Selasa, 25 Juli 2017

Selain Fenomena Amblesnya Sumur

15 Tahun Lagi Indonesia akan Kehilangan Pulau, Ini Penyebabnya

Minggu, 30 April 2017 08:27:10 WIB
Reporter : Fahrizal Tito
15 Tahun Lagi Indonesia akan Kehilangan Pulau, Ini Penyebabnya

Surabaya (beritajatim.com) - Utusan khusus Presiden RI untuk pengendalian perubahan iklim, Prof Rachhmat Witoelar mengungkapkan perubahan iklim yang saat ini terjadi selain fenomena tanah longsor dan sumur ambles di daerah Jawa Timur, juga dapat mengakibatkan pengikisan tanah termasuk juga hilangnya sebuah pulau.

"Cuaca yang tak menentu ini akan mengakibatkan bencana alam misalnya tornado, tanah longsor, banjir, kebakaran hutan. Maka diimbau kepada pemuda agar tidak acuh pada alam yang kita tinggali," tutur Prof Rachhmat Witoelar ketika berbicara pada rangkaian kegiatan Environation 2017 Talkshow dengan tema "Climate Change: Self Revolution or Self Adaptation?" di Grand City Convex Surabaya, Sabtu (29/4/2017).

Pada gelaran yang diinisiasi oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Intitut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini dimoderatori presenter kondang Tina Talisa.

Wimar yang pernah menjabat sebagai Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia ke-7, ini kembali menegaskan bahwa 15 tahun mendatang situasi akan semakin buruk terlebih dapat merubah fenomena ekonomi.

"Alternatif energi lebih menguntungkan dari fosil. Saat ini, generasi muda yang menjadi kekuatan bangsa dalam menghadapi seluruh tantangan global. Terlebih agar selalu peduli dan selalu bertukar pengalaman dengan generasi tua untuk dapat merubah paradigma dengan pembangunan berkelanjutan," paparnya.

Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia, Nur Masripatin menambahkan, pemerintahan presdien Jokowi ada perubahan struktur yaitu KLHK memegang pengendalian perubahan iklim.

"Indonesia ingin menjadi negara dengan pengurangan emisi hingga 29 persen. Sebelumnya pada masa pemerintahan SBY hanya 26 persen. Ini artinya pemerintah semakin peduli terhadap lingkungan. KLHK mengadakan pertemuan diskusi tentang bagaimana masing-masing sektor untuk menerapkan emission reduction," tambahnya.

Ia memaparkan bagaimana upaya pemerintah melakukan itu. Yakni, melalui program-program KLHK ada yang ditransformasikan menjadi program nasional. Peran pemda sangat besar dalam beradaptasi dengan perubahan iklim dan pengurangan emisi.

"Sistem hukum sudah terintegrasi dengan baik. Dalam kehutanan, permasalahan yang dihadapi adalah luasnya lahan hutan yang tanah gambut," paparnya.

Sementara, Rektor ITS Joni Hermana menanggapi mengenai perubahan iklim menyebkan kerugian ekonomi akibat bencana alam. Dirinya mengungkapkan, di Asia ada 7 dari yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, salah satunya adalah Indonesia sehingga banyak bencana sering terjadi, Indonesia seperti menjadi super market bencana.

"Namun persoalan utama adalah mengedukasi masyarakat untuk proses mitigasi (pengurangan emisi co2) dengan pengolahan limbah rumah tangga dengan terkonversi menjadi zat yang ramah lingkungan dan melakukan adaptasi (penyesuaian dengan dampak perubahan iklim). Serta pola fikir masyarakat yang menjadi halangan dalam mitigasi karena terkait kesadarannya," tutur Joni.

Ia menandaskan, sejak ITS menjadi PTNBH, dirinya selalu gencar melakukan upaya untuk fokus pada bidang-bidang keilmuan lingkungan, energi, material, sains, perencanaan dan perubahan iklim. Seperti melatih mahasiswa tidak hanya sains dan teknologi namun juga sofskill. Dirinya selalu berupaya menggali diri, meraih berbagai kejuaraan pada setiap mahasiswa ITS.

"Bagaimana perguruan tinggi menyiapkan generasi muda dalam menghadapi perubahan iklim. Apakah perubahan iklim sudah terjadi? Jika iya, masih banyak pejabat yang tidak merasa yakin dengan perubahan iklim. Jika tidak, faktanya kenaikan CO2 di atmosfir meningkat hingga 402 ppm. Co2 yang terakumulasi sehingga menyebabkan bumi semakin panas karena ada halangan panjang gelombang matahari melewati atmosfir," ungkap Joni.

"Perguruan tinggi melakukan kajian untuk mengatasi perubahan iklim. Kita semua menyadari bahwa meningkatnya Co2 akibat ulah manusia. Untuk mengatasi itu pendidikan berperan memegang peranan penting untuk mengedukasi masyarakat," inbuh Joni.

Selanjutnya, Direktur Produksi PT Pupuk Kalimantan Timur 4, Bagya Sugihartana menjelaskan program pekate management system. Yakni managemen sistem dalam konservasi energi dan air, dirinya berjanji akan mengurangi pencemaran udara yang diterapkan oleh PT Pupuk Kaltim.

"Dalam proses industri menggunakan 5 hal untuk menjaga energi dan mengurangi emisi produksi. Dalam pemanfaatan tanah untuk produksi adalah pengelolaan amonia menjadi urea dan juga menghasilkan bahan menetralisir limbah amonia," ungkapnya

Sementara dalam kaitannya dengan limbah padat berbahaya, pihaknya lebih memanfaatkannya menjadi karung. Selain itu juga diolah dengan bahan baku amonia dan air, dengan power batu bara untuk menghemat gas alam.

"Namun kelemahannnya dengan batu bara menghasilkan polutan yang dapat diolah. Serapan co2 pada RTH (ruang terbuka hijau) diperbanyak. Pupuk kaltim berkomitmen untuk mengurangi emisi," tandasnya. [ito/suf]

Tag : lingkungan

Komentar

?>