Selasa, 25 Juli 2017

Inspiratif, 4 Remaja Dirikan SLB Tanpa Digaji

Kamis, 02 Februari 2017 19:04:59 WIB
Reporter : Pramita Kusumaningrum
Inspiratif, 4 Remaja Dirikan SLB Tanpa Digaji

Ponorogo (beritajatim.com) - Ini berawal dari prihatin dengan lingkungan pendidikan di Ponorogo bagian Selatan. Banyak Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) namun tidak bisa mengeyam pendidikan yang, semestinya. Bahkan terkesan dipaksakan, ABK sekolah di reguler dan harus terusir karena tidak bisa mengikuti pelajaran.

Empat remaja di Ponorogo dirikan Sekolah Luar Biasa (SLB) di Ponorogo bagian Selatan. Tepatnya di Desa/Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo. Selain mendirikan keempatnya juga mengajar tanpa digaji sepeserpun.

Dengan telaten, salah satu guru, Amar Ma'ruf, mengajari salah satu siswa Galing melipat kertas lipat yang berwana-warni. Dia juga harus bersabar ketika siswanya mengamuk tidak bisa.

Terkadang siswa lainnya ikut mengamuk karena tidak diperhatikan. "Ya mau gimana lagi. Kan memang begini terus. Tapi mengasyikan mengajar mereka," kata Amar kepada wartawan, Kamis (2/2/2017).

Amar mengaku, awalnya hanya prihatin dengan keadaan sekitar. Banyak ABK harus tersisihkan karena tidak sanggup mengikuti pelajaran dan teman sebayanya.

Padahal, lanjut dia, pertama mendaftar siswa ABK selalu diterima. Setelah berjalan waktu bakal terusir. "Alasannya tidak bisa mengikuti pelajara. Dan di Ponorogo Selatan tidak ada sama sekali SLB," katanya.

Berawal dari situ, Amar mengaku mendirikan bersam teman-temannya. Antusias warga sangat luar biasa. Dari data yang masuk, ada 70 siswa mendaftar.

Namun banyak yang tidak sekolah karena alasan transportasi. "Siswanya kan dari Pacitan juga. Kadang tidak datang karena tidak ada yang mengantar," ujarnya.

Dari 70 siswa tersebut yang aktif masuk ada 10 orang. Mereka berasal dari Ponorogo bagian Selatan. Yakni Balong, Bungkal, Ngrayun, Slahung. Pun ada dari darrah Tegalombo Pacitan.

Amar menjelaskan sekolah gratis ini juga mendapat berbagai batu sandungan masih didapati oleh guru-guru tersebut. Mulai dari mendapatkan gedung, harus berebut dengan beberapa oknum perangkat desa setempat. Diombang-ambingkan dari Desa ke UPTD.

 "Sempat tidak diberi ruangan. Tapi ada yang baik hati memberikan kunci kantor UPTD. Walaupun bagian Selatan tidak bisa digunaan," katanya.

Amar mengatakan tidak masalah dengan gwdung sekolah yang seadanya. Karena tujuannya menampung siswa ABK. Diberi ketrampilan khusus agar bisa diimpletasikan.

"Ya saya beri ketrampilan. Biar bisa digunakan nanti. Agar tidak dipandang sebelah mata oleh orang normal.ABK juga punya masa depan," pungkasnya. [mit/but]

Komentar

?>