimnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat, khususnya bagi pemerintah, perokok, dan penggiat kesehatan publik.

 “Sebagai konsumen, tentunya saya memiliki hak untuk menentukan pilihan saya dalam mengonsumsi produk tembakau dengan bahaya yang lebih rendah,” ujar Aryo Andrianto, ketua APVI.

Terkait ini, kata Aryo, pihaknya akan jmempertanyakan pernyataan Kementerian Perdagangan dan Kementerian Kesehatan yang bermaksud melarang peredaran dan konsumsi produk tembakau alternatif, diantaranya vape dan rokok elektrik. .  

"KABAR mendorong pemerintah untuk segera melakukan penelitian ilmiah, berdiskusi dengan para peneliti. Hal ini penting dilakukan agar pemerintah bisa mendapatkan informasi yang akurat demi menentukan kebijakan yang tepat,"ujar Aryo.

Menurutnya, pihaknya setuju bahwa produk tembakau alternatif harus segera diregulasi, diantaranya agar tidak dikonsumsi oleh anak-anak.  Tapi wacana pelarangan bukan keputusan bijaksana. Karena banyak penelitian dan pengembangan produk yang menunjukkan adanya pengurangan tembakau bakar. "Sekali lagi, kami siap untuk berdialog dengan pemerintah,"tegas Aryo.

Dan KABAR hari ini, Rabu (08/11/2017)  juga meluncurkan situs www.no-tar.org, sebuah platform digital yang akan digunakan untuk menginventaris kajian-kajian ilmiah, data, dan informasi produk tembakau alternatif.

“Tujuanya jelas untuk menyampaikan informasi kepada pengguna produk tembakau altenatif agar paham dampak yang ditimbulkan bagi kesehatan,"pungkas Aryo.[ted]

Tag : kesehatan

Komentar

?>