Sabtu, 27 Mei 2017

Kena DO Akibat Tak Kuat Bayar SPP

Pagi Ini, Sekolah Datangi Rumah Bayu

Sabtu, 13 Mei 2017 08:32:25 WIB
Reporter : Nanang Masyhari
Pagi Ini, Sekolah Datangi Rumah Bayu
Kepala MTsN Kandat Abdullah Rosad saat diwawancarai wartawan. [Foto: nanang/bj.com]

Kediri (beritajatim.com)-- Sekolah Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Kandat, Kabupaten Kediri, pagi ini akan mendatangi rumah Bayu Wahyudi Pratama, siswa kelas 7E, yang terpaksa drop out (DO) karena tak sanggup bayar iuran.

Rumah Bayu berada di Dusun Ringinjejer, Desa Ringinanyar, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar. Kepala MTsN Kandat Abdullah Rosad memastikan anak semata wayang Ramidi tersebut dapat mengikuti ujian kenaikan kelas, Senin (15/5/2017) besok.

"Kemberikan kesempatan kepada anak itu. Memberikan bantuan berupa cadangan dari madrasah, supaya dia bisa selesai dalam pendidikannya. Apalagi jarak tempuhnya antara rumah dan sekolah dekat. Kita menjamin, dengan catatan anak itu mau belajar," janji Rosad, Sabtu (13/5/2017).

Masih kata Kepala Sekolah MTsN Kandat, pihaknya siap datang ke rumah Bayu untuk memberikan penjelasan. Apabila dia memang tidak mampu untuk membayar iuran sebesar Rp 1,650 juta, maka akan dibebaskan pembayaran tersebut. Bahkan, sampai kelas tiga pun, seperti siswa kurang mampu lainnya.

Lalu saat ditanya apakah sekolah akan memberikan dampingan, mengingat Bayu tergolong siswa dari latar belakang broken home? Jawan Rosad, pihaknya siap untuk mendampingi hingga Bayu bisa menempuh pendidikannya dengan baik.

"Kita punya tim madrasah ada fungsionaris, di dalamnya ada beberapa waka. Juga tim BK yang proaktif terhadap beberapa persoalan anak-anak. Perlu kita garis bawahi dan kita sampaikan, karena lebih dari 1.100 siswa di MTsN Kandat ini, jumlah yang tidak sedikit, dan sampai itu terjadi dalam hal pantauan kami kurang, itu bisa saja terjadi. pada dasarnya BP siap mengkomunikasikan untuk itu. Anak itu tetap semangat dan tetap belajar harapannya bisa sampai tuntas belajar di lembaga kami," janjinya.

Di sisi lain, Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Kediri mengecam keras pihak sekolah yang menerapkan kebijakan sekolah yang tidak ramah terhadap anak. Anak DO karena tidak kuat bayar SPP. Menurut LPA, hal tersebut adalah bentuk perampasan hak anak untuk dapat layanan pendidikan.

"Atas kejadian tersebut LPA Kota Kediri mendesak, satu KPAID Kabupaten Kediri agar turun tangan menangani masalah ini karena menyangkut pemenuhan hak-hak anak. Kedua, Pemkab Kediri wajib membantu biaya pendidikan anak tersebut dan menjamin keberlanjutan pendidikan. Dan ketiga satuan pendidikan diharapkan tidak bebani peserta didik dengan berbagai pungutan," Hery Nurdianto, Bidang Advokasi LPA Kota Kediri.

Secara terpisah, Aliansi Peduli Lingkungan (APeL) Kediri mendesak Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kediri harus turun tangan untuk mengatasi. APeL juga meminta Kemenag menjatuhkan sanksi kepada Kepsek MTsN Kandat.

"Seharusnya kepsek sebagai pemimpin harus mmpunyai sifat jujur, percaya diri, tanggung jawab, berani mengambil resiko dan keputusan, berjiwa besar, emosi yang stabil, dan bisa menjadi teladan bagi guru dan siswanya. Perlu diketahui bahwa pemerintah gencar-gencarnya menurunkan angka anak putus sekolah, tetapi ini kepsek justru tidak mendukung program pemerintah," kecam Direktur APeL Taufiq Dwi Kusuma.

Diberitakan sebelumnya, gara-gara tak sanggup bayar uang pembelian Buku LKS dan amal jariyah sebesar Rp 1,650 juta, Bayu, siswa kelas 1E MTsN Kandat gagal ikuti ujian kenaikan kelas. Pelajar dari keluarga kurang mampu yang memegang Kartu Indonesia Pintar (KIP) tersebut terpaksa drop out. [air/nng]

Tag : drop out

Komentar

?>