Selasa, 25 Juli 2017

Ancaman Radikal, Mensos: 9 Persen Remaja Indonesia Sudah Berpikir Anti NKRI

Sabtu, 15 Juli 2017 20:00:45 WIB
Reporter : Fahrizal Tito
Ancaman Radikal, Mensos: 9 Persen Remaja Indonesia Sudah Berpikir Anti NKRI

Surabaya (beritajatim.com) - Bahaya yang diakibatkan oleh paham keagamaan radikal-ekstrem saat ini semakin menerkam Indonesia. Pasalnya. penelitian menyebutkan sudah ada sembilan persen remaja Indonesia berfikir anti NKRI.

Hal tersebut diungkapkan Menteri Sosial Republik Indonesia Khofifah Indar Parawansa dalam acara silaturahim dan halalbihalal Yayasan Khadijah Surabaya, Sabtu (15/7/2017).

"Beberapa hasil survei menyebutkan bahwa hampir sembilan persen remaja, siswa dan ada mahasiswa trennya yang memiliki permakluman pada konsep-konsep anti Pancasila dan lebih menerima konsep sistem khilafah yang kerap disebarkan oleh kelompok keagamaan bercorak radikal-ekstrem," kata Khofifah.

Dalam upayanya untuk mingikis dan mengurangi angka tersebut, Perempuan yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Yayasan Taman Pendidikan dan Sosial Nahdlatul Ulama (YTPSNU) Khadijah Surabaya ini akan melakukan penguatan kepada setiap tena pendidik yang mengajar di dalam naungan yayasannya.

"Saya sebagai Ketua Yayasan, saat ini lebih menekankan dan melakukan penguatan pola Islam yang diajarkan di Indonesia kepada para guru ustad atau ustadzah yang mendidik di yayasan kami," ujar Ketua Umum Muslimat Nahdlatul Ulama itu, juga .

Kenapa kepada Guru?, menurutnya peran seorang guru adalah memiliki titik penting dalam menjaga anak didiknya agar tidak tersusup paham-paham keagamaan yang menyimpang.

"Guru fisika, guru kimia, olahraga, guru biologi, harus membangun sinergitas di antara program-program yang memiliki muatan keagamaan. karena kita telah memiliki konsep bahwa Yayasan ini merupakan sekolah yang diciptakan menjadi pesantren kota untuk proses "tafaqquh fid din" (penegakan agama)," terang Ketua Umum PP Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) itu.

Dengan begitu, tambahnya. Ketika lulus nanti semua siswa yang telah di didik nantinya akan memiliki hati dan pikiran yang  berpondasi NKRI. "Karena di sini kami tidak hanya menyiapkan siswa dari SD, SMP, SMA bisa ke perguruan tinggi. Tapi, Kualitas pendidikan yang terintegritas keagamaan dan kebangsaan dalam bermasyarakat," paparnya.

Disisi lain, Khofifah juga mengingatkan kepada para orang tua agar selalu mengontrol aktifitas anak, terutama saat menggunakan alat komunikasi smartphone. Karena dari sumber tersebut anak-anak akan mudah sekali terkontaminasi terhadap pemahaman keagamaan yang tidak jelas.

"Karena saat ini aplikasi media sosial sering disusupi dengan pengetahuan agama yang cenderung menyimpang oleh kelompok-kelompok tertentu. Memang, Saat ini untuk belajar dari internet itu sangat gampang, termasuk juga belajar tentang agama tapi jika sumbernya tidak jelas "sahih" tidaknya maka pengetahuannya akan terpengaruh juga," tandas Khofifah. (ito/kun)

Komentar

?>