Pendidikan & Kesehatan

Sastra dan Korupsi, Bincang Jumat BMS

Surabaya (beritajatim.com) – Bengkel Muda Surabaya (BMS) hari ini kembali menggelar diskusi Jumat bertema Sastra dan Korupsi, Jumat (29/3/2019) di Lobbi TIC, Balai Pemuda Surabaya

Sastra dan Korupsi diusung menjadi tema kali ini karena Soim Anwar sebagai sastrawan Jawa Timur resah atas kasus kasus korupsi yang melanda negerinya. Ia pun membuat dan menerbitkan buku dengan tema yang sama yakni Sastra dan Korupsi.

Sebagai pembicara, Soim Anwar mengatakan bahwa sosiologi sastra membuat korelasi karya sastra dengan keadaan nyata. Dengan beracuan pada penggarapan lintas disipliner, yakni: melalui novel, dan praktek.

Dalam karya sastra korupsi dapat dilihat sebagai bentuk autogentik, seperti pada beberapa karya Pramoedya yakni memanfaatkan jabatan untuk mencari keuntungan pribadi dalam bentuk membeli barang kepada pengusaha untuk mendapatkan keuntungan terbatas pada birokrasi.

Dalam karya sastra korupsi dapat dibaca dalam konteks apapun, sebagai penyakit dan cenderung memiliki penanda atau gejala. Soim mengatakan ada penyebabnya, pelaku, akibat, jenis jenis, stadium (perkembangan), cara penanggulangannya.

“Dari karya sastra kita dapat membaca bahwa korupsi memiliki tahapan, yakni tahap personal hingga struktural. Korupsi pun tidak pernah terjadi secara tunggal, terjadi dalam paksaan struktural, mau tidak mau terlibat jika tidak bisa menolak,” ujar Soim saat ia menerangkan contoh pembacaan korupsi pada novel Pramoedya “Senja di Jakarta”.

Oleh karenanya, Soim menuturkan bahwa karya sastra mampu membongkar, membuat titik terang terhadap kasus apa saja termasuk korupsi.
“Sastra memiliki cakupan yang luas sehingga mampu menyuguhkan apa saja atau mengungkapkan apa saja. Indonesia bisa merdeka karena tiga hal politik, massa, aksi. Sastra bagian dari aksi,” pungkasnya. [adg/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar