Selasa, 24 Oktober 2017

Mahasiswa UKWMS Ciptakan Alat untuk Pengrajin Kerupuk

Senin, 09 Oktober 2017 19:43:12 WIB
Reporter : Fahrizal Tito
Mahasiswa UKWMS Ciptakan Alat untuk Pengrajin Kerupuk

Surabaya (beritajatim.com) — Menyiasati musim penghujan yang sebentar lagi datang, tak jarang para pengusaha kerupuk, ikan asin dan makanan kering lainnya​ mengeluhkan hasil produksinya yang tak lagi maksimal.

Namun, dengan perkembangan jaman mereka tak harus lagi mengusap peluh dan menggulung tikarnya dalam mencari rezeki.

Terlebih, mahasiswa sebagai pencari solusi masalah yang di masyakarat, tidak mungkin berpangku tangan. Seperti halnya yang diciptakan mahasiswa Jurusan Teknik Elektro, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS). Fandri Christanto, menciptakan alat pengering kerupuk otomatis yang mengombinasikan antara energi listrik dan energi api yang dihasilkan dari LPG.

"Bila mengeringkan kerupuk, alat ini hanya membutuhkan waktu 90 menit saja. Dan juga bisa​ menampung 50 kg sekaligus dalam sekali kerja," ungkap Fandri, Senin (9/10/2017).

Ia menjelaskan alat yang telah meraih gelar juara 3 dan juara harapan pertama dalam Lomba Pengolahan Hasil Perikanan dan Teknologi Tepat Guna yang diadakan oleh Pemerintah Kota Surabaya itu, tidak memerlukan lahan luas seperti saat menjemur di bawah sinar matahari.

“Alat pengeringan krupuk itu berukuran 120 x 260 cm, dengan tinggi sekitar 240 cm. Alat ini dirancang untuk mampu menampung sekitar 50 kilogram bahan krupuk basah, sementara untuk pengeringan ini dilakukan menggunakan bahan bakar LPG untuk pemanasnya, sedangkan listrik digunakan untuk menyalakan sebuah blower dan sistem otomasinya saja," paparnya.

Hanya membutuhkan daya listrik sebesar 72 watt dan 1 tabung LPG, tambahnya. Alatnya dapat mengeringkan krupuk 50 kilogram dengan jangka waktu hanya 90 menit saja. "Tingkat kekeringan kerupuk bisa diatur. Untuk LPG asumsi 3 kilogram, kita bisa pakai selama untuk tiga 3 kali pengeringan, 1 tabung LPG kurang lebih menghasilkan (memanaskan) 150 kilogram krupuk,” ungkapnya.

Mahasiswa kelahiran Mojokerto ini, mengatakan bahwa ide awal terciptanya alat ini didasari usaha orang tuanya sebagai pengusaha kerupuk di Mojokerto, saat itu  cuaca sering hujan yang tidak menentu dan matahari yang tidak bersinar secara maksimal.

"Saya melihat orang tua saya itu kalau musim hujan susah untuk mengeringkan krupuk, dan lagian kalau kita pakai energi konvensional, matahari, itu pasti akan membutuhkan waktu yang lama dan tempat yang luas. Nah maka dari Karena itu, saya dan beberapa dosen pendamping berinovasi untuk membuat alat pengering ini,”ungkapnya.

Andrew Juono, dosen pembimbing mengatakan, metode pengeringan memanfaatkan angin panas dipastikan tidak memakan energi yang besar, baik listrik maupun bahan bakar LPG.

“Mesin ini ada tiga bagian, ada rak pengeringan, ada rak pengarahnya, ada angin panasnya. Jadi metode yang kita pakai itu, metode pengeringan dengan menggunakan angin panas, nah angin panasnya itu yang diputarkan kembali untuk dimasukkan kembali mengeringkan, sehingga tidak ada angin panas yang terbuang, sehingga bisa diputar lagi, sehingga sistem ini menjadi lebih hemat,” ulasnya.

Andrew Joewono mengatakan, desain sederhana serta pengoperasian yang mudah, membuat alat pengeringan ini dapat dimanfaatkan oleh para pelaku pemilik usaha kecil. Terutama Pembuatan alat ini tidak memerlukan biaya terlalu tinggi, karena memanfaatkan bahan yang sudah tidak terpakai.

“Memang mesin ini didesain untuk bisa membantu banyak UMKM, kelompok-kelompok mikro kecil, untuk usaha-usaha yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” imbuhnya.

Tidak hanya dapat digunakan untuk pengeringan bahan krupuk, alat pengering ini mampu dimanfaatkan oleh masyarakat yang memiliki usaha pembuatan ikan asin, serta usaha lain yang memerlukan sistem pengeringan cepat.

“Karena media alat ini merupakan menggunakan pengeringan dengan angin panas, berarti yang bisa dilakukan digunakan mulai dari penjemuran ikan, kalau mauuntuk dijadikan ikan asin, atau kripik, lalu model krupuk, sampai kita pernah uji coba dengan model laundry. Jadi kalau kondisi matahari tidak bagus, setelah cuci, masukkan 15 sampai 20 menit kita dapat hasil yang kering,” kata Andrew. [ito/but]

Tag : ukwms

Komentar

?>