Kamis, 23 Nopember 2017

Mahasiswa Ubaya Kembangkan Palang Pintu Kereta Api Bertenaga Aki

Selasa, 10 Januari 2017 17:26:42 WIB
Reporter : Fahrizal Tito
Mahasiswa Ubaya Kembangkan Palang Pintu Kereta Api Bertenaga Aki

Surabaya (beritajatim.com) - Tiga mahasiswa Program Studi (prodi) Teknik Manufaktur Fakultas Teknik Universitas Surabaya (Ubaya) kembangkan alat otomasi palang pintu kereta api, bertenaga aki yang diberinama 'Automatic Railway Gate System (AuraGS)'.

Mereka ialah Anthoni, Andreas Wijaya dan Yovita Sugionoputri. Merancang AuraGS berlatar belakang karena tingginya angka kecelakaan kereta api yang disebabkan oleh segala macam faktor.

Yovita Sugionoputri, saat ditemui di kampus Ubaya Tenggilis, Selasa (10/1/2016). mengatakan berdasarkan (Sumber : Database KNKT, 31 Oktober 2016), Data Investigasi Kecelakaan Perkeretaapian dari tahun 2010 – Oktober 2016, sebanyak 35 peristiwa kecelakaan kereta api yang merenggut 55 korban jiwa dan 240 korban luka-luka.

"Hal tersebut dikarenakan tidak adanya palang pintu pada perlintasan kereta api yang disebabkan oleh tidak ada atau kurangnya pasokan listrik, selain itu juga disebabkan oleh kelalaian petugas dalam menutup palang pintu perlintasan (human error). Makadari itu, AuraGS bertujuan untuk mengurangi angka kecelakaan kereta api yang disebabkan tidak adanya palang pintu perlintasan, kelalaian petugas dalam menutup pintu perlintasan, dan tidak menutupnya palang pintu perlintasan akibat pemadaman listrik," tutur Yovita.

Alat AuraGS, dijelakskan Mahasiswi semester VI ini. Bahwa alat tersebut cocok dikembangankan pada palang pintu yang berada di daerah-daerah terpencil yang memiliki sumber daya listrik yang minim.

"Karena AuraGS menggunakan aki sebagai sumber daya energi, sehingga bisa mengakomodir daerah yang tidak memiliki palang pintu kereta api yang memiliki keterbatasan sumber daya listrik," ujar Yovita.

Selain itu, tambahnya. Aki ini juga untuk self-charging atau menyimpan daya energi kinetik dengan memanfaatkan baling-baling yang digerakkan oleh angin saat kereta api melintas.

"Putaran baling-baling akan dikonversi menjadi energi listrik melalui converter yang selanjutnya dialirkan menuju aki untuk mengisi daya aki," kata Yovita.
 
Sementara itu, juga terdapat dua macam sensor pada AuraGS yaitu sensor mekanik sebagai sensor utama dan photo sensor sebagai sensor pembantu. "Photo sensor digunakan sebagai sensor pengganti, dimana photo sensor bekerja saat terjadi kegagalan sistem pada sensor mekanik," papar Yovita.

Sebelumnya, tim mengadakan survey dan juga konsultasi dengan PT Kereta Api Indonesia tentang standar-standar keamanan yang ada.

Selanjutnya, Anthoni, mengungkapkan ukuran, prototype menggunakan perbandingan 1:2 sehingga mirip dengan aslinya. Atau secara terperinci ukuran panjang Palang kereta asli 4 meter, dan tingginya 1 meter.

"Sementara ukuran baling-baling, dibuat seperti ukuran aslinya yaitu tingginya 1,8 meter. Tim memanfaatkan fan indoor AC bekas yang dirakit dengan baja untuk menjadi baling-baling. Nantinya, baling-baling akan diletakkan 1,2 meter dari rel kereta," urai Anthoni.

Sementara itu, Dosen Pembimbing AuraGS Sunardi Tjandra ST MT mengatakan, AuraGS telah memperoleh beberapa prestasi di antaranya Juara 1 Pekan Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya (Pimus) 2014 Cabang Karya Tulis Ilmiah, Medali Perak International Invention, Inovation, and Design 2015 di Johor, Malaysia.

“Dalam Pimus dan International Invention, Inovation, and Design 2015 di Johor itu hanya perancangan sistem saja, kemudian baru dikembangkan sehingga menghasilkan protorype dengan skala perbandingan 1:2. Selain itu, AuraGS juga menerima Hibah Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) oleh Kemenristekdikti Periode Pendanaan 2016,” tandas Sunardi. (ito/ted)

Tag : ubaya

Komentar

?>