Jum'at, 15 Desember 2017

Bunyi Misterius di Situs Watu Gong, Hampir Tiap Malam Jumat Legi

Kamis, 18 Mei 2017 09:07:28 WIB
Reporter : Tulus Adarrma
Bunyi Misterius di Situs Watu Gong, Hampir Tiap Malam Jumat Legi

Bojonegoro (beritajatim.com) - Bunyi suara gamelan sering terdengar setiap malam Jumat Legi. Namun, sumber bunyi itu masih menjadi misteri. Warga mempercayai sumber suara berasal dari Situs Watu Gong yang ada di bukit sekitar lahan tegalan warga.

Rumah terdekat dengan Situs Watu Gong berjarak sekitar 150 meter. Terletak di kaki bukit. Di dekatnya terdapat sumber air (sendang) yang oleh warga sekitar masih sering digunakan tempat ritual sedekah bumi. Watu Gong berada di Dusun Sumbergaleh, Desa Bareng, Kecamatan Sekar, Kabupaten Bojonegoro.

Suyono (50), warga yang rumahnya dekat dengan situs tersebut bercerita bercerita, jika musim kemarau Watu Gong terlihat utuh seperti seperangkat alat gamelan. Mulai dari Gong, Kendang, Kenong, dan lain-lain. Namun kini yang terlihat hanya enam jenis. Kesemuanya menyerupai gong.

Situs Watu Gong itu kini letaknya berserakan. Beberapa kali bukit tempat Watu Gong longsor. Di luar itu, kata Suyono, beberapa sudah rusak karena ditambang oleh warga yang berprofesi sebagai pemecah batu. Selain rusak, bunyi misterius suara gamelan di malam Jumat Legi juga sudah jarang terdengar.

"Sekarang mungkin sudah tertutup dengan suara-suara yang lain. Sudah jarang terdengar lagi (suara gamelan). Kalau menurut bapak saya dulu terdengar hampir tiap malam Jumat Legi" katanya, Kamis (18/5/2017).

Sejumlah anggota Komunitas pemerhati sejarah di Kabupaten Bojonegoro, Museum 13 kemudian mendatangi lokasi tersebut. Mereka melakukan identifikasi dengan meneliti jenis batu dan letak geografis Situs Watu Gong. Harus melewati pematang lahan tegalan jagung untuk menuju ke lokasi.

Koordinator Museum 13, Hary Nugroho mengatakan, Situs Watu Gong diduga merupakan jenis batuan pasir tufan dan kalkarenit. Batuan tersebut terbentuk secara alamiah. Jenis batuan itu banyak tersebar di atas perbukitan Pegunungan Kendeng yang berada pada Formasi Kalibeng dengan ciri morfologi napal, setempat bersisipan tuf.

"Batu pasir tufan dan kalkarenit dengan usia lapisan yang diperkirakan, Miosen Atas – Pliosen Bawah (11 – 4 juta tahun)," ujarnya.

Disebut Watu Gong oleh warga karena bentuknya menyerupai alat gamelan. Mulai dari yang berukuran kecil hingga besar. Situs Watu Gong tersebut terletak di garis lintang 07 derajat 23 menit 134 detik. Dengan garis bujur, 111 derajat, 42 menit 364 detik dan dengan ketinggian 260 meter diatas permukaan laut (MDPL).

Pria yang juga menjadi guru di SDN Panjunan, Kalitidu itu menambahkan, bentuk Watu Gong merupakan proses erosi secara alamiah yang secara umum disebut suiseki (seni batu alam yang bentuknya menyerupai sesuatu menurut imajinasi). "Disebut watu gong karena sudah turun temurun diaebut begitu oleh warga," katanya.

Sementara, Guru Sejarah SMA 1 Dander, Achmad Satria Utama mengatakan, Situs Watu Gong saat ini kondisinya masih terawat. Namun, beberapa bentuk batu sudah rusak karena bekas longsor. Seharusnya, kata dia, potensi sejarah seperti ini harus mendapat perhatian serius dari pemerintah setempat.

"Karena situs budaya, benda sejarah sudah diatur dalam undang-undang. Sehingga jika merusaknya termasuk melanggar undang-undang. Pemahaman soal itu harus diketahui warga agar turut menjaganya," jelasnya.

Kepala Desa Bareng, Suprapto mengatakan, potensi sejarah yang ada di Desa Bareng cukup banyak. Menurutnya, lokasi itu memiliki nilai pendidikan yang tinggi terbentuknya Desa Bareng. Sehingga, beberapa temuan sejarah itu dipelihara. Selain itu, lokasi temuan tersebut juga dikeramatkan sebagai tempat sedekah bumi.

"Ada beberapa batu yang sudah pecah. Karena warga yang jadi pemecah batu tidak tahu kemudian batu itu dianggap batu biasa," jelasnya.

Situs Watu Gong, lanjut dia, rencananya oleh pihak desa akan dikembangkan menjadi objek wisata sejarah. Sayangnya, lokasinya yang jauh dengan jalur utama, sehingga pengembangan wisata itu perlu waktu yang panjang. "Nanti Watu Gong itu jadi satu paket dengan lokasi yang lain," pungkasnya. [lus/suf]

Komentar

?>