Sabtu, 21 Oktober 2017

Raih Anugerah Iptek Adibrata 2017

Dosen ITS Ubah Limbah Batu Bara Jadi Paving

Jum'at, 11 Agustus 2017 00:00:09 WIB
Reporter : Fahrizal Tito
Dosen ITS Ubah Limbah Batu Bara Jadi Paving

Makassar (beritajatim.com) - Dosen Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr ENG Januarti Jaya Ekaputri ST MT meraih anugerah Iptek Adibrata pada peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-22 di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (10/8/2017).

Hal itu menyusul penelitian yang dilakukan Januarti, yakni mengurangi ancaman bahaya​ yang berasal dari limbah batu bara dengan menciptakan beton Geopav atau paving non-semen yang yang terbuat dari limbah batu bara.

"Kelebihan inovasi ini adalah kekuatan tekan paving beton geopolimer bisa mencapai 50 MPa dalam suhu ruang di umur 7 hari. Sementara kekuatan ini dicapai di umur 28 hari pada paving konvensional. Selain itu, prosesnya sederhana dan murah, jika dibandingkan dengan paving konvensional," terang Dr ENG Januarti Jaya Ekaputri ST MT usai terima penghargaan sebagai peneliti dengan inovasi teknologi terbaik di Indonesia.

Ia telah menganalisa kandungan beton yang dibuat tidak mengandung racun yang berbahaya. Berdasarkan SNI 03-0691-1996 Geopav dikategorikan dalam mutu A. "Inovasi ini juga banyak yang mengakui atas kemanfaatannya sebagai upaya teaching factory, riset ini masih terus dikembangkan ke skala industri dengan mengundang PLTU se-Indonesia untuk mengikuti alih teknologi di ITS," urai Alumnus Tokyo University ini.

Ia mengungkapkan, geopav dikenal sebagai material non-semen. Yaitu abu yang dihasilkan dari pembakaran batubara atau kerap disebut Fly Ashdan Bottom Ash. "Penelitian tentang beton geopolimer di Indonesia sudah saya lakukan sejak tahun 2005. Tetapi sayang sekali belum dimanfaatkan di industri," ungkapnya usai menerima penghargaan didampingi Rektor ITS.

Kurangnya minat industri karena selama ini sangat sedikit kerjasama antara peneliti dengan industri pemanfaat hasil riset ini. "Selain itu, kendala terbesar adalah fly ash dan bottom ash dikategorikan sebagai limbah B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya) menurut PP 101 tahun 2014," ungkapnya.

Ia mengatakan, limbah batu bara saat ini yang dihasilkan industri tersebut mencapai 1 ton per hari. Sehingga pasokan abu untuk riset semakin meningkat dan hasil riset semakin cepat didapatkan. Diantaranya seperti didapatkan pendaftaran paten atas Komposisi batako dan paving geopolimer dari bahan abu batu bara limbah pabrik dan metode pembuatannya.

"Penelitian tentang paving dan bata geopolimer ini awalnya bekerjasama dengan PT Kasmaji Inti Utama, pabrik penghasil bahan kimia, di tahun 2014. Pabrik ini kesulitan mengelola limbah batu baranya karena kendala aturan limbah B3 tersebut," ungkap ibu 3 anak ini.

Rencananya, riset akan dikembangkan untuk pengcoran jalan menggunakan fly ash dan bottom ash. Karena kualitas fly ash yang sangat tergantung dari mutu batubara yang dipakai. ITS berupaya untuk membuat kontrol kualitas dalam pemanfaatan limbah ini di skala industri.

"Saat ini, penelitian mengenai Geopav masih terus berlanjut dengan dana kemenristekdikti dan bekerja sama dengan PLTU Suralaya, Banten," tukasnya.

Sementara itu, Rektor ITS Prof Joni Hermana mengungkapkan, dalam Hakteknas ini banyak yang ingin ditekankan ITS sebagai salah satu kontributor inovasi yang dilakukan berdasarkan tema-tema yang terjadi di masyarakat. "Penghargaan ini bentuk motivasi bagi peneliti lain di ITS untuk terus berkarya," tegasnya. [ito/suf]

Tag : its penelitian

Komentar

?>