Pendidikan & Kesehatan

Tingkatkan Mutu PPDB, 1 Zonasi 1 Sekolah Sistem SKS

Surabaya (beritajatim.com) – Bersamaan dengan peresmian Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA dan SMK yang diadakan hari ini, Senin (20/5/2019), PLT Dindik Jatim Hudiono pun membagikan informasi dan sosialisasi mengenai Sistem Zonasi.

Hudiono mengatakan bahwa sistem zonasi ini diaplikasikan sebagai sarana pengembangan mutu dan telah mengakomodir segala aspek yang dibutuhkan oleh masyarakat.

“Bu Gubernur memberikan perintah kepada kami untuk terus mensosialisasikan bahwa sistem zonasi telah mengakomodir banyak pihak. Pada intinya zonasi sesuai dengan Permen no.51 th 2019 dan beberapa kepentingan masyarakat,” ujar Hudyono.

PPDB SMA SMK ini pun terbagi menjadi 5 jalur yakni (2 jalur non zonasi dan 3 jalur zonasi) dengan rincian sebagai berikut;

NON ZONASI
5 persen Jalur Prestasi Akademis dan Non Akademis
5 persen Jalur Kepindahan Orang Tua

ZONASI
20 persen Jalur Putra Tidak Mampu (dengan 5 persen di antaranya Putra Buruh)
20 persen Jalur Nilai UN Tinggi
50 persen Zonasi Reguler (dengan pertimbangan jarak, waktu, dan nilai)

Menurut Hudiono, dalam sistem zonasi ini tidak ada celah atau ketimpangan sistem, karena semua kebutuhan masyarakat telah diakomodir. Terlebih lagi saat ini Gubernur telah mencanangkan 1 Zonasi 1 Sekolah SKS untuk pemerataan dan menjamin mutu.

“Intinya terjadinya pemerataan mutu, jangan lagi punya keinginan untuk memasukkan anaknya ke sekolah favorit. Ya biar gak orang kira kalau sekolah bermutu itu hanya ada di tengah kota, tapi di kota pinggiran juga ada,” tukasnya.

Hudiono mengatakan nanti setiap zonasi paling tidak, ada 1 hingga 2 sekolah yang menerapkan sistem SKS dengan masa sekolah 2 tahun. Saat ini sudah ada 76 sekolah yang menerapkan sistem SKS di Jawa Timur dan mentargetkan 100 sekolah bersistem SKS pada Juli mendatang. Dan kedepannya, menurut Hudiono Sekolah berakreditasi B pun dapat mengajukan sistem SKS.

“Jadi dengan begini siswa yang pinter tidak perlu khawatir, karena mereka bisa ikut SKS dan lulus 2 tahun tanpa mengikuti siswa lainnya. Inilah usaha untuk menerapkan mutu dimasing-masing zonasi,” pungkas Hudiono. [adg/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar