Jum'at, 23 Juni 2017

Terjemahkan Al-Qur'an dalam Bahasa Madura, Upaya Pertahankan Bahasa Daerah

Kamis, 20 April 2017 10:40:32 WIB
Reporter : Samsul Arifin
Terjemahkan Al-Qur'an dalam Bahasa Madura, Upaya Pertahankan Bahasa Daerah

Pamekasan (beritajatim.com) - Indonesia merupakan bangsa yang majemuk dan terdiri dari berbagai agama, budaya, bahasa, ras, suku hingga sosial kultural lainnya. Hal itu menggambarkan jika negara ini terbilang cukup luas dan padat.

Dari berbagai kemajemukan itu, tidak kurang dari 700-an suku dan 300-an bahasa yang masih hidup (living leaguages). Termasuk enam agama berbeda yang terdaftar dalam konstitusi negara, yakni Budha, Hindu, Islam, Katolik, Kristen dan Khonghucu serta ratusan kepercayaan lokal. Bahkan ribuan seni budaya daerah yang mendiami sekitar 17ribuan pulau yang membentang dari Sabang hingga Merauke.

Realitas kemajemukan ini tentu luar biasa dan menjadi potensi sekaligus juga beban dan tantangan, kemajemukan agama, kepercayaan lokal, budaya, bahasa, suku dan lainnya merupakan modal sosio-kultural potensial. Bisa saja dikembangkan sebagai modal keluruhan martabat dan peradaban bangsa.

Namun di lain pihak, ketidak tepatan pengelolaan kemajemukan realitas bangsa justru bisa berdampak negatif terhadap keberadaan Indonesia sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Guna mengantisipasi dampak negatif tersebut, salah satu lembaga pemerintah melalui Kantor Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) mencoba melestarikan budya daerah sebagai upaya penguatan keagamaan bagi umat.

Salah satunya program penerjemahan al-Qur'an ke dalam bahasa daerah yang digagas Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan, Badan Litbang dan Dilkat Kemenag RI yang dilakukan sejak 2011 lalu.

Dalam menyelenggaraan program tersebut, pihak Kemenag RI menggandeng sejumlah perguruan tinggi yang tersebar di seluruh Indonesia. Bahkan saat ini tercatat sebanyak 9 jenis tarjemahan al-Qur'an ke dalam bahasa Indonesia, masing-masing bahasa Bolang Mongondow, Batak Angkola, Dayak Kanayat, Jawa Banyumas, Kaili, Makassar, Minang, Sasak dan Toraja.

Kali ini giliran Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan yang kebagian tugas mulia untuk menerjemahkan al-Qur'an ke dalam bahasa Madura. Hal itu dibktikan melalui Memorandum of Understanding (MoU) bersama Kemenag RI yang digelar di Auditorium Multi Center STAIN Pamekasan, beberapa waktu lalu.

Penandatangan MoU tersebut dilakukan langsung oleh Ketua STAIN Pamekasan Muhammad Kosim bersama Kepala Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Kemenag RI Choirul Fuad Yusuf, disaksikan sejumlah civitas akademik kampus yang beralamat di Jl Raya Panglegur KM 4 Tlanakan.

Dalam proses penerjemahan al-Qur'an ke dalam bahasa Madura, dilakukan berbagai tahapan. Di antaranya tim penerjemah terdiri dari ulama al-Qur'an, akademisi hingga pakar bahasa Madura. Tentunya berdasar kualifikasi yang sudah ditentukan dalam berbagai persyaratan yang berlaku.

"Sebenarnya bahasa Madura ini termasuk penutur ketiga terbesar di Indonesia setelah Jawa dan Sunda, tapi justru hingga saat ini belum ada tarjemahan al-Qur'an berbahasa Madura. Padahal penutur di bawah bahasa Madura sudah banyak beredar," kata Ketua STAIN Pamekasan Muhammad Kosim, Rabu (19/4/2017).

Dalam merealisasikan tugas tersebut, pihaknya juga sudah membentuk tim ahli yang terdiri dari berbagai bidang konsentrasi keilmuan, sebab mereka harus menyelesaikan tugas sesuai dengan deadline yang sudah ditentukan dalam kesepakatan.

"Memang kita mematok target menerjemahkan al-Qur'an ke dalam bahasa Madura dalam waktu setahun ke depan sejak penandatanganan MoU lalu. Tahun berikutnya baru validas, tentunya melalui berbagai tahapan lainnya," jelasnya.

Pihaknya juga komitmen untuk merealisasikan tugas tersebut sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan. "Tiap hari kita fokus dan bekerja untuk menyelesaikan tugas ini, bahkan kita bekerja hingga 5 jam setiap Senin hingga Kamis. Apalagi kita juga harus menyamakan persepsi dan mengedepankan penggunaan bahasa yang baik dan komunikatif," pungkasnya. [pin/kun]

Komentar

?>