Pendidikan & Kesehatan

SKK Migas Gandeng ITS Kerjakan Proyek Migas Terbesar Dalam Sejarah

Direktur SKK Migas, Dwi Sucipto bersama Rektor ITS Prof Moh Ashari dalam kontrak kerjasama blok Masela

Surabaya (beritajatim.com) – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya hari ini mengadakan Focus Grup Disscution (FGD) Penguatan Industri Migas, bersama SKK Migas, Inpex Coorporation, PT PAL Indonesia, Universitas Pattimura Ambon, dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama Industri Migas, Kamis (29/8/2019) di Gedung Riset Center lantai 11 ITS.

Beberapa narasumber yang hadir untuk membahas Penguatan Industri Migas antara lain Rektor ITS, Prof. Moh Ashari, Dr Ir Dwi Sucipto, MM (Kepala SKK MIGAS), Ir Nico Muhyiddin (Vice President Inpex Coorporation), Ir Budiman Saleh MS PhD (Direktur Utama PT PAL Indonesia), Dr Eliza de Fretes (Perwakilan Universitas Pattimura, Ambon), dan Prof Ketut Buda Arsana (Guru Besar Kelautan ITS).

Dalam FGD ini Penguatan Industri Migas difokuskan pada pemaksimalan kinerja pengembangan Blok Masela, Tinimbar Maluku yang menjadi salah satu tonggak industri migas. Diketahui bahwa eksplorasi migas saat ini telah bergeser dari yang semula di laut dangkal, perlahan sudah menuju ke laut dalam.

Artinya, cadangan besar minyak dan gas di tanah air telah bergeser ke laut dalam. Blok Masela sendiri diperkirakan mempunyai cadangan yang sangat berlimpah. SKK Migas menargetkan produksi gas Blok Masela berupa LNG sebesar 9,5 MTPA dan Inpex akan memperoleh hak pengelolaan blok ini hingga 2055.

Oleh karenanya SKK Migas membutuhkan peran Perguruan Tinggi dalam mempersiapkan sumberdaya manusia yang handal dengan menyelenggarakan pendidikan vokasi yang difokuskan misalnya pada bidang Keselamatan Kerja, Teknologi Material dan Pengelasan, Pemrosesan Hidrokarbon akan memberikan nilai tambah di sektor sumberdaya manusia.

Dwi Sucipto mengatakan bahwa projek blok misela ini merupakan projek yang sangat besar dari sisi ukuran investasinya. Ia mengatakan setidaknya projek ini mengeluarkan dana sekitar 20 billion US Dolar.

“Kita bersyukur karena kita hadir disini untuk bisa menyaksikan proses implementasi dari sebuah projek yang sangat besar dari sisi size investasinya sekitar 20 billion US Dollar. Dan kalkulasi totalnya baru bisa dilihat pastinya setelah project selesai,” ujar Direktur SKK Migas tersebut.

Projek ini jika dinominalkan menjadi Sekitar 288 triliun rupiah untuk single Project, sehingga projek ini disebut sebut sebagai projek migas terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Projek ini pun diharapkan selesai pada tahun 2055. Dwi juga menambahkan besaran investasi dalam projek ini juga berdampak langsung dengan speed pemerintah.

“Realisasi projectcost ini akan berpengaruh pada speed pemerintah dan kontraktor jika kita menekan Projectcostnya maka speed pemerintah akan naik maka dari itu kewajiban SKK Migas terlibat dalam project ini menjadi sangat penting,” ungkap Dwi.

Proyek Blok Masela ini juga dinilai sangat strategis karena akan memberi keuntungan yang besar pasalnya diperkirakan sampai tahun 2055 itu cadangan yang tersisa setelah terambil adalah atas 4 TCF yakni dua kali lebih banyak  daripada cadangan di Jambaran Tiung Biru di Cepu Bojonegoro yang tersisa 1,2 TCF. “Yang paling penting project ini memberikan dampak investasi kepada Indonesia yang sangat besar,” tukasnya.

ITS sendiri sebagai PTN di bidang teknologi dituntut kesiapannya menyambut tantangan di atas. ITS bersama Universitas Pattimura, Ambon dapat menjadi partner dalam penyiapan sumber daya manusia maupun penyiapan program penelitian maupun pengembangan yang menunjang pemanfaatan potensi migas laut dalam. Hal ini dapat dinyatakan dengan kegiatan semacam penelitian bersama, joint working project maupun training dan pelatihan terkait.

Jika Indonesia tidak menggunakan momentum pengembangan Lapangan Gas Abadi Masela dalam penguasan teknologi laut dalam, maka akan menjadi kerugian jangka panjang bangsa Indonesia. Bila ini terjadi maka masyarakat Indonesia tidak akan banyak berperan dalam fase pengembangan maupun dalam fase operasinya nanti. Otomatis, penguasaan teknologi beserta kegiatan turunannya tidak akan menjadi bagian dari Indonesia.

Oleh karena itu, FGD ini diadakan dengan beberapa tujuan yakni;
Menjaring masukan dari SKKMIGAS, K3S, Perguruan tinggi dan Industri tentang peluang penguatan sinergitas dalam penguasaan teknologi migas laut dalam melalui proyek pengembangan lapangan gas Abadi Masela. Menemukan pola kemitraan yang sinergis antara SKKMIGAS, K3S, Perguruan tinggi dan Industri dalam bentuk penyelenggaran kegiatan yang berkelanjutan dalam upaya  implementasi dan transfer teknologi laut dalam.

Serta merancang kegiatan-kegiatan yang mendukung penguasaan teknologi laut dalam melalui joint research, capacity building, internship, technical assistants, training dan certification, program pemberdayaan masyarakat dan kegiatan lainnya yang relevan. Memetakan kapasitas industri nasional, khususnya industri maritim dalam mendukung proyek  pengembangan Lapangan Gas Abadi Masela.

Juga membuat rumusan kerjasama kemitraan antara SKKMIGAS, K3S, Perguruan tinggi dan Industri nasional kepada pemerintah dalam mendukung percepatan implementasi pengembangan Lapangan Gas Abadi Masela.

Rektor ITS, Moh Ashari mengatakan bahwa tanpa adanya kesepakatan dalam bidang pembangunan Indonesia bersama perguruan tinggi maka tidak akan terjadi kemajuan tersebut. “Tujuan adalah Perguruan Tinggi sama sama punya kewajiban ikut berkontribusi dalam pembangunan Indonesia terutama dalam mempersiapkan SDM,” ungkap Prof. Ashari.

Selain pemenuhan SDM, tugas Perguruan Tinggi adalah alih teknologi dan join riset, ITS pun mengatakan kesiapan dalam projek Blok Masela ini. [adg/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar