Rabu, 29 Maret 2017

Waspada! 8 Warga Pacitan Meninggal Karena Leptospirosis

Senin, 06 Maret 2017 09:24:23 WIB
Reporter : Pramita Kusumaningrum
Waspada! 8 Warga Pacitan Meninggal Karena Leptospirosis
foto/ilustrasi

Pacitan (beritajatim.com) – Leptospirosis bisa dikatakan penyakit yang biasa. Namun di Pacitan, Leptospirosis terus mengancam.

Perkembangan terakhir di awal Maret, sudah ada 23 penderita yang terjangkit penyakit akibat bakteri leptospira itu. Parahnya, nyawa delapan penderita diantaranya tidak tertolong.

Kejadian ini harus menjadi pelajaran agar tidak ada lagi warga Pacitan yang harus meregang nyawa akibat tertular penyakit tersebut. Sebab, menderita leptospirosis sangat menyiksa. Nyawa juga menjadi taruhannya.

"Rasanya demam terus, lelah bekerja pun saya tidak berkeringat," ujar salah seorang mantan penderita leptospirosis, Tumarni, Senin (6/3/2017).

Warga Punjung, Kebonagung, itu menderita leptospirosis selama sebelas hari, mulai akhir Januari hingga awal Februari 2017. Tumarni bisa dikatakan beruntung.

Dia selamat dari koma selama satu minggu. Menurutnya, yang dirasakannya saat terjangkit leptospirosis adalah demam yang terus berangsur parah. Sensor lidahnya juga mati rasa, tidak dapat membedakan mana rasa manis, pedas, atau asin. "Disamping itu, kulit terus menguning. Mata saya juga lebih kuning dari biasanya," terangnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan, Rachmad Dwiyanto, menyebut perkembangan leptospirosis di Pacitan terbilang parah. Dalam kurun waktu tiga bulan, temuan penyakit mampu menyebar hingga di lima kecamatan.

Diantaranya Ngadirojo, Tulakan, Kebonagung, Arjosari, dan Punung. Persebaran itu dinilai unik. Sebab di daerah lain, biasanya temuan leptospirosis hanya ada di satu wilayah.  Pun, biasanya disebabkan karena ada genangan air. Namun di Pacitan, temuannya berbeda. Di Pacitan, tikus penyebar bakteri itu ternyata bergerak. Dari dataran tinggi (Tulakan) terus menurun ke dataran rendah (Punung).

"Mau tidak mau, penanganan serius pun dilakukan. Selain mengimbau masyarakat untuk tetap menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) di lingkungan rumah masing-masing, pemkab juga mencanangkan gerakan gropyak tikus," ujarnya.

Gerakan tersebut diharap dapat dilakukan serentak di 12 kecamatan. Tujuannya, agar mampu seefektif mungkin mengurangi populasi tikus penyebar maut itu. Tidak ada temuan di wilayah kota.

"Yang ada justru di wilayah yang banyak lahan persawahannya. Disanalah tempat tikus-tikus itu hidup, dan jadi sasaran pemberantasan tikus," ujar Rachmad. [mit/suf]

Komentar

?>