Rabu, 28 Juni 2017

Tinggalkan Anak Cucu, 160 Lansia 'Nyantri' di PPDU

Minggu, 04 Juni 2017 15:47:07 WIB
Reporter : Yusuf Wibisono
Tinggalkan Anak Cucu, 160 Lansia 'Nyantri' di PPDU

Jombang (beritajatim.com) - Azan asar berkumandang dari masjid PPDU (Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang) Rejoso, Kecamatan Peterongan, Jombang, Minggu (4/6/2017). Suara panggilan untuk salat itu melantun merdu, merambat ke udara, menerobos ke kamar-kamar santri pondok yang berdiri sejak 1885 tersebut.

Suara azan itu membangunkan para santri yang sedang terlelap tidur. Suara azan itu pula yang masuk ke pemukiman warga sekitar, seolah memberikan kabar bahwa waktu salat asar telah tiba.

Satu per satu santri keluar dari kamar. Dengan mengenakan kain sarung mereka mendatangi masjid tua untuk salat asar berjamaah. Sementara di masjid tersebut kesibukan justru sudah terlihat sejak pagi.

Puluhan orang lanjut usia memadati ruangan. Mereka melakukan berbagai macam aktivitas. Ada yang sedang berzikir, ada yang membaca Al Quran, bahkan ada yang sekedar tidur-tiduran.

Kebanyakan dari mereka adalah para wanita yang usianya di atas 60 tahun. Uniknya, saat berada di masjid mereka membawa berbagai perbekalan. Mulai dari setumpuk pakaian, alat mandi, hingga perlengkapan beribadah.

Siapakah para wanitia tua itu? Ya, mereka adalah para santri lansia (lanjut usia) yang menetap di PPDU selama Ramadan. Jika bula puasa hendak berakhir, para santri 'dadakan' itu kembali ke rumah masing-masing.

Usai azan asar berkumandang, para santri lansia itu juga mengikuti salat berjamaah. Kemudian dilanjutkan dengan mengikuti pengajian Ramadan yang disampaikan oleh salah satu pengasuh PPDU, KH Cholil Dahlan.

Salah satu santri lansia itu adalah Sofiyah (67). Sejak tinggal di masjid PPDU, Sofiyah tidak lepas dari ibadah. Tangan kanannya tidak lepas dari untaian tasbih. Sementara mulutnya tak lelah mengucap zikir.

Warga Desa Sumberkarang, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto ini datang ke PPDU pada puasa hari kedua. Dia kemudian berkumpul dengan para lansia lainnya dari berbagai daerah. Setiap hari Sofiyah hanya beribadah dan beribadah.

Maka tidak heran, pada seminggu puasa, wanita dengan enam cucu ini sudah mengkhatamkan Al Quran sebanyak dua kali. "Kalau berada di pesantren ini, saya lebih fokus beribadah. Lebih banyak melakukan amalan selama Ramadan," ujar Sofiyah yang diamini rekan-rekannaya sesama lansia.

Sofiyah mengungkapkan, sudah tiga kali puasa ini dirinya nyantri di PPDU Jombang. Pada puasa sebelumnya, dia mampu mengkhatamkan Al Quran sebanyak lima kali. Sudah begitu, ibadah pendukung lainnya juga lebih fokus. Seperti zikir salat malam, hingga mengaji kitab.

Sofiyah datang diantar oleh anaknya. Ketika puasa hendak berakhir, warga Dlanggu ini akan dijemput oleh keluarganya. Soal makan, wanita dengan lima anak ini tidak pusing. Karena di sekitar PPDU banyak warung yang menyajika makanan.

"Jadi kalau sahur dan buka puasa, kita membeli di warung. Saat berangkat ke pesantren ini sudah diberi uang saku oleh anak saya," ujar Sofiyah yang dibenarkan oleh Nurhayati (65), santri lansia asal Desa Betek, Kecamatan Mojoagung Jombang.

Soal santri lansia di PPDU, KH Cholil Dahlan mengatakan, Ramadan kali ini terdapat 160 orang yang datang dari berbagai daerah. Jumlah tersebut tidak jauh berbeda dengan Ramadan tahun sebelumnya.

Karena banyaknya para lansia, mereka ditempatkan di dua lokasi. Pertama di masjid utama, kemudian kedua berada di asrama putri PPDU. Seluruh lansia itu selalu mengikuti kegiatan pengajian yang digelar di masjid induk.

Tradisi lansia nyantri di PPDU selama bula puasa itu menurut Cholil sudah berlangsung lama. Bahkan sudah menjadi tradisi turun temurun. "Sudah sejak zaman kakek saya dulu. Karena memang kebanyakan dari mereka adalah jamaah tarekat naqsabandiyah yang berpusat di PPDU," ujar Kiai Cholil.

Dia mengungkapkan, selama berada di pesantren, ratusan lansia itu mendapatkan berbagai macam materi. Mulai dari ibadah murni seperti salat, zakat, dan puasa, hingga menjalankan ibadah tambahan seperti zikir, kajian kitab, serta materi tentang akhlak.

"Pada pagi hari para lansia mengaji selama dua jam setelah salat duha. Kemudian mengaji lagi secara jamaah setelah asar selama satu jam. Kedatangan para lansia ini ingin melakukan ribat atau ibadah selama 24 sehari selama bulan puasa," ujar Kiai Cholil sembari mengatakan bahwa para lansia itu tidak ditarik biaya selama nyantri di PPDU. [suf/kun]

Komentar

?>