Minggu, 28 Mei 2017

Polemik Tan Malaka, Pemkab Kediri Minta Tes DNA Ulang

Selasa, 17 Januari 2017 22:07:10 WIB
Reporter : Nanang Masyhari
Polemik Tan Malaka, Pemkab Kediri Minta Tes DNA Ulang

Kediri (beritajatim.com) - Pemerintah Kabupaten Kediri akan mengirim surat ke Kementerian Sosial Republik Indonesia perihal permintaan uji deoxyribonucleic acid (DNA) ulang jasad Datuk Ibrahim Tan Malaka yang diyakini makamnya berada di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri.

Pasalnya, pemkab belum pernah menerima hasil tes DNA sebelumnya. Selain itu, bermunculan kabar bahwa jasad tokoh gerakan kiri itu tidak dimakamkan di tempat pemakaman umum Desa Selopanggung.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Kediri, Sugeng Waluyo mengatakan, pernah dilakukan uji DNA terhadap jasad yang bersemayam di makam Desa Selopanggung yang diyakini sebagai Tan Malaka. Akan tetapi, sampai hari ini hasil tes DNA tersebut belum ada. Oleh karena itu, Pemkab Kediri berharap dilakukan pengujian ulang.

"Dulu pernah dilakukan tes DNA, tetapi sampai sekarang hasilnya belum tahu. Kemensos pun juga belum tahu hasilnya. Alangkah baiknya apabila dilakukan tes ulang lagi. Tes itu harus dilakiukan oleh Kementerian Sosial supaya hasilnya lebih netral," beber Sugeng, Selasa (17/1/2017).

Menurut Sugeng, uji DNA ulang sangat perlu. Sebab, selain hasil tes sebelumnya belum ada, berkembang kabar bahwa Tan Malaka tidak disemayamkan di pekuburan Desa Selopanggung, namun justru di tempat lain. Dinsos Kabupaten Kediri menerima informasi dua versi tempat lain yaitu, di Desa Petok, Kecamatan Mojo dan Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri.

Informasi yang dihimpun beritajatim.com menyebutkan, pembongkaran makam yang diyakini bersemayam jasad Tan Malaka di Desa Selopanggung, dilakukan pada 2009 silam. Pembongkaran tersebut bertujuan meneliti jasad di dalamnya dan dilakukan uji DNA.

Untuk diketahui, Tan Malaka adalah seorang aktivis pergerakan Indonesia. Tan pernah menjadi perwakilan komunis internasional (komitern). Setelah keluar dari PKI (Partai Komunis Indonesia), Tan Malaka mendirikan Partai Murba.

Selama berada di gerakan kiri, pria kelahiran Suliki, Sumatera Barat, ini lebih banyak menghabiskan hidupnya sebagai buronan tentara kolonial.  Selama berada di pelarian, Tan banyak menulis buku.

Diantaranya; Massa Aksi, Madilog, Dari Penjara ke Penjara, Gerpolek, serta Menuju Republik Indonesia. Buku terakhir ini disebut-sebut sebagai salah satu dasar cita-cita terbentuknya Republik Indonesia. Sedangkan buku Massa Aksi merupakan kitab pegangan para tokoh pergerakan masa itu, termasuk Sukarno dan Syahrir.

Pria yang lahir di Nagari Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, 19 Februari 1896, itu diyakini wafat di Kediri, Jawa Timur, pada 16 April 1949 pada umur 53 tahun. Pada Maret 1963, atau 14 tahun setelah kematiannya, Tan Malaka ditetapkan Presiden Sukarno sebagai Pahlawan Nasional.

Kini pihak keluarga bersama Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat berencana memboyong jenasah Tan Malaka ke tanah kelahirannya, karena sang pahlawan merupakan pemangku adat.

Namun, Pemkab Kediri menyatakan rencana tersebut masih sepihak, karena belum ada surat izin pemindahan resmi dari Kemensos RI. Disisi lain, masyarakat setempat menolak pemindahan jasad Tan Malaka dari pekuburan desa. [nng/suf]

Komentar

?>