Sabtu, 18 Nopember 2017

Pengakuan Mengejutkan Sopir Angkot Gratis di Banyuwangi

Rabu, 13 September 2017 09:59:56 WIB
Reporter : Rindi Suwito
Pengakuan Mengejutkan Sopir Angkot Gratis di Banyuwangi

Banyuwangi (beritajatim.com) - Mulai 29 Juli 2017, angkutan gratis untuk pelajar diluncurkan oleh Pemerintah Kabuapten Banyuwangi. Tujuannya, tidak lain untuk mempermudah akses transportasi, mobilitas menuju ke sekolah ataupun untuk menekan angka kecelakaan pelajar di jalan raya.

Program ini cukup baik diterapkan di perkotaan yang dinilai memiliki kepadatan lalu lintas. Bahkan cukup membantu para pelajar yang notabene sering mendapat hambatan saat menuju ke sekolah.

Siang itu, sejumlah awak angkot tengah menunggu jadwal untuk menarik penumpang di Terminal Brawijaya. Beberapa di antaranya terlihat bersiap memasang pamflet bertuliskan 'Angkutan Pelajar Gratis'. Terang saja, karena saat itu waktu telah menunjukkan pukul 12.15 WIB, saatnya mereka mulai menunaikan tugasnya.

Tak lama berselang, sopir angkot bernama Amin mendapat laporan dari kawan angkot lain. Ia mendapat kabar beberapa pelajar dari sekolah yang tak jauh dari terminal telah keluar gedung sekolah. Mereka mengular di sepanjang trotoar jalan Brawijaya itu.

Tanpa pikir panjang, putung rokok yang tinggal satu hisapan tak lagi dirasa lagi. Ia pun bergegas menggeber si kuning butut itu menuju ke sekolah tujuan.

Sesampainya di lokasi, memang betul banyak anak sekolah yang berjajar rapi di sepanjang jalan. Tapi anehnya, mereka lantas tak memperhatikan mobil warna kuning yang berlabel gratis itu.

Entah apa yang dinanti. Seolah mereka tak tertarik dengan pesona mobil berwarna kuning itu, walau iming-iming bakal diantar ke tempat tujuan dengan gratis. Meski sang sopir telah menunggu sejengkal waktu, hanya segelintir pelajar saja yang memilih masuk ke dalam mobil. "Ya sepi yang naik, ini hanya dapat dua anak saja," kata Mujiono sambil melempar senyum.

Pemandangan sama juga tampak pada iringan angkot serupa di belakangnya. Begitu mendapat penumpang, mereka pun segera bergegas menuju ke tempat tujuan. Maklum saja, ternyata mereka rata-rata sudah mengetahui siapa dan jumlah penumpangnya. "Ini harus segera diantar, kalau selesai bisa narik lagi," katanya.

Penumpang angkot ini, ternyata adalah para pelajar yang biasa ikut alias pelanggan setia trayek yang dilalui. Jadi mereka bukanlah orang atau pelajar baru yang memanfaatkan angkot gratis tersebut. "Langganan saya itu dulu banyak, jadi sudah tahu siapa saja dan tujuannya kemana," ungkapnya.

Benar saja, beberapa penumpang pelajar mengungkapkan lebih memilih naik angkot gratis karena terbiasa. Terlebih, orang tua yang sibuk tak lagi menyempatkan waktu untuk mengantar mereka ke sekolah.

"Tidak setiap hari. Tapi cukup membantu. ya kadang dijemput. Kadang berangkat diantar terus pulangnya naik angkot. Dari sekolah tidak ada larangan untuk naik motor. Naik angkot, alasanya lebih mudah dan aman karena diantar sampai rumah. " aku Riski Amalia Oktovani

Pengakuan yang sama dilontarkan oleh pelajar lain, Ghita Dwi Kristanti. "Ikut angkot gratis karena orang tua nggak ada yang bisa antar. Tapi alhamdulillah uang sakunya tambah," ungkapnya.

Hemat saja, sebulan berselang setelah diluncurkannya program angkot gratis, nampaknya respon belum maksimal. Mayoritas angkot berlabel gratis tak penuh terisi. Beberapa mobil bertrayek kuning tersebut tak banyak diminati.

Alasannya pun beragam. Sopir angkot menyebut karena kurangnya sosialisasi terhadap siswa. Bahkan, mulai dari tingkat kesadaran orang tua, pihak sekolah maupun kepolisian yang dinilai belum sinergi.

"Seharusnya pihak sekolah itu lebih tegas lagi, kalau nggak boleh bawa motor ya sudah gak boleh saja. Orang tuanya itu juga harus diberi tahu mengenai ini. Pak Polisi juga begitu, tindak saja," kata Amin, sopir angkot saat ditemui di Terminal Brawijaya, Banyuwangi.

Tapi, secara pribadi dirinya mendukung penuh atas program angkot gratis ini. Karena, secara hitungan kasarnya mereka cukup terbantu atas perolehan hasil yang didapat. Meski, banyak yang beranggapan angka yang diberikan masih kurang.

"Kontrak setiap angkot yang kerja sama itu Rp 1,3 juta perbulan. Dipotong BBM Rp 400 ribu, ditambah setoran ke juragan Rp 400 ribu sisanya buat kita Rp 500 ribu. Itu yang kita dapat, jadi sebenarnya masih kurang," ungkapnya.

Padahal, di samping mendapat kwajiban menarik angkutan pelajar gratis, mereka masih bisa menarik penumpang umum di sela waktu. "Kalau bisa kontraknya sampai Rp 2 juta, jadi kita bisa dapat sisanya untuk pemasukan pribadi cukup," kilahnya.

Normalnya, di luar jam angkot pelajar gratis rata-rata setiap angkot mendapat pemasukan Rp 100 ribu perhari. Artinya, mereka yang telah mendapat kontrak tak lagi memikirkan biaya setoran. Alhasil, penghasilan mereka tetap penuh di kantong. Jika dihitung, rata-rata mereka mendapat hasil Rp 3 juta + Rp 500 ribu perbulan.

"Tapi kita terbuka kalau ada hasil lebih ya kita tetap tambah setorannya. Setoran biasanya setiap hari," terang bapak 5 putra ini.

Program angkutan pelajar gratis ini berlaku beroperasi pada jam-jam tertentu. Mulai pukul 06.00 WIB, sedangkan siangnya pukul 12.30 WIB atau berdasarkan situasi. "Misalnya kalau ada rapat pulang pagi, kita sudah dihubungi," ungkapnya.

sejauh ini, jumlah angkutan pelajar gratis sebanyak 32 armada yang akan beroperasi setiap hari efektif dengan 10 trayek berbeda. Penggunan jasa ini juga dapat membedakan angkutan ini dari stiker 'Angkutan Pelajar Gratis' di bagian depan mobil.

Sorotan lain, sayangnya program ini masih hanya berlaku untuk angkutan pelajar di perkotaan. Sedangkan bagaimana nasib pelajar di daerah atau di pinggiran kota?. Sudahkah ada solusi bagi mereka. [rin/suf]

Komentar

?>