Selasa, 23 Mei 2017

Mahasiswa Psikologi Ubaya Dongengi Anak-anak Wonokromo, Ini Tujuannya

Minggu, 14 Mei 2017 23:09:00 WIB
Reporter : Fahrizal Tito
Mahasiswa Psikologi Ubaya Dongengi Anak-anak Wonokromo, Ini Tujuannya

Surabaya (beritajatim.com) - Meski kota Surabaya masuk dalam kategori kota ramah anak, kasus kekerasan seksual yang kerap meneror anak-anak di kota pahlawan ini masih saja marak terjadi.

Bertujuan untuk ikut menekan angka kasus yang kerap merenggut masa depan penerus bangsa, Mahasiswa Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya) mengajak puluhan anak-anak berusia 7-15 tahun atau setara SD dan SMP memberikan edukasi terkait seksualitas dan cara menjaga diri terhadap ancaman eksternal dengan metode mendongeng menggunakan alat peraga.

Koordinator acara Psikologi, Desvihane Sharcia Padengge, saat ditemui di lokasi acara di Jalan Lumumba Dalam RT 1 RW 1 Ngagel, Wonokromo, Surabaya. Minggu (14/5/2017) mengatakan acara tersebut merupakan dalam rangka memperingati HUT Kota Surabaya ke-724 tahun sekaligus Dies Natalis Fakultas Psikologi Ubaya ke-35.

"Psikologi untuk Kota Surabaya merupakan salah satu bentuk kepedulian mahasiswa terhadap fenomena kekerasan seksual, penculikan terhadap anak, dan pergaulan bebas," tutur Desvihane.

Ia menambahkan, kegiatan ini bekerja sama dengan Rumah Belajar Pandawa (RBP) yang merupakan komunitas yang fokus dan peduli terhadap permasalahan anak-anak jalanan di daerah Wonokromo.

"Masalah seksualitas menjadi masalah yang perlu diperhatikan karena akan berdampak pada perkembangan anak-anak sebagai generasi muda. Dari masalah yang ada itulah timbul keinginan untuk memberikan edukasi kepada anak-anak sebagai bentuk pencegahan terjadinya hal yang sama pada generasi yang lebih muda,” ungkap Desvihane.

Sebanyak 35 anak-anak jalanan yang terdiri SD dan 5 anak SMP akan dibagi menjadi 2 kelompok berdasarkan usia. Ada 3 aspek yang ingin dicapai yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.

"Untuk aspek kognitif, anak-anak akan diberikan pengetahuan mengenai bagian-bagian tubuh yang perlu dijaga, hingga situasi-situasi yang dianggap mengancam dan harus dihindari oleh anak-anak," paparnya.

Dari aspek Afektif, panitia akan mendongeng bagi anak-anak, ada 8 cerita dengan tema besar “Aku Pahlawan”. Pada sesi ini, anak-anak dibagi lagi dalam kelompok kecil yang berisi 3-4 orang dengan masing-masing 1 kakak panitia, untuk melakukan diskusi dan sharing.

"Pada aspek psikomotorik, anak-anak akan diajarkan berbagai teknik cara mempertahankan diri saat berada dalam situasi yang mengancam. Tema dongeng yang dipilih adalah  “Aku Pahlawan”, tema ini dipilih untuk mengajarkan pada anak-anak bahwa dirinya dapat menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri dan dapat melindungi dirinya sendiri,” jelasnya.

Dosen pembimbing Nurlita Endah Karunia, S.Psi., M.Psi., Melalui kegiatan ini, mahasiswa diminta melakukan pendampingan berupa pembekalan kepada anak-anak di daerah Wonokromo sebagai bentuk pengabdian masyarakat di kota Surabaya yang membutuhkan pendampingan psikologis.

“Kegiatan yang dilakukan mahasiswa ini merupakan sebuah aplikasi materi-materi yang sudah didapatkan selama perkuliahan. Sehingga dapat berguna untuk masyarakat terutama kota Surabaya,” tandas Nurlita. [ito/but]

Tag : ubaya

Komentar

?>