Minggu, 28 Mei 2017

Gelar Aksi Doa Bersama dan Tabur Bunga

Aktivis GPN Kediri Raya Tolak Pemindahan Jasad Tan Malaka

Sabtu, 21 Januari 2017 15:43:12 WIB
Reporter : Nanang Masyhari
Aktivis GPN Kediri Raya Tolak Pemindahan Jasad Tan Malaka

Kediri (beritajatim.com) – Seruan menolak pemindahan jasad Ibrahim Datuk Tan Malaka semakin kencang. Kali ini datang dari para aktivis Gerakan Pemuda Nusantara (GPN). Kediri Raya.
 
Puluhan aktivis GPN menggelar aksi doa bersama dan tabur bunga di makam Tan Malaka di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Aksi ini mendapat pengawalan dari anggota kepolisian dan TNI.
 
Sebelum menggelar aksi doa bersama dan tabur bunga, aktivis GPN menyuarakan penolakan terhadap Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat yang berniat memboyong jasad Tan Malaka. Menurut GPN, Tan Malaka sudah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Sehingga seluruh masyarakat Indonesia berhak memilikinya.
 
“Kami berhak memiliki Tan Malaka. Pengambilan jenasah maupun pemindahan Tan Malaka dari Kediri adalah upaya tidak elegan. Pemkab Lima Puluh Kota harus menghormati masyarakat yang ingin mempertahankan jasan Tan Malaka tetap berada disini. Biarkan Tan Malaka tetap berada disini, dan semangatnya menjadi inspirasi bagi kita,” tegas Ketua DPP GPN Very Acmad dalam orasinya, Sabtu (21/1/2017).
 
Setelah berorasi, para aktivis kemudian menuju ke makam Tan Malaka yang berada di tengah-tengah pemakaman umum, yang diapit lahan persawahan. Mereka membawa berbagai poster, juga bendera GPN. Diantara isi poster besar yang dibawa aktivis adalah “Menolak Pemindahan Makam Tan Malaka, Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras,”.
 
Setelah doa bersama dan tabur bunga, para aktivis GPN kemudian membacakan pernyataan sikapnya. Mereka tegas menolak rencana pemindahan jasad tan malaka maupun makamnya dari Kediri. GPN meminta Pemkab Lima Puluh Kota bisa belajar dari keluarga pahlawan lain seperti, Cut Nyak Dien yang dimakamkan di Sumedang, Jawa Barat, meskipun berasal dari Aceh.
 
“Tan Malaka ini milik seluruh masyarakat Indonesia. Bukan milik golongan tertentu, maupun satu adat. Meskipun tanpa membawa jasad Tan Malaka, Pemkab Lima Puluh Kota masih bisa kemari berziarah,” imbuh Very Achmad.
 
Setelah aksi simpatik ini, aktivis GPN akan mengirimkan surat pernyataan sikap menolak pemindahan jasad ke Pemerintah Kabupaten Kediri dan Pemkab Lima Puluh Kota. GPN juga bakal mendesak Pemkab Kediri untuk lebih memperhatikan makam Tan Malaka yang memprihatinkan dengan memperbaiki fasilitas jalan maupun tempat pemakamannya.
 
Sebelumnya, Pemkab Kediri mengirimkan surat ke Kementerian Sosial Republik Indonesia perihal permintaan tes DNA terhadap Tan Malaka. Sebab, kematiannya masih menjadi misteri.

Di tengah polemik pemindahan jasadnya, belakangan muncul banyak versi cerita sejarah riwarat hidup hingga kematian Tan Malaka.

Yaitu, selain dimakamkan di Desa Selopanggung, kabarnya Tan Malaka dibunuh di Desa Petok, Kecamatan Mojo dan jasadnya dihanyutkan ke Sungai Brantas. (nng/ted).

Komentar

?>