Rabu, 26 Juli 2017

Dema STAIN Pamekasan Deklarasi Tolak Organisasi Anti Pancasila

Minggu, 14 Mei 2017 15:08:29 WIB
Reporter : Samsul Arifin
Dema STAIN Pamekasan Deklarasi Tolak Organisasi Anti Pancasila

Pamekasan (beritajatim.com) - Dema STAIN Pamekasan menggelar dialog kebangsaan sekaligus deklarasi menolak organisasi anti Pancasila yang digelar di Auditorium Multi Center, Minggu (14/5/2017).

Dalam kegiatan yang mengusung tema 'Peran Serta Mahasiswa dalam Menjaga Ideologi Pancasila dan Keutuhan NKRI', mendatangkan dua pemateri dari unsur pimpinan kampus yang beralamat di Jl Raya Panglegur KM 4 Tlanakan.

Kedua pemateri tersebut masing-masing Ketua Ikatan Ketua Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Pamekasan Atiqullah, serta Ketua STAIN Pamekasan Mohammad Kosim.

Dalam kesempatan itu, juga dilakukan penandatanganan penolakan terhadap organisasi anti Pancasila, dilakukan langsung oleh Dema STAIN Lian Pawahan, Ketua Sema STAIN Mulyadi dan Ketua STAIN Pamekasan Mohammad Kosim.

"Kami menggaris bawahi kegiatan ini kita fokus untuk memperkuat NKRI, al-Hamdulillah 8 April (2017) kemarin sudah dilaksanakan deklarasi di Tulungagung. Saatnya mahasiswa mengambil bagian dalam memperkokoh NKRI dan kita sebagai bangsa sudah menikmati kemerdekaan, namun saat ini sudah ada rongrongan," kata Atiqullah.

Bagi mahasiswa nilai kebangsaan merpakan hal yang sangat penting, sehingga mereka bisa menjiwai jargon Hubbul Wathon min al-Iman seperti yang disampaikan KH Wahab Hasbullah. "Disadari atau tidak, para pejuang sudah mengobrankan jika dan raga mereka demi kemerdekaan negeri ini," ungkapnya.

"Saat ini tuga mahasiswa mengamankan wilayah Indonesia dari disintegrasi, seperti kasus timor timur (saat ini Timor Leste). Bahkan di Manado juga ada kelompok yang berupaya melakukan intoleransi, hal itu juga menjadi tugas dari para penerus bangsa," imbuhnya.

Tidak hanya itu, pihaknya juga mengajak mahasiswa untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan keberlangsungan berbagai macam sumber daya. "Mahasiswa harus peka terhadap situasi negeri ini, sebab dari dulu kita sepakat Islam di Indonesia sebagai ajaran yang dibawa oleh para wali," sambung Atiq.

"Tapi dalam beberapa tahun terakhir, justru terdapat gerakan Islam transnasional yang merongrong dan kurang menghargai para pejuang bangsa. "Jika kita tidak memahami sejarah perjuangan bangsa, tentu hal ini akan menjadi persoalan utama," sesalnya.

Sehingga perguruan tinggi agama Islam juga harus menjadi benteng keutuhan NKRI, tentunya dengan mewujudkan akulturasi Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

"Islam Nusantara sebagai Islam tengah, bukan kanan atau kiri. Karena orang timur memiliki adat yang khas, bahkan sejak dulu Indonesia negara yang aman karena pemikiran Islam di Indonesia menghargai keberagaman (pluralitas)," pungkasnya. [pin/suf]

Komentar

?>