Jum'at, 24 Nopember 2017

Kadinsos Pemkab Kediri Sebut Kepentingan Sepihak

Jasad Tan Malaka Terus Jadi Polemik

Selasa, 17 Januari 2017 21:24:20 WIB
Reporter : Nanang Masyhari
Jasad Tan Malaka Terus Jadi Polemik

Kediri (beritajatim.com) - Polemik pemindahan jasad tokoh perjuangan Republik Indonesia Datuk Ibrahim Tan Malaka dari Kabupaten Kediri ke tanah kelahirannya di Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat tampaknya bakal berkepanjangan. Meskipun pihak keluarga ngotot untuk memboyong jasad sang revolusioner, tetapi sampai saat ini Kementerian Sosial (Kemensos) RI belum mengeluarkan surat izin pemindahan.

Belum adanya surat ini disampaikan langsung Kepala Dinsos Kabupaten Kediri Sugeng Waluyo setelah menerima kunjungan dari Direktorat Kepahlawanan, Keperintisan, Kesetiakawanan dan Restorasi Sosial (K2KRS) Kemensos RI. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Kediri melalui dinsos setempat menyatakan bahwa rencana pemindahan jasad Tan Malaka adalah kepentingan sepihak.

"Sesuai keterangan pak Dirjen K2KRS saat berkunjung ke Kabupaten Kediri kemarin kok belum mengizinkan. Sebab, beliau malah mengatakan masih mencari referensi dan saran serta masukan dari sini (Kabupaten Kediri). Untuk sikap dari Pemkab Kediri sendiri mengikuti kemauan masyarakat dan pemerintah desa setempat dalam hal ini Desa Selopanggung. Masyarakat merasa memiliki pahlawan Tan Malaka. Kalau itu jasad pribadi, tentunya tidak ada masalah. Tetapi karena ini pahlawan Nasional, maka semua merasa memiliki," beber Sugeng di kantornya, Selasa (17/1/2017).
 
Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota bersama ahli waris sudah mendatangi makam pahlawan revolusior itu di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen untuk kedua kalinya. Wakil Bupati Limapuluh Kota Fehrizal Ridwan dalam pernyataan sebelumnya mengaku, sudah menempuh berbagai langkah untuk membawa pulang jasad Tan Malaka. Diantaranya langkah itu adalah menyurati Kemensos RI. Namun demikian, hingga saat ini, Kemensos belum mengirimkan surat perihal izin pemindahan jasad itu ke Pemkab Kediri maupun Dinsos setempat.

"Pemindahan jasad itu tentunya ada prosedur yang harus dilalui. Harus ada izin dari pemerintah. Tetapi kenyataanya, sampai sekarang ini memang belum ada izin. Bahkan, apabila kita mengamati pernyataan pak Dirjen kemarin, beliau sangat mengapresiasi apa yang sudah dilakukan oleh masyarakat setempat dengan membangun undak-undakan menuju ke makam. Itu artinya, masyarakat menghendaki agar makam itu tetap berada disana, dan jasad yang ada didalamnya juga tetap disana," tandas Sugeng.

Sebagaimana sudah diberitakan sebelumnya, pihak keluarga Tan Malaka merasa memiliki hak untuk membawa jasad sang datuk ke tempat kelahirannya yatiu, ke Desa Padan Gadang, Kecamatan Suleki Gunung Mas, Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatra Barat. Di kampung halamannya, Tan Malaka merupakan raja adat Bumustangkai ke empat yang membawahi 140 datuk.

Sementara itu, rencananya pemindahan jasad tersebut akan dimulai, pada 15 Januari dengan kirab melewati lokasi-lokasi yang pernah dilalui Tan Malaka dan ditargetkan sampai di Kediri, 21 Februari tahun depan, sekaligus pemindahan jenazah dari makam almarhum. [nng/but]

Komentar

?>