Selasa, 20 Nopember 2018

2017, Jumlah Penderita Gizi Buruk di Bojonegoro Sebanyak 19 Balita

Senin, 04 September 2017 20:27:35 WIB
Reporter : Tulus Adarrma

Bojonegoro (beritajatim.com) - Sebanyak 19 balita yang ada di Bojonegoro mengalami sakit gizi buruk. Penyakit gizi buruk disebabkan bukan lantaran orang tersebut berada digaris kemiskinan yang parah, sehingga sampai menyebabkan
sebuah kelaparan.

Menurut Humas Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bojonegoro, Suharto, gizi buruk tersebut terjadi salah satunya karena pola makan yang diberikan orang tua kepada anaknya tidak teratur atau tidak berpola. "Banyak orang tua tidak memperhatikan pola makan anaknya serta kebutuhan gizi tidak terpenuhi," ujarnya, Senin (4/9/2017).

Selain itu, kata Suharto, gizi buruk tersebut juga disebabkan karena sakit bawaan juga sakit jantung. Menurutnya, yang sulit di sembuhkan penyakit penyerta atau penyakit bawaan. "Seperti BBLR (berat bayi lahir rendah) dengan berat badan dibawah normal 2,7 kg," imbuhnya.

Dijelaskanpula, pemberian makanan termasuk tidak berpola makanan untuk orang tua diberikan kepada anaknya, padahal bukanlah makanan khusus untuk balita. Bahkan, banyak juga ditemukan di tengah masyarakat bayi di bawah usia enam bulan sudah diberi makan. "Banyak ibu-ibu yang mempunyai kesadaran sangat rendah, sehingga masih malas untuk memberi makanan khusus untuk balitanya," ucapnya.

Permasalahan gizi buruk masih menghantui sebagian daerah di Bojonegoro. Berbagai program penanggulangan gencar dilakukan demi menekan jumlah penderita gizi buruk. Pada tahun 2011 sampai akhir bulan Juli 2017, tren prevalensi gizi buruk terus menurun. Dari jumlah 110 menjadi 19 balita. "Kita harapkan tahun ini juga akan terus menurun," katanya.

Data di Dinas Kesehatan, pada tahun 2011 sebanyak 110 balita menderita gizi buruk. Pada tahun 2012 ada 65 balita, tahun 2013 ada 48 balita, tahun 2014 ada 34 balita. Sedangkan tahun 2015 ada 27 balita dan tahun 2016 menurun menjadi 21 balita. Kemudian pada akhir bulan Juli 2017 ada 19 balita menderita gizi buruk.

Penurunan jumlah penyakit gizi buruk ini, lanjut dia, karena adanya kepedulian semua pihak terhadap permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat, sehingga masalah tersebut bisa cepat teratasi dengan baik. Pihak Dinkes selalu menekankan kepada ibu-ibu agar memberi pola makanan yang bagus.

"Selain itu, Dinkes juga mendirikan sebuah pos gizi, penyuluhan di semua posyandu yang bertujuan untuk mengajari para ibu-ibu untuk membuat makanan khusus balita sehingga kedepan bisa diterapkan," terangnya.

Dari 28 kecamatan di Kabupaten Bojonegoro, gizi buruk terbanyak di Kecamtan Tambakrejo. Ada empat balita dibawah lima tahun terkena gizi buruk. "Orang tua harus peduli terhadap gizi balita," pungkasnya. [lus/kun]

Tag : gizi buruk

Komentar

?>