Jum'at, 24 Nopember 2017

Legislator Hanura Minta Nama Penderita HIV/AIDS Tidak Dirahasiakan

Selasa, 31 Januari 2017 20:20:36 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Legislator Hanura Minta Nama Penderita HIV/AIDS Tidak Dirahasiakan

Jember (beritajatim.com) - Anggota Komisi D DPRD Jember Isa Mahdi menyebut sinyal merah tengah menyala, karena jumlah kasus HIV/AIDS di kota tersebut mencapai ribuan. Dia meminta agar nama penderita HIV/AIDS tidak dirahasiakan.

"Tidak ada satu pun kecamatan yang terhindar dari penderita HIV/AIDS. Ini luar biasa dan kita tidak boleh main-main harus betul-betul serius," kata legislator Partai Hati Nurani Rakyat ini, dalam rapat dengar pendapat dengan Dinas Kesehatan Jember di ruang Komisi D, Selasa (31/1/2017).

Berdasarkan data Dinkes, sejak 2004 hingga 2016, ditemukan 2.876 kasus HIVAIDS dan 739 kasus AIDS. Sebanyak 129 pria pengidap HIV dan 97 pria pengidap AIDS meninggal dunia. Jumlah ini lebih besar dari kaum hawa, yakni 98 orang pengidap HIV dan 68 pengidap AIDS meninggal dunia.

Jumlah penderita terbesar berada di Kecamatan Puger dengan 228 kasus HIV dan 64 kasus AIDS, diikuti Kecamatan Kencong dengan 215 kasus HIV dan 50 kasus AIDS. Jumlah temuan penderita terbesar berikutnya di Kecamatan Gumukmas, yakni sebesar 195 kasus HIV dan 45 kasus AIDS. "Ini rata-rata berada di wilayah selatan. Ini butuh keseriusan kita, karena saya yakin ini akan meledak," kata Isa.

Isa lebih khawatir penyebaran HIV/AIDS di luar hubungan seksual. "Itu awal dulu. Tapi sekarang dengan adanya alat kontrasepsi, lebih aman. Saya justru lebih khawatir penularan melalui jarum suntik. Ini harus jadi pembicaraan bersama, bagaimana upaya menanggulangi ini," katanya.

Isa mengkritik kebijakan dunia medis yang merahasiakan nama-nama penderita HIV/AIDS. "Apa sih bedanya dengan penderita tuberkulosis? Ini sama-sama penyakit mematikan. Tapi ternyata sekarang hanya karena mengatasnamakan hak asasi manusia (melindungi identitas penderita HIV/AIDS, red), hak asasi kita yang masih sehat tidak diperhatikan," katanya.

"Bukan kita mau mengadili penderita HIV. Tapi apa bedanya dengan tuberkulosis? Sama-sama penyakit mematikan. Kenapa kalau TB kita bisa tahu pasiennya, sementara mereka (pasien HIV/AIDS) ditutupi. Padahal kalau kena, kita tinggal menghitung waktu, walau kenanya bukan karena hubungan seksual," kata Isa.

Isa menyatakan lebih takut tertular HIV/AIDS lewat pisau cukur. "Sampai-sampai saya kalau cukur bawa pisau silet sendiri. Kita setiap hari berinteraksi dengan seseorang, tidak tahu dia penderita HIV/AIDS," katanya.

Mantan marinir ini khawatir ada penderita HIV/AIDS yang punya motif buruk menularkan penyakit kepada orang lain. "Ini harus kita waspadai. Jangan hanya tunduk kepada aturan tertulis. Semakin kita tutup terus ini, kita semakin tidak tahu," katanya. [wir/kun]

Komentar

?>