Minggu, 17 Desember 2017

Cerita Tan Malaka Mati Terbunuh dan Jenasahnya Dihanyutkan ke Sungai Brantas

Jum'at, 20 Januari 2017 11:15:01 WIB
Reporter : Nanang Masyhari
Cerita Tan Malaka Mati Terbunuh dan Jenasahnya Dihanyutkan ke Sungai Brantas

Kediri (beritajatim.com) - Di tengah polemik pemindahan jasad Ibrahim Datuk Tan Malaka ke tanah kelahirannya, muncul banyak versi cerita tentang kematian pahlawan perjuangan kemerdekaan Indonesia itu. Belakangan mengemuka apabila Tan Malaka dibunuh dan jenasahnya dihanyutkan ke Sungai Brantas sekitar Desa Petok, Kecamatan Mojo bukan dimakamkan di pemakaman umum Desa Selopanggung, Kecamatan Semen.

Tugu Tan Malaka ini menjadi salah satu bukti peristiwa kelam pembunuhan sang pahlawan revolusioner asal Sumatera Barat itu, sekitar 68 tahun silam. Tugu prasasti ini menancap di tepi Sungai Brantas tepatnya, di Desa Petok, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri.

Ialah Mbah Gapar, saksi sejarah yang masih mengingat kejadian pembunuhan Tan Malaka oleh para tentara. Kala itu Indonesia baru saja merdeka didatangi kembali Belanda dalam agresi militer keduanya. Tan malaka yang dituduh sebagai mata-mata penjajah dihabisi pada tengah malam, lalu jenasahnya dihanyutkan ke Sungai Brantas .

"Tan Malaka dibawa kesini dari Semen. Dia dianggap mata mata Belanda dan mau dibunuh. Setelah itu dibunuh di tepi Sungai Brantas. Dan jenasahnya dihanyutkan," jelasnya Mbah Gapar, Jumat (20/1/2017).

Keesokan harinya, Mbah Alip, warga setempat melihat jenasah Tan Malaka yang terbunuh menyangkut di tempat penyeberangan perahu getek. Karena ketakutan dia kemudian mendorong jenasah itu ke tengah sungai hingga akhirnya benar-benar terhanyut .

"Saya dengar cerita ini langsung dari Mbah Alip. Beliau saksi mata yang melihat jasad itu tersangkut di tambangan perahu," kata Mbah Sapar dirumanya.

Mbah Gapar mengaku, Tan Malaka bukanlah orang sembarangan. Saat pembunuhan terjadi, peluru tentara yang diarahkan ke kepalanya terpental. Tan akhirnya terbunuh setelah tembakan kedua tepat mengenai tenggorokannya.

"Ditembak satu kali mengenai dahinya tidak apa-apa. Malah mirip (mengeluarkan cahaya). Baru setelah ditembak bagian leher tepat ditenggorokannya, kemudian meninggal," imbuhnya.

Sebagai salah satu saksi sejarah, Mbah Gapar kerap menjadi jujugan orang yang ingin tahu cerita Tan Malaka. Sampai saat ini ia masih menyimpan buku tentang Tan Malaka yang ia dapat dari keluarga Mantan Presiden RI KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang pernah mengunjunginya.

Buku itu berjudul memoar Datuk Ibrahim. Tertulis besar di sampul depannya gelar Tan Malaka 1897 - 1949. "Buku ini dibagikan oleh adik Gus Dur sewaktu berziarah kemari. Masyarakat disini diajak tahlil bersama. Setelah itu, tugu Tan Malaka dibangun sebagai tanda sejarah dan tempat berziarah," bebernya.

Buku memoar Tan Malaka berisi riwayat hidup Tan Malaka, cerita perjuangan Tan Malaka hingga akhir hayatnya dibunuh dan jenasahnya dihanyutkan ke Sungai Brantas.

Inilah bait puisi dialami buku tersebut, "dengan sekedar mengenang beliau semeoga dosa dosa bangsa ini terampuni. Kiranya arwah pun memahami doa doa kecil anak negeri yang lemah ini. Dimana tanah air dan udara di seluruh pojok nusantara pernah di hangatkan api semangatnya.

jika Allah menghndaki sisa sisa debut revolusi akan terkumpul kembali menyatukan negeri yang cerai berai dan bnerrantakan sepereti saat ini. (Petok Kediri - Jawa Timur).

Tugu Tan Malaka ini menjadi pengingat masyarakat setempat juga sebagai tempat berziarah. Pada tugu ini tertulis prasasti penobatan Tan Malaka sebagai pahlawan Nasional melalui surat keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 53 tanggal 28 maret 1963.

Untuk diketahui, Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat berencana memboyong jenasah Tan Malaka ke tanah kelahirannya. Jasad Tan diyakini bersemayam di pekuburan Desa Selopanggung. Namun masyarakat setempat menolaknya, sehingga Pemerintah Kabupaten Kediri bakal mempertahankan. (nng/kun)

Komentar

?>