Rabu, 27 September 2017

STAIN Pamekasan Gelar Workshop I Terjemahan Al-Qur'an

Sabtu, 08 Juli 2017 08:30:32 WIB
Reporter : Samsul Arifin
STAIN Pamekasan Gelar Workshop I Terjemahan Al-Qur'an

Pamekasan (beritajatim.com) - Tim Penerjemahan al-Qur'an ke dalam bahasa Madura STAIN Pamekasan menggelar workshop di Hotel Front One Jl Jokotole, Pamekasan, Jum'at (7/7/2017) malam.

Workshop yang rencananya digelar selama tiga hari berturut-turut, yakni hingga Minggu (9/7/2017) mendatang. "Workshop ini kita gelar untuk mengevaluasi hasil penerjemahan al-Qur'an ke dalam bahasa Madura, khususnya untuk 10 juz pertama," kata salah satu anggota tim penerjemah Mohammad Kosim.

Selain itu, tampak hadir perwakilan Puslitban Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI. Sekaligus sebagai upaya evaluasi dan meminta masukan dari berbagai pihak, di antaranya dua perakilan dari Pakem Madduh Madura, HM Dradjid dan Muakman.

"Sangat penting menghadirkan para ahli dalam penerjemahan al-Qur'an ke dalam bahasa Madura dari berbagai latar belakang, ada yang ahli tafsir Al-Qur'an dan lainnya. Termasuk ahli bahasa Madura dari perwakilan Pakem Madduh," sambung pria yang juga menjabat sebagai Ketua STAIN Pamekasan.

Pihaknya berharap dengan melibatkan para ahli diharapkan nantinya bisa menghasilkan beberapa rekomendasi penting dan mempermudah kinerja tim penerjemah. "Bagaimanapun dengan melibatkan para ahli nantinya ada rokomendasi demi mempermudah kerja tim dalam mengerjakan tugas penerjemahan," harapnya.

Sebelumnya pihaknya mengaku banyak tantangan dalam menerjemahkan al-Qur'an ke dalam bahasa Madura. Sehingga dibutuhkan konsentrasi penuh dari para ahli yang memiliki berbagai macam bidang konsentrasi keilmuan.

"Memang kita mematok target menerjemahkan ini selesai dalam waktu setahun ke depan sejak penandatanganan MoU (Memorandum of Understanding) lalu. Tahun berikutnya baru validasi," ungkapnya.

Tidak hanya persoalan deadline, kendala lainnya berupa banyaknya kegiatan personal tim yang juga memiliki kesibukan masing-masing. Tidak terkecuali tugas sebagai akadamisi. "Jadi selain jam kerja, kita juga harus mengedepankan penyamaan persepsi yang tepat. Sehingga nanti hasilnya lebih komunikatif," jelasnya.

Selama ini pihaknya bekerja selama 5 jam setiap hari, terhitung mulai Senin hingga Rabu. Namun momentum Ramadan membuat mereka bekerja lebih ekstra dan tentunya menambah jam kerja dari sebelumnya. "Jadi selama Ramadan kita lebih inten, sekalipun kampus tetap masuk seperti biasa," sambung pria yang akrab disapa Kosim itu.

Penerjemahkan al-Qur'an ke dalam bahasa Madura, sebelumnya termotivasi dengan beberapa beberapa tarjemahan ke dalam bahasa daerah lainnya. Khususnya bahasa Jawa dan Sunda, padahal bahasa Madura masuk katagori penutur ketiga terbesar di Indonesia setelah Jawa dan Sunda. [pin/kun]

Komentar

?>