Selasa, 25 April 2017

Uniknya Masjid Cheng Hoo, Budaya Islam - Tionghoa Berpadu

Rabu, 11 Januari 2017 18:55:41 WIB
Reporter : Ayu Lestari
Uniknya Masjid Cheng Hoo, Budaya Islam - Tionghoa Berpadu

Surabaya (beritajatim.com) – Perjalanan Laksamana Cheng Hoo (Zheng He) dalam penyebaran agama Islam di Indonesia meninggalkan jejak nyata. Dalam beberapa perjalanan menyinggahi wilayah Indonesia melalui jalur perairan, Cheng Hoo dikenal sebagai sosok yang baik dan berperan dalam perkembangan Islam Indonesia.

Terbukti dengan beberapa bangunan masjid bernuansa Tionghoa, sebagai bentuk penghormatan kepada sang Laksamana. Dari beberapa daerah, salah satunya adalah yang berlokasi di Surabaya.

Masjid yang dikenal dengan sebutan Masjid Muhammad Cheng Hoo ini adalah masjid bernuansa Tionghoa terletak di jalan Gading 2, Ketabang Genteng Surabaya.

Pembangunan masjid diawali dengan peletakan batu pertama pada 15 Oktober 2001, bertepatan dengan Isra’ Mi’raj nabi Muhammad SAW. Namun, baru resmi difungsikan sebagai tempat ibadah pada 28 Mei 2003 oleh Menteri Agama RI, Said Agil Husin Al-Munawwar. Masjid Cheng Hoo ini didirikan atas prakarsa para pengurus PITI dan pengurus Yayasan Muhammad Cheng Hoo Surabaya.

Ada beberapa bagian yang unik dari masjid Cheng Hoo ini, warna masjid ini didominasi oleh warna merah, hijau, dan kuning. Masjid ini di bangun berukuran 11x11, diambil dari ukuran baitullah saat pertama kali dibangun oleh nabi Ibrahim. Dengan harapan setiap yang melakukan Ibadah di masjid ini akan sama khusyu’nya seperti ibadah para Auliya’ Allah.

Pada pintu masuk, khas Tionghoa sangat menonjol, pintu berbentuk pagoda dan bertuliskan lafadz Allah. Pintu masjid sengaja dibuat tanpa daun pintu, menandakan masjid ini terbuka untuk siapa saja, tanpa pandang ras dan bulu untuk beribadah di dalamnya. Begitupun pada sisi kiri dan kanan masjid jika dilihat dari kejauhan, lafadz tulisan kaligrafi arab akan terlihat bergandengan. Pada sisi kiri pintu masuk terdapat bedug, yang menandakan khas budaya Islam di Indonesia.

Pada bagian yang berfungsi sebagai atap masjid dibentuk menyerupai pagoda, ada tiga tingkatan relief. Masing-masing relief terdiri atas 8 sisi. Pertama berbentuk persegi panjang, tingkat kedua berbentuk segilima, dan tingkat paling atas berbentuk segitiga samasisi. Jika dilihat lebih detail, relief-relief ini akan menyerupai sarang laba-laba, yang merupakan sesuatu yang menyelamatkan Nabi Muhammad dan sahabat Abu Bakar dari kejaran kaum Quraisy.

Anak tangga pada bagian kiri kanan masing-masing berjumlah 5 dan 6, hal ini juga merupakan lambang dari rukun iman dan rukun Islam dalam agama Islam.

“Masjid ini khas nuansa Tionghoanya, sengaja dibangun dengan 8 sisi pada relief atas, karena menurut kepercayaan Tionghoa angka delapan adalah angka peruntungan,” tutur Ustad Hasan Basri, ketua Yayasan Masjid Cheng Hoo ketika di wawancarai reporter beritajatim.com, Rabu (11/01/17).

Tidak hanya digunakan sebagai tempat ibadah saja, ada kegiatan rutinan setiap harinya, seperti majlis ta’lim, sasana (pelatihan kesehatan untuk lansia), pengajian oleh pengurus PITI Surabaya, istighosah dan doa bersama (setiap Sabtu) serta Tabligh Akbar (setiap dua bulan sekali). Semua kegiatan itu berfungsi untuk pengembangan Masjid Cheng Hoo.

"Keberadaaan masjid ini bukan tanpa sebab, meski letaknya yang kurang strategis, masjid ini ada sebagai bukti niat luhur Laksamana Cheng Hoo untuk menyebarluaskan islam hingga sudut manapun,” imbuh Ustad Hasan yang terlahir dengan nama asli Liem Fuk Shan ini. [ayu/but]

Tag : budaya

Komentar

?>