Pendidikan & Kesehatan

Terlilit Utang, Ortu Bayi Tanpa Anus di Mojokerto Kebingungan

Mojokerto (beritajatim.com) – Pasangan Risky Junianto (25) dan Nanik Mariyati (34), orang tua bayi yang terlahir tanpa anus Naufal Putra Aditya, saat ini kebingungan. Pasalnya, warga Lingkungan Randegan RT 4 RW 2, Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto ini terlilit rentenir.

Ini setelah, putra pertamanya tersebut harus menjalani operasi pasca diketahui lahir tanpa anus, Rabu (6/11/2019) lalu. Naufal harus menjalani operasi di RSU Dr Soetomo, Kota Surabaya dua hari pasca dilahirkan. Dokter membuat lubang di perut bagian kiri.

“Kami belum memiliki asuransi kesehatan BPJS dan belum terdaftar Kartu Indonesia Sehat. Biaya operasi di RSU Dr Soetomo saat itu, habis Rp 13 juta karena lewat jalur umum. Sebelumnya, kami juga harus mengeluarkan biaya kelahiran dan perawatan di RSUD RA Basoeni,” ungkap Risky Junianto (25), ayah Naufal, Rabu (11/12/2019).

Biaya persalinan di bidan di Dusun Bekucuk, Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto sebesar Rp1,5 juta dan perawatan di RSUD RA Boesuni Gedeg sebelum dibawa ke RSU Dr Soetomo sebesar Rp2 juta. Risky mengaku, tidak ada bantuan atau asuransi karena saat hendak mengurus istrinya sakit.

“Sayabterpaksa meminjam uang sebesar Rp13 juta kepada rentenir dan harus mengembalikan uang pinjaman itu pada, Minggu (22/12/2019) depan dengan bunga Rp400 ribu setiap Rp1 juta. Saat ini, kami sekeluarga bingung untuk mengembalikan uang yang kami pinjam itu,” katanya.

Jika tidak segera dikembalikan, lanjut Risky, bunganya terus membengkak. Padahal penghasilannya sebagai butuh serabutan tidak menentu antara Rp1 juta sampai Rp1,5 juta per bulan. Namun kadang ia tidak mendapatkan pekerjaan. Selama ini total biaya yang kami keluarkan Rp20 juta termasuk untuk tranportasi.

“Belum lagi, setiap hari saya harus mengeluarkan uang untuk membeli kantong kolostomi. Setiap hari rata-rata membutuhkan 2 kantong untuk menampung kotoran air besar selama 6 bulan ke depan. Kami akan mengurus BPJS kesehatan mandiri agar saat Naufal operasi nanti tidak makan biaya besar,” ujarnya.

Kasus bayi Naufal ini, sepertinya belum didengar Pemkot Mojokerto. Pasalnya, Pemkot Mojokerto memiliki Program Universal Health Coverage (UHC) sejak dua tahun. Pemkot Mojokerto menganggarkan Rp17 miliar guna membayar iuran BPJS kesehatan penduduknya yang kurang mampu.[tin/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar