Jum'at, 21 September 2018

DPR-RI Akan Bentuk Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Nasionalis

Kamis, 09 Maret 2017 22:34:32 WIB
Reporter : Fahrizal Tito
DPR-RI Akan Bentuk Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Nasionalis

Surabaya (beritajatim.com) - Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) berencana akan mendata dan mengumpulkan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) se Indonesia yang di didirikan oleh tokoh-tokoh nasionalis sebagai gagasan dalam membetuk sebuah asosiasi perguruan tinggi nasionalis.

Gagasan tersebut disampaikan anggota Komisi III DPR RI Ahmad Basarah yang memiliki tujuan untuk menguatkan mental karakter bangsa diera reformasi yang sedang rumit ini.

“Karena diera reformasi ini, semangat untuk membangun nasionalisme diatas warisan pendiri bangsa mulai memudar, serta hampir tidak adanya materi pendidikan yang menyampaikan hal-hal menyangkut sejarah yang baik dan komperehensif kepada mahasiswa sebagai aset penerus bangsa," ungkap Ahmad Basarah disela rapat senat terbuka puncak Dies Natalis ke 36 Universitas Narotama (Unar) Surabaya, Kamis, (9/3/2017).

Anggota Komisi III Fraksi PDIP ini mengatakan, target dari konsolidasi itu untuk mensejajarkan dengan perguruan tinggi besar lainnya yang berbasis agama seperti yang dikelola oleh organisasi kemasyarakatan (Ormas) seperti Nahdlatul Ulama (NU) ataupun Muhammadiyah.

"Selain itu, Ormas seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama saat ini yang konSen dalam membangun lembaga pendidikan, sehingga paling tidak PT yang dikelola tokoh nasionalis sejajar dengan lembaga pendidikan tinggi itu,” kata pria yang menjabat sebagai ketua Badan Sosialisasi MPR RI ini.

Target lain, tambahnya. Perancangan konsolidasi itu juga untuk membentuk asosiasi perguruan tinggi nasionalis.

“Bagaimana konsolidasi perguruan tinggi berbasis nasionalis? Kalau di politik yang berbasis nasionalis sudah ada,” tambah Ahmad Basarah.

Sedangkan Bidang pendidikan, Basarah berharap kepada Mendikbud juga harus benar-benar menjadi fokus tokoh-tokoh nasionalis. “Ini untuk merawat kelestarian bangsa. Politik kita mulai menjauh dari Pancasila,” papar Ahmad Basarah.

Bersamaan konsolidasi, menurut Ahmad Basarah, juga akan menjadi ajang mengingat kembali salam nasional, Merdeka yang dibarengi meletakkan telapak tangan di pundak kiri.

“Filosofinya, pundak menanggung beban dari lima jari yang diartikan lima sila pada Pancasila. Ideologi Pancasila, bukan ideologi dari negara lain untuk dikemabngkan di Indonesia," tandas Ahmad Basarah.

Hal tersebut juga disambut baik oleh Rektor Unnar RR Iswachju Dhaniarti. Menurutnya, inovasi sebuah bangsa memerlukan komitmen berkelanjutan dari semua pihak, khususnya institusi pendidikan jika semakin tinggi persentase orang berpendidikan, semakin besar pula potensi inovasi negara.

“Hubungan antara kesempatan pendidikan dan inovasi negara sangat signifikan. Secara umum,  semakin tinggi persentase lulusan perguruan tinggi, mahasiswa, dan peneliti maka semakin maju pulalah sebuah negara,” kata Iswachju.

Untuk menjadi motor penggerak inovasi itu, Iswachju mengatakan. Pendidikan yang berkualitas tentunya harus bersinergi dengan  pemerintah, sektor industri. karena hal itu akan sangat relevan dalam tuntutan  transformasi ekonomi dan menjadikan Indonesia kompetitif di tengah pasar Asia dan pasar global.

“Indonesia  merupakan  negara  dengan  ekonomi  terbesar  di  ASEAN sekaligus salah satu dari 20 perekonomian terkuat dunia dan bercita-cita menjadi salah satu dari 10 kekuatan ekonomi  terbesar  dunia  pada  tahun  2025.  Lebih  jauh, Indonesia  memiliki  rencana  untuk mencapai status berpendapatan tinggi dan bergabung dengan G-7 pada 2030,” papar Iswachju. (ito/ted)

Komentar

?>