Sabtu, 18 Nopember 2017

Ada Pesantren Khusus Psikotik dan Pecandu Narkoba di Mojokerto

Rabu, 18 Oktober 2017 11:56:32 WIB
Reporter : Misti P.
Ada Pesantren Khusus Psikotik dan Pecandu Narkoba di Mojokerto

Mojokerto (beritajatim.com) - Di Mojokerto ada pesantren khusus untuk psikotik dan pecandu narkoba. Pesantren yang diberi nama dengan Pondok 99 Dusun Pandantoyo, Desa Pandankrajan, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto merawat puluhan orang yang mengalami gangguan jiwa dengan metode islami.

Pondok 99 tersebut didirikan Suwoto (66) bersama Sriasih pada tahun 1999 lalu. Awalnya, pondok yang didirikan untuk nyantri seperti pondok pesantren pada umumnya. Namun, seiring berjalannya waktu, pemilik merasa kasihan melihat orang-orang yang mengalami gangguan jiwa terlantar di pinggiran jalan.

Sehingga pondok itu kini dijadikan tempat perawatan orang-orang psycho. Tak hanya pria dan wanita dewasa saja yang dirawat, melainkan juga anak-anak yang baru beranjak dewasa. Tidak ada metode khusus dalam merawat para 'santri' ini, mereka mengajari mereka untuk sholat lima waktu berjamaah.

Pengasuh Pondok 99, Sriasih mengatakan, selain diajarkan sholat lima waktu berjamaah, juga diajarkan shalat sunah seperti shalat tahajud. "Sebenarnya mereka punya tata krama, jadi sifat dasar itulah yang selalu kami kembangkan disini. Lihat saja gak ada yang pernah marah-marah," ungkapnya, Rabu (18/10/2017).

Masih kata Sriasih, mayoritas penghuni di Pondok 99 lebih banyak didominasi oleh para penderita psikotik dibandingkan dengan gangguan jiwa. Jika sudah sakau, tak jarang penghuni Pondok 99 suka berteriak-teriak. Menurutnya, penghuni kebanyakan diantarkan keluarga sendiri dan banyak sengaja ditinggal di Pondok 99.

"Semuanya tergantung sama keluarga, ada yang sudah sembuh tapi keluarga masih ingin menitipkan di sini. Itu juga ada. Tapi kami tidak bisa merawat lebih banyak karena kami hanya punya tujuh ruangan kamar dan satu mushala. Selain keterbatasan ruangan, juga karena tenaga," ujarnya.

Sriasih menjelaskan, saat ini Pondok 99 menampung psikotik sebanyak 35 orang. Satu ruangan untuk kamar perempuan dan enam lainnya untuk laki-laki, sementara itu untuk biaya perawatan, pengasuh mendapatkan uang dari keluarga penderita. Setiap harinya, satu orang pasien mendapatkan jatah Rp 25 ribu.

"Mereka mendapat tiga kali makan, ada sayur, lauk, nasi, susu, buah serta cemilan dan beberapa hal lainnya. Kami memberikan yang terbaik kesembuhan mereka," tegasnya.[tin/kun]

Komentar

?>