Minggu, 23 Juli 2017

Nasib Karyawan PT Merak Jaya Beton Kediri Terkatung Katung

Kamis, 18 Mei 2017 23:42:50 WIB
Reporter : Nanang Masyhari
Nasib Karyawan PT Merak Jaya Beton Kediri Terkatung Katung

Kediri (beritajatim.com) - Paska penyegelan, Selasa (16/5/2017) kemarin, nasib karyawan pabrik pembuatan bahan cor PT Merak Jaya Beton di Dusun Grompol, Desa Ngebrak, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri terkatung-katung. Mereka belum tahu kapan bisa bekerja kembali.

"Setelah peristiwa kemarin belum ada yang tahu kapan bisa bekerja lagi," ujar Arba (19) salah seorang karyawan asal RT 2 / RW1 Dusun Grompol ditemui di rumahnya, Kamis (18/5/2017) siang.

Tiga hari ini, Arba lebih sering menghabiskan waktunya di rumah. Rabu (17/5/2017) kemarin dia sempat diminta bekerja di pabrik lainnya yang ada di Kertosono, Kabupaten Nganjuk. Tetapi, karena banyak karyawan lainnya di sana, maka ia lebih banyak istirahat.

"Kemarin saya dihubungi supaya kerja di pabrik yang satunya di Kertosono. Tetapi, sewaktu datang sudah banyak pegawai lainnya. Semua pekerjaan sudah ada yang megang, akhirnya lebih banyak istirahatnya. Dan hari ini tidak ada panggilan apapun dari perusahaan," ungkap Arba.

Biasanya Arba memang menerima pemberitahuan dari karyawan lain ketika ada pekerjaan mendadak di pabrik. Sementara pegawai yang paling bertanggung jawab di pabrik Kediri tersebut adalah Bambang.

Biasanya Bambang memerintahkan Supriyono untuk memberitahu karyawan lainnya. "Kadang beristirahat sebentar, sudah dihubungi lagi ada pekerjaan. Setelah itu berangkat lagi," ucapnya.

Arba belum tahu kapan ada kepastian ia harus bekerja kembali. Saat ini dirinya hanya bisa menunggu panggilan dari pimpinan perusahaan. Dia berharap, bisa bekerja kembali dan tidak menganggur seperti sekarang ini.

Arba merupakan satu dari tiga karyawan PT Merak Jaya Beton yang berasal dari kawasan terdampak polusi debu. Ada dua teman sesama pekerja lainnya yaitu, Mahar Aminudin (30) warga RT 2/ RW dan Supriono, RT 3/RW 1.

Pemilik nama panjang Arba Saiful Aulia ini telah bekerja hampir satu tahun. Posisinya sebagai asisten produksi (aspro). Tugasnya yaitu, memarkirkan kendaraan angkutan bahan dan mengontrol bahan-bahan saat kegiatan produksi. Sesekali dia juga naik ke bak material untuk membuka sumpatan mesin oleh bahan material.

Arba mengaku, status bekerja sebagai karyawan kontrak. Saat awal masuk, perusahaan menyodori perjanjian kontrak kerja. Masa kontraknya selama perusahaan beroperasi yaitu, dua tahun sebagaimana perjanjian sewa lahan ke desa.

"Ada kontraknya, dan dapat seragam. Kontrak sepanjang pabrik beroperasi," akunya sembari mengingat-ingat.

Perusahaan menerapkan jam kerja karyawan selama delapan jam. Pegawai masuk mulai pukul 07.00 WIB dan pulang pukul 15.00 WIB. Namun, lebih sering sistem lembur. Sebab, kegiatan produksi kerap dilakukan malam hari.

Managemen pabrik membayar upah karyawannya setiap dua minggu sekali. Adapun besar gaji kurang lebih Rp 45 ribu per hari. Sementara upah lembur satu jamnya dihargai Rp 5 ribu.

Karyawan seperti Arba, dalam waktu seminggu biasanya menerima upah kurang lebih Rp 380 ribu. Jumlah tersebut sudah termasuk tambahan uang lembur. Arba lebih sering pulang pagi karena lembur, ketimbang pulang dalam waktu kerja normal.

"Pulangnya hampir setiap hari malam sekitar pukul 22.00 WIB. Bahkan, tidak jarang sampai pagi hari. Setelah istirahat sebentar, bangun sudah kembali lagi ke pabrik karena banyak pekerjaan," beber pemuda bertubuh kecil ini.

Seluruh karyawan di PT Merak Jaya Beton Ngebrak berjumlah kurang lebih 23 orang. Terdiri dari, aspro sebanyak tiga orang, mekanik dua orang, sopir tujuh orang, operator loder satu orang, logistik satu orang, koordinator satu orang, dispenser satu orang, administrasi satu orang, satpam empat orang, dan pengawas satu orang.

Umumnya karyawan tidak dijamin asuransi kesehatan dan keselamatan kerja. Padahal, pemerintah mewajibkan. Karena tidak ada jaminan, maka apabila sewaktu waktu ada yang sakit, mereka harus berobat dengan biaya sendiri.

"Kalau ada karyawan yang sakit, biasanya kita patungan untuk berobat. Karena belum ada asuransi yang diberikan," bebernya.

Pabrik PT Merak Jaya Beton memproduksi bahan cor untuk bebagai proyek pembangunan. Salah satu pekerjaan besar yang sedang berlangsung yaitu, mensuplay bahan untuk proyek pembuatan jalan tol Kertosono - Solo.

Saat kebocoran tangki terjadi, pada Selasa (16/5/2017) lalu, pabrik sedang memproduksi bahan cor pesanan dari Morinda, perusahaan rekanan pabrik rokok PT Gudang Garam Tbk Kediri.

Pesanan tersebut masih dalam proses pengerjaan. Rencananya untuk pendirian bangunan di Unit 5 PT GGRM Kediri. Tetapi belum sempat dikirimkan, sudah terjadi kebocoran tangki yang akhirnya menuai protes dari warga.

Mesin produksi pabrik ini terdiri tangki, pengoplos material, dan blower untuk menaikkan semen ke tangki. Ada empat tangki yang mana, tiga diantaranya berisi semen, dan satu lainnya berisi fleus atau Abu batu bara. Hasil adonan cor ini kemudian dituang dalam mobil moelend lalu dituangkan ke cetakan, diantaranya, berupa beton, papan beton dan lain sebagainya. Sebagian lainnya langsung dikirim menggunakan mobil ke pemesan.

Satu tangki di bagian selatan itulah mengalami kebocoran. Sedikitnya 100 kubik semen keluar dari tangki. Semen dari PT Semen Gresik ini meluncur ke bawah dan akhirnya tertiup angin ke permukiman warga di sebelah utara pabrik.

"Saat masih awal-awal bocor kami kira biasa. Tetapi tak lama kemudian bertambah besar. Akhirnya kami berjibaku menutup kebocoran semen menggunakan barang apapun, mulai dari baju, kain dan masih banyak lagi. Tubuh ini seperti mandi debu. Hingga akhirnya kami guyur pakai air hingga semennya mengeras," terang Arba bercerita.

Diantara tiga karyawan dari kawasan terdampak, Supriyonolah yang paling lama diterima pabrik. Saat ini nasibnya lebih baik dari karyawan lainnya. Sebab, dia diminta untuk bekerja di pabrik lainnya di wilayah Kertosono.

"Mulai kemarin mase ke Kertosono. Pabrik menyuruhnya bekerja ke sana. Saya belum tahu, seperti apa pekerjaanya disana. Semoga tidak ada masalah dalam bekerja," ujar istri Surpiyono ditemui di warungnya. Warung Supri berada di sebelah utara pabrik, ke arah barat, terpaut jarak kurang lebih 300 meter.

Tiga hari paska penyegelan, pabrik berhenti beroperasi. Masyarakat umumnya menghendaki ditutup total. Sementara pemerintah desa setempat sedang memfasilitasi warganya dengan pihak pabrik dalam hal permintaan kompensasi ganti rugi atas polusi yang ditimbulkan.

Disisi lain, Unit Tindak Pidana Korupsi Polres Kediri sedang menyelidiki izin analisa dampak lingkungan (Amdal) PT Merak Jaya Beton. Polisi berniat memanggil penanggung jawab perusahaan untuk dimintai keterangan. [nng/suf]

Komentar

?>