Sabtu, 29 April 2017

Mencari Jacki Chan Junior di Indonesia

Sabtu, 18 Maret 2017 21:20:38 WIB
Reporter : Fahrizal Tito
Mencari Jacki Chan Junior di Indonesia

Surabaya (beritajatim.com) - Assosiasi Kung Fu Indonesia (AKI) Jawa Timur menggelar Kejuaran Kung Fu Wanoro Seto Cup 2017 yang memperebutkan piala bergilir rektor Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur. Ajang ini diikuti oleh anak mulai usia 5-12 tahun se-Indonesia.

"Peserta berusia 5-13 tahun dibagi dalam empat kelas tanding atau try out agar mereka dapat menunjukan beragam ilmu Kung Fu yang dipelajarinya di club atau Pusat pelatihan beladiri. Selain itu untuk menaikkan percaya diri anak, kami juga memberikan trovi berupa medali dan sertifikat," kata Ketua Harian AKI Jatim, Subiantono W S saat ditemui beritajatim.com di sela-sela berlangsungnya kejuaraan di Giriloka  UPN "Veteran" Jatim, Surabaya, Sabtu (18/3/2017).

Pada penampilan pembuka ada puluhan master dari beberapa perguruan kung fu se Indonesia saling unjuk gigi untuk memperlihatkan jurus-jurus andalan di perguruannya masing-masing. Selanjutnya, giliran bocah-bocah calon penerus Jacki Chan itu unjuk ketangkasan dalam menyerang dan menghindar untuk mengaplikasikan jurus pamungkasnya di arena.

"Kan kita punya pakem. Keamanan pesert juga kita perhatikan seperti saat tanding harus mengenakan matras pengaman pada bagian-bagian vital tubuh. Penilaian juga memperhatikan kuda-kuda, ada gerakan yang tidak boleh goyang. Untuk kategori freestyle, line kuda-kudanya sudah benar atau belum, kalau goyang dipotong berapa," kata pendiri Lembaga Beladiri Wanoro Seto ini.

Selain penguasaan jurus, Subiantono mengungkapkan juga menjadi bahan penilaian plus dari juri dalam mempraktekkan jurus masing-masing adalah power dan penguasaan jurus.

"Para juri juga ada yang dari tingkat nasional dan internasional mereka akan melihat kemampuan para peserta. Kalau peserta baru mereka pasti terlihat kagok. Tapi kalau biasa main jurus, itu akan kelihatan," kata Subiantono.

Ia menuturkan, kejuaraan yang telah digelar dua tahun berturut-berturut ini juga diikuti oleh ratusan peserta dari seluruh wilayah Indonesia sert bertujuan untuk mencari bibit-bibit atlet kung fu nasional yang nantinya akan disalurkan ke olahraga wushu yang menjadi olahraga berprestasi cabang kung fu.

"Awalnya yg daftar ada sekitar 400an peserta, namun diadakan saat mendekati ujian ada yang mengundurkan diri dan terkumpul 150an peserta kungfu tradisional dan 46 wushu. Kita memiliki tujuan menciptakan bibit. Kalau wushu kan pencari bibit. Para pemula kami kumpulkan disini, setelah itu kita arahkan ke olahraga prestasi yaitu wushu," ujar Subiantono.

Sementara itu, Ketua AKI Pusat, Deddy Garni Ismadi menuturkan kejuaraan yang digelarnya juga sebagai pembinaan mental sejak dini karena bela diri seperti kung fu ini juga sangat berguna bagi para anak-anak yang belajar bela diri.

"Jika anak-anak di latih beladiri sejak kecil maka kedisiplinan serta mentalnya akan terbangun, karena saat mereka bertanding secara tidak langsung mereka dapat membendung tekanan dari penonton serta dari lawan yang akan menyerangnya," tutur Deddy.

Pria yang juga bekerja sebagai Staff Bidang Informasi Diplomasi Publik, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) ini menyangkal ketakutan orang tua soal anaknya yang belajar bela diri. "Anak-anak yang belajar bela diri justru terhindar dari yang namanya tawuran. Karena mereka tahu, dipukul itu sakit, coba lihat saja anak-anak yang tawuran. Saat ditanya, pasti mereka tidak belajar bela diri," ujar master kung fu dari perguruan Naga Mas ini.

Terkait tips memilih perguruan, ia menjelaskan bahwa semua perguruan atau lembaga beladiri manapun akan cocok bagi anak-anak. "Semua pada dasarnya sama. Bedanya hanya saat memberikan jurus, karena tiap perguruan punya ciri khasnya masing-masing," tandas Deddy. [ito/but]

Tag : universitas

Komentar

?>