Pendidikan & Kesehatan

Simposium FK UNAIR Bahas Perkembangan Terkini Penanganan Luka Bakar

Dr dr Lynda Hariani sp BP e K selaku ketua panitia Acara Simposium dan Workshop

Surabaya (beritajatim.com) – Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya hari ini kembali mengadakan agenda rutin, yakni simposium dan workshop. Kegiatan yang bertajuk Update in Burn Management and Rehabilitation, bekerjasama dengan Dutch Foundation For Post Graduate Medical Courses, digelar hari Selasa (15/10/2019) di Aula FK UNAIR.

Materi adalah mempelajari ilmu-ilmu dan skill paling mutakhir terkait penanganan luka bakar. Di Indonesia, kasus luka bakar masih cukup tinggi. Menurut Dr dr Lynda Hariani, sp BP e K, setidaknya 13-15 pasien dengan luka bakar parah dirujuk ke RSUD Dr Soetomo tiap bulan.

Penanganan luka bakar menjadi topik yang diangkat karena merupakan kasus yang komprehensif dan multi disipliner. Mendatangkan banyak pembicara dari lintas ilmu pengetahuan, seperti syaraf, mikrobiologi, penyakit dalam, fisioterapi, ahli gizi dan lainnya.

“Karena penanganan luka bakar itu sangat sistemik, sehingga banyak yg terlibat sehingga Workshop dan simposium ini diikuti banyak departemen,” ujar dr Lynda selaku Ketua Penyelenggara Workshop dan Simposium ini.

Dengan banyaknya kasus luka bakar yang terjadi, RSUD Dr Soetomo telah membuka Burn Centre Unit. Di Indonesia trend penanganan luka bakar dengan menggunakan metode skingrafting atau menggunakan kulit sendiri.

Dengan simposium ini, diharapkan penanganan kasus luka bakar semakin terbuka untuk menangani pasien. “Dengan sharing ilmu, dari Dutch Foundation harapnya mampu mengetahui trend penanganan terbaru seperti tissue engineering atau tissue culture yang telah banyak diterapkan di negara maju,” ungkap dr Lynda.

Dalam simposium yang dibawakan oleh Profesor Esther Midelkoop dari Dutch Foundation tentang pembudidayaan skin tissue sebagai ilmu penanganan luka bakar paling mutakhir.

“Kalau dulu kita menggunakan autologus, tapi untuk luka bakar yang luas dan tidak ada donor biasanya kita kesulitan. Karena masih menggunakan Skingrafting jadi perawatan lebih lama. Karena masih menunggu kulitnya hidup baru ditanam lagi,” jelas Dr Lynda.

Kemudian ia pun memberikan tips penanganan pertama pada korban atau pasien luka bakar, yakni jika mendapati diri terbakar, segera hentikan pembakaran dengan bergulung atau mematikan titik api. Setelah itu segera menyiram bagian yang terbakar dengan air mengalir selama 20 menit. Dan terakhir menutupnya dengan kain bersih sebelum dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat.

“Kalau kena luka bakar jangan direndam, tapi diguyur dengan air mengalir. Karena air mengalir mampu mengurangi intensitas panas dan memperkecil ukuran luas dan dalam luka. Sedangkan jika direndam maka air akan ikut panas sehingga tidak membantu cooling,” pungkasnya. [adg/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar