Senin, 18 Desember 2017

Tiga Pakar Unair Bicara Formula Alternatif Atasi Revolusi Ekonomi Global

Jum'at, 03 Nopember 2017 09:58:18 WIB
Reporter : Fahrizal Tito
Tiga Pakar Unair Bicara Formula Alternatif Atasi Revolusi Ekonomi Global

Surabaya (beritajatim.com) - Guna mengatasi kemiskinan atau mengurangi kesenjangan sosial yang masih terjadi di perkotaan, tiga pakar asal Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ungkap formula alternatif dalam menghadapi revolusi ekonomi global di era kekinian.

Dalam gelaran yang di gelar Pusat informasi dan Humas (PIH) Unair dengan tajuk inovasi guru besar itu melibatkan pakar Sosiolog Prof Bagong Suyanto, guru besar Fakuktas ekonomi bisnis Prof. Badri Munir Sukoco dan Prof Suryanto serta dipandu Sukowidodo.

Pakar Sosiologi Unair Prof Bagong Suyanto sarankan pemerintah perlu mencoba program alternatif yakni tidak selalu memarginalkan para pedagang kali lima (PKL), namun lebih nengutamakan langkah yang halus seperti lebih merangkul para PKL dan mencarikan solusi.

"Jika satu PKL di Surabaya dan tidak ada kebocoran dana retribusi menyumbang Rp5.000 bagi Surabaya, berapa dana PAD Surabaya? Tapi itu tidak akan terjadi jika PKL dianggap sebagai gangguan ketertiban kota yang terjadi digusur, tidak dianggap sebagai untuk membangun kota," kata Bagong.

Migran miskin di kota harusnya bisa mendapat pelayanan baik di kota. Bagong mencontohkan saat dirinya mendapatkan bantuan kredit dari pemerintah untuk rumah, namun orang miskin tak mendapatkan hal yang sama dan harus membangun sendiri untuk bisa memenuhi kebutuhannya.

Surabaya, diakuinya semakin indah dengan beberapa program Green and Clean dari Pemkot, namun menurutnya semakin memarjinalkan orang miskin yang ada di kota itu.

"Ketika Surabaya dibuat program trotoar sampai menerima penghargaan internasional, pertanyaannya bolehkah orang miskin berjualan di trotoar? Kota ini makin indah tapi juga makin memarjinalisasi orang miskin," ujarnya.
 
Dia memberi saran untuk bisa mengatasi kemiskinan, pejabat harus berempati dan harus belajar dari orang miskin. "Selama ini kita mengajari orang miskin. Yang dilakukan itu untuk orang miskin," tutur dia.

Prof. Badri Munir Sukoco, dalam menghadapi ekonomi  global institusi pendidikan tinggi perlu membangun startup Eco-System dalam menyambut revolusi industri.

“Oleh karena itu, pendidikan tinggi memiliki peran penting dalam membangun mahasiswanya untuk kreatif dan saling berinteraksi dengan yang lain supaya bisa berinovasi," tegasnya.

 Prof. Dr. Suyanto, dalam menghadapi revolusi industri sangat dibutuhkan modal sosial yang berupa lembaga, jejaring, trust, nilai dan norma serta sikap.

“Dengan adanya modal sosial maka dapat dijadikan sebagai kunci utama atau kekuatan untuk bisa mengalahkan yang lain,” tandasnya.

Sementara itu Sukowidodo yang juga kepala PIH Unair mengaku talkshow dan dialog seperti ini akan aktif digelar, demi mencarikan solusi-solusi permasalahan yang timbul di masyarakat.

"Kita nantinya akan mencari semua pakar yang ada di Unair dan membahas topik terhangat yang saat unu terjadi di masyarakat," tandas suko panggilan akrabnya. (ito/kun)

Tag : unair

Komentar

?>