Selasa, 22 Agustus 2017

Deteksi Boraks, Mahasiswa Uniba Gunakan Kulit Buah Naga

Selasa, 08 Agustus 2017 07:31:06 WIB
Reporter : Rindi Suwito
Deteksi Boraks, Mahasiswa Uniba Gunakan Kulit Buah Naga

Banyuwangi (beritajatim.com) - Buah naga, begitu tak asing di telinga warga. Buah ini dikenal begitu kaya manfaat. Sudah barang tentu di bidang kesehatan, buah dari jenis kaktus tersebut diketahui mampu mencegah diabetes, meningkatkan daya tahan tubuh dan juga dapat melancarkan pencernaan.

Belakangan ada hal menarik, karena tidak hanya buahnya saja yang bermanfaat, melainkan kulit buah naga juga berguna. Siapa sangka, ternyata kulitnya dapat mendeteksi zat berbahaya seperti boraks.

Namun sayangnya kulit buah naga ini jarang dikonsumsi maupun dimanfaatkan untuk hal yang produktif. Mayoritas kulit buah naga hingga kini banyak dijadikan limbah. Berawal dari situlah kemudian sebuah Program Studi Kimia pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas PGRI Banyuwangi (Uniba) menemukan ide memanfaatkan kulit buah naga sebagai bahan penelitian.

Adalah Qurotta 'ayun salah satu dosen Kimia yang menjadi pelopornya. Menurutnya, kulit buah naga kaya kandungan antioksidan dan senyawa metabolit sekunder. Namun, untuk membuktikan kulit buah naga benar-benar berguna tentunya perlu pengembangan penelitian.

Dengan berbagai inovasi dan kreatifitas yang dimilikinya, alumni Universitas Brawijaya Malang ini mencoba melakukan sebuah esperimen. Bersama sejumlah mahasiswanya, ia menggunakan kulit buah atau nama lain 'Hylocereus Costaricensis' sebagai bahan baku.

Awalnya, bahan yang telah disiapkan sedemikian rupa selanjutnya dilakukan ekstraksi untuk diambil antosianinnya. Hasil ektraksi antoksianin dari kulit buah naga tersebut, dibuat dalam bentuk test kit untuk mempermudah penggunaannya. Cara mengaplikasikannya, Ia menambah beberapa bahan kimia lain untuk mendeteksi adanya kadar boraks pada makanan.

Buktinya cukup menarik, hasil ekstraksi antosianin mampu mengetahui konsentrasi boraks pada makanan berdasarkan warna yang dihasilkan. Penelitian itu membuktikan, jika makanan  mengandung boraks akan memberikan warna merah yang lebih lama. Sedangkan makanan tanpa boraks akan muncul warna terang.

Penelitian ini juga mengikuti optimasi waktu dan suhu maserasi terhadap total antosianin. Serta diikuti oleh pH terhadap pergeseran puncak absorbansi. Formulasi analisis boraks itu mulai dari 100 - 1000 parts per milion (ppm).

"Semakin tinggi berarti semakin banyak kandungan boraks pada makanan tersebut. Titik aman kandungan boraks itu antara 0 - 100 ppm, tapi lebih sehat jika tidak mengandung boraks sama sekali," jelasnya.

Banyak studi kasus, kata Qurotta, sering terjadi orang keracunan makanan salah satunya disebabkan oleh bahan makanan tambahan. Bahkan, akhir-akhir ini penggunaan bahan makanan tambahan yang dilarang seperti boraks untuk pengawet makanan banyak sekali ditemukan.

"Itu akan menyebabkan awalnya akan mual, muntah, diare, kejang perut, demam pusing, hingga secara berkelanjutan akan merusak sitem pencernaan maupun fungsi hati," terangnya.

Hingga kini, penelitian mengenai kulit buah naga oleh Prodi Kimia Fakultas MIPA Uniba Banyuwangi ini masih terus dikembangkan dan disempurnakan. Hingga nantinya hasil ekstraksi kulit buah naga dapat digunakan sebagai hasil produksi yang mampu dimanfaatkan oleh
masyarakat luas.

"Pihak kampus cukup mendukung dengan penelitian kita. Ini juga didukung dari ristekdikti. Memang belum diuji lab, tapi sudah terlihat hasil validasinya. Rencananya laporan hasil ke ristekdikti November," pungkasnya. [rin/suf]

Komentar

?>