Pendidikan & Kesehatan

Sejak Januari 2019, BPOM Amankan Kosmetik Ilegal Senilai Rp 58,9 Miliar

Surabaya (beritajatim.com) – Sebanyak 96 kasus peredaran kosmetik ilegal disita dan diamankan oleh Badan Pengawas Obat san Makanan (BPOM) Republik Indonesia selama setahun, dari Januari hingga November 2019.

Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik BPOM RI, Mayagustina Andarini mengatakan bahwa 96 kasus peredaran kasus obat dan kosmetik ilegal tersebut setara dengan Rp58,9 Miliar, Selasa (12/11/2019).

“Ada 96 kasus kosmetik ilegal senilai Rp58,9 miliar yang telah kita ungkap pada tahun 2019 secara nasional. Ada tren peningkatan peningkatan jika dibanding tahun sebelumnya yang di bawah angka itu,” katanya.

Peningkatan jumlah obat dan kosmetik ilegal di Indonesia tak terlepas dari kebijakan di perbatasan, di mana produk yang tak berizin dapat masuk meskipun perizinannya menyusul. “Ada kebijakan pos border, di mana produk bisa masuk, tapi izinnya menyusul. Selain itu juga ada kemudahan untuk memasarkan produk. Dari situ ada potensi memasukkan barang secara ilegal,” katanya.

Untuk mencegah peredaran kosmetik ilegal, BPOM melakukan berbagai pencegahan seperti melakukan sosialisasi kepada ibu-ibu, generasi milenial dan publik figur yang menjadi endorse. Pasalnya ketika artis melakukan endorse followernya akan mengikuti.

Kita melakukan pencegahan dan demand seperti melakukan sosialisasi ke ibu ibu, generasi milenial dan artis. “Artis biasanya jika mengendors maka followernya akan cepat membeli. Seperti kasusnya di Kediri. Akhirnya kita memberikan sosialasi melalui PARFI dan disiarkan ke seluruh TV yang diharapkan artis bisa menyadari, jika mengendorse barang legal saja. Karena followernya akan banyak yang ikut pakai jika endorse barang ilegal,” timpal Mayagustina.

Mayagustina menjabarkan, untuk mengetahui suatu kosmetik ilegal atau bukan, masyarakat hanya perlu membuka situs BPOM di Cek BPOM dan juga BPOM Mobile. Di situs tersebut, BPOM memberikan petunjuka terkait ilegal atau tidak suatu kosmetik. “Caranya melalui cek BPOM, BPOM mobile. Melihat fisiknya ada izin edar atau tidak. Artis diminta mengecek itu dulu sebelum melakukan endorse,” ujarnya.

Tidak hanya publik fugur, pada generasi milenial BPOM juga gencar melakukan sosialisasi. Menurutnya genarasi muda dengan gawai di tangan akan mudah membeli kosmetik ilegal.

“Selain itu, karena generasi milenial akrab dengan gawai sehingga kami memberi tahu caranya. Dia bisa follow instagram dan menyebarkan ke temannya supaya tidak memilih kosmetik ilegal,” pungkasnya.

Menurut Dra Reri Indriani, Apt., M.Si, PLT Sestama bahwa yang paling banyak dari tren produk ilegal mengerucut pada komestok ilegal. Pada tahun 2018, sebanyak 16,7 miliar temuan kosmetik ilegal dari seluruh komoditi yang ditemukan Badan POM. “Adapun kasus kosmetik yang paling banyak ditangani BPOM adalah kosmetik yang dicapur bahan obat serta tidak punya izin produksi atau izin edar,” ujar Reri.[adg/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar