Jum'at, 20 Oktober 2017

Dapat 'Serangan' dari Aktivis Lingkungan, PT Pria Tunjuk Kuasa Hukum

Selasa, 25 April 2017 23:23:47 WIB
Reporter : Misti P.
Dapat 'Serangan' dari Aktivis Lingkungan, PT Pria Tunjuk Kuasa Hukum

Mojokerto (beritajatim.com) - Manajemen PT Putra Restu Ibu Abadi (PRIA) akan melakukan pledooi atau pembelaan dengan tindakan baik itu yang bersifat ligitasi maupun non ligitasi kepada semua pihak yang melakukan perbuatan melawan hukum. Untuk itu, manajemen PT PRIA menyerahkan semua ke kuasa hukumnya.

Juru bicara PT PRIA, Christine mengatakan, PT PRIA merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan limbah B3 (pengakutan, pengumpulan, pemanfaatan dan pengolahan) dan limbah non B3 sejak 2010. "PT PRIA mengantongi ijin dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia," ungkapnya, Selasa (25/4/2017).

Masih kata Christine, dari ijin tersebut maka semua proses kegiatan PT PRIA yang berada di Desa Kedung Palang, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto memang sesuai aturan serta mengacu dalam pengelolaan limbah baik B3 maupun non B3. Namun mulai tahun 2016 banyak terjadi gangguan, halangan serta kendala yang dialami PT PRIA.

"Seperti penyetopan armada PT PRIA, demo warga, provokasi terhadap warga, menghasut dengan mengarah ke unsur SARA dan intimidasi terhadap para pekerja PT PRIA. Berbagai tuduhan dialamatkan ke PT PRIA. Semisal PT PRIA melakukan penimbunan limbah B3, PT PRIA mencemari sumber air di pemukiman warga dan PT PRIA menimbulkan polusi udara," katanya.

Christine menambahkan, tuduhan tersebut mengarah kepada tuntutan agar PT PRIA ditutup. Menurutnya, tindakan tersebut dilakukan oleh oknum warga maupun oknum aktivis lingkungan yang hingga kini semakin massif, seporadis bahkan terkesan membabi-buta dalam upaya menjatuhkan PT PRIA di mata publik.

"Serangan atas nama warga melalui oknum aktivis lingkungan hidup, padahal kami sudah sudah memenuhi tuntutan untuk melakukan uji pengambilan sampel air tanah dan air permukaan yang dihadiri semua pihak, mulai KLHK, BLH Jatim, BLH Kabupaten Mojokerto, perwakilan warga dan aktivis lingkungan tersebut," ujarnya.

Pengambilan sampel air tanah dan air pemukiman yang dilakukan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia di beberapa titik dalam dua periode yakni 3 sampai 5 Juni 2016 dan 14 sampai 15 Juni 2016. Sampel air tersebut dianalisis di laboratorium yang terakreditasi.

"Bahkan kami juga minta bantuan keahlian dari pakar Hidrogeologi dan pakar Hidrokimia untuk memastikan adanya pengaruh kegiatan PT PRIA dengan kualitas air sumur penduduk. Hasilnya, indikasi parameter pencemar yang menyebabkan gatal-gatal tidak berkorelasi dengan air tanah, namun diindikasi berasal dari kegiatan di permukaan tanah," tuturnya.

Seperti adanya peternakan di lokasi yang berdekatan dengan sumber air penduduk. Lokasi tanah yang diadukan tercemar, lanjut Christine, berbeda faktor hidrolikanya dengan lokasi yang diduga sebagai sumber pencemar. Tingginya parameter klorida dan sulfat karena faktor geoteknik (alami karena kondisi batuan di lokasi).

"Bahan pencemar tidak terdeteksi di semua sumur pantauan PT PRIA dan apabila ada bahan pencemar maka akan memerlukan waktu lama untuk sampai pada lokasi yang diadukan, mengingat kondisi hidrologi dan permeabilitas tanah kawasan setempat. Namun hasil tersebut tidak diakui oleh oknum aktivis lingkungan tersebut," urainya.

Bahkan, tegas Christine, tudingan ke PT PRIA semakin membabi buta dan tidak ada dasar. Oleh karen itu, PT PRIA akan merespon serius jika ada pihak yang membuat atau melakukan hal yang memojokkan perusahaan tersebut. Jika ada upaya perbuatan melawan hukum, maka PT PRIA juga akan melakukan upaya hukum pengacara yang telah ditunjuk.

Sementara itu, Kuasa hukum PT PRIA, Hari Tjahyono menambahkan, terhitung mulai 25 April 2016, PT PRIA mempunyai kuasa hukum. "PT PRIA adalah perusahaan pengelola limbah yg membantu perusahaan lain mengelola limbah. Bagaimana mungkin perusahaan yang membantu mengelola limbah perusahan lain diserang," jelasnya.

Menurutnya, jika ada yang menuntut PT PRIA tutup maka pihaknya meminta agar memberikan solusi. Karena dampak nyata yang dialami PT PRIA terkait tuduhan maupun tudingan yang dialamatkan ke PT PRIA membuat member banyak yang lari. Isu menimbun, mencemari air dan udara, lanjut Hari, PT PRIA sudah mengikuti uji laboratorium yang disimpulkan dari kajian ilmiah.

"PT PRIA rugi material dan non matetial karena selama dua minggu melakukan pengambilan sampel air serta uji laboratorium tapi tidak dianggap benar oleh oknum aktivis lingkungan tersebut. Bahkan, PT PRIA menyediakan dua klinik gratis untuk warga yang mengaku mengalami gatal-gatal karena limbah yang ditimbulkan PT PRIA," tuturnya. [tin/suf]

Komentar

?>