Senin, 20 Nopember 2017

Ini Kunci Sukses Ainur Ridho Juarai 'Chinesa Brigde'

Kamis, 22 Juni 2017 21:16:46 WIB
Reporter : Samsul Arifin
Ini Kunci Sukses Ainur Ridho Juarai 'Chinesa Brigde'
Ainur Ridho (kopyah putih) bersama ayahnya Achmad Qusairi

Pamekasan (beritajatim.com) - Ainur Ridho (16) mengaku bangga bisa mengharumkan nama baik Pondok Pesantren Maktab Nubdzatul Bayan Al-Majidiyah Palduding (Alpad) pada Kompetisi Bahasa Mandarin 'Chinesa Brigde' Internasional se Indonesia.

Sebab pada kompetisi yang digelar Badan Koordinasi Pendidikan Bahasa Mandarin Jakarta dan Pusat Pengembangan Bahasa Mandarin Universitas Al Azhar Jakarta, Kamis hingga Jum'at (15-16/6/2017). Ridho berhasil menjadi juara untuk katagori tingkat SMA dan sederajat.

Selama ini, pesantren cenderung identik dengan dengan kefasihan dalam berbahasa Arab. Namun prestasi yang ditorehkan Siswa Kelas X SMA Alpad justru terbilang langka, terlebih usia pesantren yang didirikan oleh KH Abdul Muin Ahmad Mahfuz Zayyadi (Kiai Bayan) baru berusia sekitar 8 tahun.

Bahkan sebagian orang jelas menilai berprestasi dalam bidang bahasa Arab bagi seorang santri merupakan hal yang lumrah. Namun jika prestasi tersebut ditorehkan dalam katagori bahasa Inggris apalagi bahasa Mandarin beserta penampilan khas negeri Tirai Bambu, terbilang jarang ditemui dan cenderung tabu.

"Keberhasilan ini berkat doa orang tua, guru, pengurus dan pengasuh yang terus memberikan dukungan dan semangat kepada kami untuk mengikuti kompetisi ini," kata Ainun Ridho, Kamis (22/6/2017).

Sebelumnya ia sempat menorehkan perstasi sebagai juara harapan 1 pada kompetisi Bahasa Mandarin tingkat Jawa Timur. Terlebih pada kompetisi tersebut, juara 1 hingga 3 diraih oleh siswa Tionghoa yang notabene sudah tidak lagi asing dengan bahasa Mandarin.

"Jadi kami mengikuti kompetisi bahasa Mandarin bukan sekadar meramaikan saja. Tapi dengan sungguh-sungguh, bagaimana saya bisa jadi juara," tegas anak keempat dari delapan bersaudara pasangan suami istri Achmad Qusyairi (51) dan Mutmainnah (40) warga Dusun Bringin, Desa Angsana, Kecamatan Palengaan.

Pada awalnya Ridho justru tidak terlalu tertarik untuk belajar bahasa Mandarin. Namun karena aturan santri harus membiasakan diri menggunakan bahasa Arab dan Mandarin dalam percakapan sehari-hari, ditambah dengan program kursus bahasa asing selama tiga bulan. Mambuat dirinya juga harus ambil bagian mengikuti program akselerasi.

"Awalnya belajar bahasa Mandarin cukup sulit, khususnya saat menulis maupun mengucapkan. Tapi lama kelamaan, menekuni bahasa Mandarin ini nikmat dan menyenangkan," jelasnya.

Selama mengikuti program bahasa Mandarin, setiap hari ia belajar selama lima jam di tiga waktu berbeda. Mulai pagi, siang dan sore hari. Kecuali saat libur program pesantren (Selasa dan Jum'at). "Kalau malam hari belajar membaca al-Qur'an dan belajar kitab kuning," imbuhnya.

"Setelah tiga bulan (menjalani program kursus bahasa Mandarin), waktu belajar mulai dikurangi dari jadwal semula. Awlanya lima jam setiap hari menjadi seminggu dua kali, pada Rabu dan Minggu sore," beber pemuda yang cenderung pemalu itu.

Pemuda yang tidak pernah memegang ponsel selama berada di pesantren itu, mengaku bersyukur bisa menguasai bahasa yang mulai dijadikan sebagai alternatif bahasa internasional. "Al-Hamdulillah kami bisa menambah teman, sekalipun masih harus banyak belajar lebih giat lagi," pungkasnya. [pin/but]

Tag : pesantren

Komentar

?>