Pendidikan & Kesehatan

Terisolasi di Wuhan, Mahasiswi Unesa Ingin Segera Pulang ke Indonesia

Mahasiswi Unesa yang belajar Bahasa di Wuhan China

Gresik (beritajatim.com) – Fitra Suryaning Citra mahasiswi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) asal Desa Cangkir, Kecamatan Driyorejo, Gresik, masih terisolasi di Wuhan, Provinsi Hubei, China. Dara berusia 22 tahun itu, ingin segera pulang ke tanah air setelah negara China tersebut terserang wabah virus corona.

Putri pasangan Yeni (43) dan Sudarso (48) itu, melalui grup Whatsapp (WA)
keluarganya menceritakan saat ini dirinya bersama teman-temannya yang mendapat beasiswa lebih banyak memasak sendiri buat makan sehari-hari.

“Alhamdulilah stok makanan banyak, kita memilih masak sendiri,” ujar Fitra, Jumat (31/01/2020).

Masih menurut Fitra, sekarang ini kondisi kota Wuhan sangat sepi. Sejumlah transportasi seperti bus, MRT bahkan pesawat di-lockdown. Sehingga, kepulangan dirinya bersama-sama teman-temannya ikut tertunda. Bahkan, kondisi kampus tempatnya mendapat beasiswa, yakni Central China Normal University (CCNU), juga sangat lengang. Sebab, mahasiswa dan mahasiswinya semua pulang kampung ke daerah asalnya masing-masing karena sedang libur semester.

Kondisi tersebut, membuat Fitra lebih memilih menghabiskan hari di dalam kamar. Mereka tinggal di asrama mahasiswi di yang berada di lingkungan kampus.

Fitra mahasiswi Fakultas Bahasa dan Seni Unesa ini mengaku akses internet di Wuhan cukup lancar meski ada wabah virus corona. Kendati berada di dalam kamar, dirinya masih menunggu kabar proses evakuasi dari pihak pemerintah Indonesia untuk pulang ke tanah air.

Sehari-harinya Fitra bersama rekan yang lain terus memantau perkembangan melalui media sosial (Medsos) seperti youtube. Tidak hanya itu, dirinya juga melihat perkembangan melalui televisi.

“Setiap harinya kita memilih di dalam kamar mengurangi aktivitas di luar ruangan, bisa keluar asrama, tidak ada larangan untuk keluar ruangan terkadang kita juga keluar asrama untuk membeli bahan makanan tetapi harus tetap memakai masker,” paparnya.

Selama masih di Wuhan, Fitra juga rajin berkomunikasi melalui aplikasi Whatsapp (WA) kepada keluarganya di rumah. Ibundanya Yeni (43) selalu menanyakan perkembangan di sana. Tidak lupa Fitra untuk selalu beristighfar agar dijauhi dari hal-hal yang tidak diinginkan.

“Ibu bapak selalu mengingatkan seperti itu agar saya tidak panik di sini dan jaga kesehatan,” ungkap Fitra.

Saat pertama kali mendengar tidak bisa pulang ke Indonesia karena mewabahnya virus Corona, Fitra melihat raut wajah ibunya yang sedih saat video call. Namun, sang ibu berusaha tegar dan meminta anaknya agar tidak banyak keluar rumah.

“Saya tahu ibu saya cukup sedih, tapi dia berusaha menunjukkan wajah tegar,” kata Fitra.

Hal yang sama ditunjukkan pada ayahnya, Sudarso. Meski putri pertamanya masih terisolasi di Wuhan, China, setiap tiga hingga empat jam sekali selalu berkomunikasi melalui video call.

“Saya barusan video call dengan anak saya. Dia bilang kondisinya baik-baik dan sehat,” tuturnya.

Sudarso berharap putrinya tetap tabah. “Semula kami sempat kuatir dengan putrinya itu yang sedang di Wuhan pada hari kedua. Sebab, saat semua akses kota Wuhan di lockdown stok makanan sempat terbatas,” ujarnya.

Sementara itu, Camat Driyorejo, Narto sudah mendatangi kediaman keluarga Fitra di Desa Cangkir. Kedua orang tuanya saat ini sedang menunggu kepastian putrinya pulang ke Indonesia.

Apalagi, setiap saat selalu video call. Sehingga mengurangi rasa khawatir yang selama ini terkait virus Corona yang mewabah di Kota Wuhan, China.

“Kami sudah berkordinasi dengan pihak keluarga ke Surabaya untuk membantu pemulangan Fitra. Mungkin saat dipanggil ke Surabaya kami siap membantu,” pungkasnya. [dny/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar