Pendidikan & Kesehatan

Yashinta Nurrahma, Lulusan AS yang Ingin Transfer Kualitas Pendidikan di ITS

Surabaya (beritajatim.com) – Mengeyam pendidikan tinggi sampai ke luar negeri, khususnya Amerika Serikat, menjadi cita-cita banyak anak muda di Indonesia. Kualitas pendidikan menjadi salah satu alasan mengapa banyak orang bermimpi kuliah di Amerika Serikat, tak terkecuali Yashinta Nurrahma, alumni universitas AS asal Surabaya, Jawa Timur.

Yashinta memilih studi di Amerika karena bidang studi yang dia pilih, Educational Leadership – Higher Education banyak ditawarkan oleh universitas di Amerika. Dia banyak belajar manajemen pendidikan perguruan tinggi yang diterapkan di kampus Amerika. Universitas di Amerika terkenal memiliki kualitas pendidikan yang bagus, fasilitas yang lengkap dan mendukung proses belajar-mengajar.

Selama studi di Amerika, Yashinta mengobservasi kampus-kampus yang bukan merupakan Ivy League, tetapi kampus tersebut tidak kalah kualitasnya dengan Ivy League. Banyak kampus pemerintah atau state university yang bagus kualitas pendidikannya, inovatif, dan memiliki fasilitas yang lengkap. Setiap kampus memiliki kelebihan tersendiri dan mempunyai program studi unggulan di bidang spesifik.

Menurutnya, alasan mengapa banyak mahasiswa internasional, terutama dari Indonesia memilih kampus Ivy League, karena banyak dari mereka yang belum mengenal tipe universitas di Amerika. “State university atau universitas negeri di AS memiliki kualitas pendidikan yang tidak kalah dengan kampus Ivy League, tetapi dengan biaya pendidikan yang lebih terjangkau. Lokasi kampus negeri biasanya juga bukan di kota besar sehingga biaya hidup lebih murah,” tutur Yashinta.

Selain itu, lingkungan akademik di Amerika sangat mengutamakan kebebasan berpendapat, kelas-kelas di Amerika sangat hidup dalam diskusi. Yahinta terkesan sekali dengan ide originalitas yang sangat ditekankan di bidang akademik oleh para dosen di AS. “Plagiarism adalah hal yang sangat memalukan dan mendapatkan sanksi berat dari kampus,” ucapnya.

Yashinta pun banyak belajar budaya yang positif selama kuliah di AS, di antaranya budaya tepat waktu sangat ditekankan di dalam kehidupan di kampus. Apabila terlambat, siswa bisa-bisa dianggap memiliki ‘rude behaviour’. Dia sendiri yang dulunya terbiasa datang di waktu yang mepet dengan jadwal kuliah, jadi terbiasa datang minimal 10-15 menit sebelum kelas dimulai.

“Salah satu hal lagi yang sangat saya sukai dari budaya Amerika adalah budaya berkompetisi. Setiap orang boleh mencapai mimpinya dengan berkompetisi tanpa diskriminasi,” tegasnya.

Menurutnya, generasi muda perlu melanjutkan studi di Amerika karena selain kualitas pendidikan yang bagus, fasilitas yang mendukung dan inovatif, generasi muda dapat lebih siap menghadapi tantangan dunia global karena mahasiswa asing yang kuliah di Amerika sangat beragam dan datang dari berbagai negara “Mahasiswa Indonesia jadi terbiasa berinteraksi dengan orang yang berasal dari budaya yang berbeda,” ucapnya.

Lebih lanjut, Yashinta mengajak pelajar di Jawa Timur dan sekitarnya untuk mengikuti Pameran Pendidikan Tinggi Amerika Serikat pada 11 Februari 2020 di JW Marriot Hotel Surabaya pukul 14.00 hingga 18.00 WIB. “Melalui pameran pendidikan ini, para pelajar yang tertarik kuliah ke Amerika bisa bertanya langsung ke universitas-universitas di Amerika, tentang program studi yang mereka miliki dan berkonsultasi dengan EducationUSA adviser tentang cara-cara sekolah ke Amerika Serikat,” jelasnya.

EducationUSA adalah jaringan yang didukung sepenuhnya oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. EducationUSA memberikan informasi yang akurat, terkini, menyeluruh tentang pendidikan tinggi di Amerika Serikat. Layanan yang diberikan adalah berupa konsultasi tentang cara pemilihan universitas, proses aplikasi, bantuan keringanan finansial/beasiswa, seminar dan pelatihan, pameran pendidikan, dan bagian terbaik adalah semua layanan kami tidak memungut biaya.

Ingin Berkontribusi untuk Pendidikan Tinggi di Surabaya
Selama berkuliah di Amerika, Yashinta banyak belajar tentang manajemen pengelolaan perguruan tinggi kampus di Amerika termasuk student affairs, leadership and administration dan international education. Student affairs meliputi segala pelayanan yang berhubungan dengan mahasiswa secara langsung. Leadership and administration mempelajari struktur organisasi, model kepemimpinan, dan politik di universitas universitas di Amerika.

Sementara international education mempelajari pengelolaan kantor international yang melayani mahasiswa asing. Pelayanan apa saja yang dibutuhkan bagi mahasiswa asing, program promosi bagi universitas untuk merekrut mahasiswa asing dan internasional student engagement.

“Perguruan tinggi di Amerika dapat dengan leluasa mengelola manajemennya tanpa banyak intervensi dari pemerintah karena di Amerika tidak ada Menteri Pendidikan. Salah satu benefitnya, kampus dapat mengelola sumber dayanya dengan leluasa untuk menciptakan bisnis yang dapat membiayai operasional kampus sehingga tidak begitu membebani mahasiswa,” ujarnya.

Menariknya, di program pascasarjana yang dia ambil, ada satu mata kuliah yaitu Foundation of Higher Education yang membahas segala aspek yang mendasari perguruan tinggi, salah satunya adalah pentingnya mental health bagi mahasiswa.

“Di kampus saya, kesadaran tentang mental health sangat diperhatikan dan mental health counseling center sering melakukan sosialisasi sehingga mahasiswa tidak segan untuk berkunjung ke Counselling Center,” Yashinta.

Hal baru lainnya yang menarik adalah mata kuliah Higher Education Law. Di mata kuliah ini, Yashinta belajar kasus kasus hukum yang biasanya menimpa perguruan tinggi dan bagaimana solusi terbaik dari kasus kasus tersebut. Dia mendapati bahwa bahwa di Amerika, mahasiswa diberikan kebebasan untuk berpendapat sekaligus dapat mengajukan tuntutan hukum apabila dia mendapat ada sesuatu hal yang tidak adil atau tidak benar menurut pandangan mereka.

Melihat bahwa pelayanan kepada mahasiswa di AS sangat diutamakan dalam segala aspek, mulai dari segi pengajaran dan non pengajaran, dari dosen hingga staf administrasi, Yashinta berharap model management Pendidikan yang baik di AS untuk diterapkan di universitas-universitas di Indonesia, terutama di tempat dia bekerja saat ini di ITS Surabaya.

Kampus di AS memfasilitasi mahasiswa bagaimana membuat mahasiswa merasa nyaman belajar dan betah berlama lama di dalam kampus. Student lounge center yang sangat nyaman dan buka hingga tengah malam, library 24 jam, fasilitas sport center yang sangat lengkap fasilitas olahraganya yang juga beroperasi hingga tengah malam.

“Visi dan misi universitas di kampus Amerika juga menyebutkan ‘student success’ sebagai salah satu tujuan utama,” terangnya.

Selain itu, kampus di Amerika menerapkan protokol dengan standar internasional untuk penanggulangan bencana. Hal ini Yashinta alami sendiri pada saat dia mengungsi karena Hurricane Florence di bulan Oktober 2018. Dalam jangka waktu kurang dari 1x 24 jam, seluruh kampus sudah kosong. Mahasiswa yang tinggal di dalam kampus diungsikan ke kota terdekat menjauhi zona bencana.

“Saya mengharapkan bahwa ITS atau universitas universitas di Indonesia menerapkan protokol dengan standar internasional untuk penanggulangan bencana terutama apabila mereka memiliki banyak mahasiswa asing atau berencana merekrut banyak mahasiswa asing ke depannya,” cetusnya.

Di kampus Amerika, asuransi kesehatan juga diwajibkan bagi mahasiswa asing. Asuransi tersebut meliputi salah satu klausul apabila mahasiswa asing tersebut meninggal dunia di lokasi dia belajar, maka jenazahnya dapat dipulangkan kembali ke negara asal. “Hal ini yang perlu menjadi perhatian universitas-universitas di Indonesia,” tutupnya. [rea/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar