Rabu, 28 Juni 2017

The Kufiah Telurkan Album Perdana 'Terapi Shalawat'

Selasa, 09 Mei 2017 13:01:10 WIB
Reporter : Samsul Arifin
The Kufiah Telurkan Album Perdana 'Terapi Shalawat'

Pamekasan (beritajatim.com) - Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Desa Panaan, Kecamatan Palengaan mengeluarkan album perdana 'terapi shalawat' yang dibawakan oleh grup The Kufiah.

The Kufiah merupan grup shalawat yang dibentuk sekitar dua bulan lalu. Mereka terdiri dari tiga personil yang bersatus sebagai santri aktif, yakni Khairul Umam, Farhat Syaf dan Rifqi Ainur Rahman.

Sementara satu personil lainnya merupakan alumni yang notabene memang aktif dalam bidang kesenian bersama grup gambus Al-Ifroh, yakni Syafi'i Robetly yang sudah menelurkan beberapa album bersama grup yang dipimpinnya.

Dalam album perdana yang mulai dikeluarkan sejak Minggu (6/5/2017) tersebut, tercatat sebanyak 13 jenis shalawat yang dilantunkan oleh para personil. Nantinya akan didistribusikan sekaligus dipasarkan kepada publik.

Hal itu tentu menjadi terobosan baru bagi pesantren yang dipimpin oleh KH Abd Hamid Ahmad Mahfud, sekalipun beberapa tahun sebelumnya juga sempat mengeluarkan album tartil al-Qur'an pada medium 90'an silam.

"Shalawat pada dasarnya termasuk ibadah mahdhah, juga termasuk obat. Baik psikis yang pada akhirnya fisik, itu adalah terapi yang insha Allah penuh berkah. Dilihat dari sisi manapun shalawat tetaplah shalawat," kata salah satu Dewan A'wan Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata KH Moh Tohir Abd Hamid dalam prolog album The Kufiah.

Akhir-akhir ini banyak sekali lantunan shalawat yang diiringi berbagai jenis alat musik, bahkan tidak jarang jenis musik yang disertakan dinilai kurang patut dan tidak baik. "Kita terlampau sering mendengar shalawat dengan lagu dangdut, nada mellow dengan shalawat versi India. Bahkan entah bagaiama menggambarkan shalawat versi house music," ungkapnya.

"Memang para sufi terdahulu bershalawat hingga seperti orang gila, berputar dengan khusu' begitu lama, bermusik dengan penuh cinta dan hingga akhirnya hilang kesadaran. Tapi siapakah kita untuk seperti mereka, kita adalah orang-orang biasa," sambung pria yang akrab disapa Tohir Zain itu.

Saat ini perlu kembali direnungkan, apa masyarakat menyukai shalawat atau musiknya. Belum lagi hal itu dianggap patut atau sopan bagi Sang Nabi. "Dari itu terapi shalawat ini ada, sebuah usaha dari orang-orang biasa untuk berharap syafaat dari orang yang sangat luar biasa," tegasnya.

"Selain itu ini juga merupakan jalan yang harus ditempuh yang mungkin akan menjadi sebuah keinginan bersama, menjadi sebuah pengingat akan sebuah peringatan atau sebuah oase bagi kita yang tengah dalam perjalanan," pungkasnya. [pin/ted]

Tag : pesantren

Komentar

?>