Minggu, 19 Nopember 2017

FK Unair Bantu Pemerintah Matangkan Aturan Pendonoran Ginjal

Kamis, 06 April 2017 23:32:47 WIB
Reporter : Fahrizal Tito
FK Unair Bantu Pemerintah Matangkan Aturan Pendonoran Ginjal

Surabaya (beritajatim.com) – Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) ikut membantu mematangkan aturan mengenai donor dan transplantasi ginjal yang diterapkan oleh pemerintah Indonesia. Kampus tersebut dengan menggelar seminar bertajuk "The New Paradigm for Kidney Transplantation and Hemodialysis" bersama pakar transplantasi ginjal dan cuci darah dari Belanda.

Mantan kepala instalasi dealisis RSU dr Soetomo Surabaya, dr. Pranawa, di sela seminar yang digelar di Gedung FK Unair, Kamis (6/4/2017) menuturkan, masalah transplantasi di Indonesia adalah hukum perundangan. Namun belum lama ini Kementerian Kesehatan mengeluarkan aturan tata cara transplantasi.

"Transplantasi ginjal pertama dilakukan di Surabaya tahun 1988. Hanya saja tidak banyak transplantasi yang bisa kami lakukan. Ini karena terbatasnya donor transplantasi ginjal. Kalau masalah teknis dan biaya bisa dikejar. Terlebih BPJS menanggung transplantasi ginjal hingga Rp300 juta," tutur Pranawa yang juga dokter spesialis penyakit dalam, yakni diabetus mellitus dan hipertensi ini.

Belum lagi masalah lain terkait asumsi masyarakat yang menyebut orang yang mendonorkan ginjalnya akan menanggung bahaya. "Padahal orang yang mendonorkan ginjalnya usia lebih panjang, angka harapan hidup kebih panjang. Ini karena yang donor adalan orang-orang pilihan dan setelah donor akan berhati-hati dalam hidup," imbuhnya.

Opsi donor ginjal dari jenazah, kata Pranawa, masih menjadi keberatan masyarakat. Terlebih donor ini hanya bisa dilakukan pada orang yang mengalami mati batang otak (MBO). Selain itu, dokter yang melakukan transplantasi tidak boleh yang ikut menangani pasien MBO tersebut.

"Sampai sekarang di Surabaya sejak 1988 baru melakukan 42 transplantasi. Surabaya kalah jumlah dibanding Rumah Sakit (RS) di Jakarta yang sudah melakukan lebih dari 50 transplantasi. Meski demikian di Surabaya lebih kaya kasus. Ada anak donor ke ibu, ibu donor ke anak dan lainnya," katanya.

Pranawa mencontohkan, ada ibu yang donor ginjal ke anaknya 30 tahun lalu masin hidup dan berusia 89 tahun. Operasi dilakukan pada 1989. Ada yang cangkok ginjal tahun 1988 dan masih hidup sampai sekarang.

"Di Saudi Arabia yang notabene negara Islam, namun kebutuhan transplantasi per tahun mencapai 500. Dari jumlah itu ada transplantasi hidup dan jenazah. Yang terpenting transplantasi dilakukan pada penyakit ginjal kronis atau stadium 5. Transplantasi harus dilakukan ketika cuci darah tidak bisa lagi diterapkan," papar pria yang juga menjabat sebagai Koordinator Nefrologi Indonesia Wilayah Jatim ini.

Ia menambahkan, hipertensi dan diabettus mellitus adalah dua penyakit yang paling sering merusak ginjal. Konsumsi obat hipertensi dan diabetus mellitus sepanjang hidup tidak merusak ginjal. Di Indonesia, hipertensi menyebut 40 persen menjadi penyebab gagal ginjal.

"Minuman suplemen dan zat pewarna menjadi faktor itu. BP POM tetap akan mengeluarkan peringatan kandungan zat pewarna atau zat lain. Dan saya berharap Donor ginjal yang disuarakan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) ini dapat memuncul kesadaran masyarakat untuk mendonorkan ginjalnya, dan atau ahli waris orang yang meninggal menyetujui pengambilan organ ginjal untuk transplan," harap Pranawa.

Ketua panitia seminar dr Widodo mengatakan, forum ini hasil kerjasama antara IDI dengan pemerintah Belanda. "Kita bahasa program pengembangan transplantasi. Di Indonesia sekarang banyak pasien gagal ginjal tahap 5. Hemodialisis atau cuci darah tidak cukup, harus dengan transplantasi," kata Widodo.

Seminar ini, kata Widodo, akan membentuk jaringan transplantasi antar RS di Indonesia. "Yang terpenting, mematangkan aturan soal transplantasi ginjal, perlindungan pada yang donor dan menghindari jual-beli ginjal," pungkas Widodo yang merupakan salah seorang pengajar di FK Unair. [ito/suf]

Tag : unair ginjal

Komentar

?>