Pendidikan & Kesehatan

Terkendala Sertifikat, Gedung SDN di Kota Mojokerto Tak Tersentuh Perbaikan

Mojokerto (beritajatim.com) – Gedung perpustakaan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Prajurit Kulon, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto ambruk terkena angin kencang pada pertengahan Oktober 2014 silam. Gedung perpustakaan tersebut belum mendapatkan dana alokasi perbaikan lantaran tidak mempunyai sertifikat kepemilikan.

Padahal di tahun 2019, Pemkot Mojokerto melalui Dinas Pendidikan memberikan dana alokasi perbaikan dan penambahan gedung baru untuk 32 gedung sekolah yang ada di Kota Mojokerto. Meski pihak sekolah sudah mengusulkan perbaikan pasca kejadian, namun karena belum memiliki sertifikasi sehingga belum bisa dilakukan perbaikan.

Kepala Sekolah SDN 1 Prajurit Kulon, Pariyono mengatakan, pada pertengahan bulan Oktober 2014 lalu, angin kencang merobohkan gedung perpustakaan dengan luas sekitar 5 meter x 8 meter tersebut. “Saat kejadian angin kencang itu, sore hari jadi tidak ada aktivitas belajar mengajar,” ungkapnya, Sabtu (18/1/2020).

Masih kata Pariyono, pihaknya sudah mengusulkan proposal perbaikan gedung perpustakaan tersebut hingga empat kali ke Dinas Pendidikan Kota Mojokerto. Terkait pada tahun 2016. Terkait sertifikasi, kepengurusan sertifikat tanah juga sudah diusulkan dan yang berwenang mengerjakannya yakni dari Dinas Pendidikan Kota Mojokerto.

“Karena terkendala sertifikat, jadi tidak bisa mendapat bantuan. Dari dinas jawabannya cuma satu karena tidak ada sertifikat, karena dananya kalau bukan aset kan bisa bermasalah kedepannya. Dinas tidak bisa mencairkan dana alokasi perbaikan jika tidak ada sertifikat sekolah, itu kendalanya,” katanya.

Pihaknya, berharap proposal perbaikan gedung bisa diterima Dinas Pendidikan Kota Mojokerto sehingga pembangunan gedung perpustakaan sekolah bisa segera terealisasikan. Pariyono menambahkan, jika saat ini Dinas Pendidikan Kota Mojokerto sedang memproses dan pihak sekolah diminta untuk menunggu sertifikasi turun dari Badan Pertanahan Nasional (BPN).

“Sudah diproses, katanya kita diminta menunggu untuk sertifikat turun dari BPN setelah itu ada perbaikan. Pihak sekolah memberikan sebatas memberi kelengkapan berkas yang dibutuhkan. Karena tidak ada perpustakaan sementara alternatifnya kita menggunakan pojok baca yang ditempatkan di masing-masing kelas,” jelasnya.

Karena tidak adanya gedung perpustakaan, lanjut Pariyono, berdampak besar bagi 186 siswa SDN I Prajurit Kulon. Sehingga dewan guru membuat pojok baca di setiap kelas yang bukunya diganti setiap satu pekan sekali dan karena keterbatasan tempat sehingga rak buku diletakan di lorong bangunan menuju ke musala sekolah.

Selain gedung perpustakaan SDN I Prajurit Kulon, gedung SDN II Kranggan, Kecamatan Kranggan juga mengalami kerusakan. Ada empat titik atap plafon ambrol sepanjang 4 meter di ruangan kelas IV. Padahal, ruang kelas IV tersebut masih aktif digunakan untuk proses belajar dan mengajar. Atap plafon di depan ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan ruang laboratorium juga rusak.

Selain itu, kerusakan plafon juga terjadi di ruangan perpustakaan. Talang air sebagai penyekat antara bangunan kelas, kondisinya ambrol dan seringkali bocor saat hujan turun. Tiang penyangga berbahan kayu di depan kelas IV juga sudah mulai lapuk. Di dalam kamar mandi siswa ada dua toilet yang tidak ada pintunya. [tin/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar