Minggu, 28 Mei 2017

Dinkes Jember Tolak Usulan Buka Identitas Pasien HIV/AIDS

Rabu, 01 Februari 2017 11:12:20 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Dinkes Jember Tolak Usulan Buka Identitas Pasien HIV/AIDS
Diah Kusworini (Dinkes Jember)

Jember (beritajatim.com) - Dinas Kesehatan Kabupaten Jember menolak usulan dari legislator DPRD setempat dari Partai Hanura, Isa Mahdi, untuk membuka identitas pasien HIV/AIDS.

Isa mempertanyakan keistimewaan pasien HIV/AIDS dibanding pasien penyakit lain yang berbahaya, dalam rapat kerja dengan Dinkes di ruang Komisi D DPRD Jember, Selasa (31/1/2017) kemarin.

Isa menginginkan pasien HIV/AIDS tidak ditutupi, sebagai bagian dari upaya melindungi warga yang sehat. "Saya sekarang lebih takut tertular karena pisau cukur daripada hubungan seksual," katanya.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Diah Kusworini mengatakan, kerahasiaan tak hanya pada penderita HIV/AIDS. "Dalam ketentuan kesehatan, rekam medis itu harus dijaga," katanya.

"Pendamping ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) bukan lagi dari Dinkes, tapi lembaga swadaya masyarakat. Kami punya kelompok pendamping sebaya untuk ODHA. Dalam penanggulangan HIV ada tiga komponen di tiap kabupaten. Koordinatornya KPA, kami dari sisi pelayanan, dan LSM yang mendampingi langsung di masyarakat," kata Kusworini.

Menurut Kusworini, sudah banyak ODHA yang terbuka. "Tapi ada beberapa yang keberatan dengan berbagai alasan, karena kalau statusnya dibuka dan diketahui perusahaan tempatnya bekerja, dia khawatir di-PHK. Dia akan kehilangan penghasilan," katanya.

"Dinkes tak sepenuhnya membuka identitas karena ODHA di Jember beragam profesi," kata Kusworini.

Isa Mahdi sempat mengkhawatirkan ada orang-orang yang sengaja menularkan HIV/AIDS. Namun Kusworini menegaskan, pihaknya sudah memberikan ancaman kepada mereka. "Kalau mereka masih berperilaku seperti ini dan tidak mau minum obat rutin, statusnya akan dibuka," katanya.

Isa Mahdi bersikeras identitas penderita HIV/AIDS bisa dibuka karena penyakit itu wabah. Data Dinkes Jember menunjukkan jumlah kasus HIV/AIDS sejak 2004 hingga 2016 mencapai 2.876 kasus, dan 226 pasien di antaranya meninggal dunia.

"Orang yang merasa tidak melakukan perbuatan tadi (hubungan seks tidak aman), tertular HIV/AIDS. Ini secara psikologis pasti ingin balas dendam, walau itu mungkin hanya nol koma sekian persen. Saya ingin Jember menyuarakan ini," kata Isa.

Kusworini mengatakan, Dinkes butuh payung hukum jika memang hendak membuka status ODHA. "Pernah ada rumah sakit yang membuka status, dilaporkan ke Komnas HAM," katanya. (wir/kun)

Komentar

?>