Pendidikan & Kesehatan

RSTKA Masuk Nominasi Asian Hospital Management Projects

Surabaya (beritajatim.com) – Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) berhasil masuk dalam nominasi Community Involvement Projects dari Asian Hospital Management 2019. Kabar baik ini disampaikan oleh Prof. Soetojo, selaku Dekan Fakultas Kedokteran (FK) UNAIR, Dr Poedjo Hartono Selaku Ketua IKA FK UNAIR dan Direktur RSTKA serta Dr. Gadis Meinar Sari selaku Direktur Pendidikan dan Penelitian RSTKA, Rabu (17/7/2019) di Ruang Dekan FK UNAIR.

Nominasi Community Involvement Projects yang diraih merupakan hasil dari kerja RSTKA yang dilakukan dalam kurun waktu setahun ini. Dalam kurun waktu satu tahun RSTKA telah menjalankan misi kemanusiaan di 25 titik terluar Indonesia.

Dari 25 titik yang berada di 22 terluar Indonesia, RSTKA telah melakukan 1.532 penanganan pasien bedah dan 11 482 penanganan pasien pelayanan kesehatan dasar dan spesialistik. Pelayaran dharma bakti yang dilakukan sejak 25 Oktober 2017 hingga 08 Desember 2018 ini dilakukan di Pulau Bawean, Kangean, Sapeken, Kalimas, Nusa Penida, Alor, Masela, Babar, Sermata, Luang, Lakor, Moa, Leti, Kisar, Wetar, Lirang, Wakatobi, Kangayan, Raas, dan Sapudi. Serta di Palu dan Lombok saat terjadi bencana gempa tahun lalu itu pun disusun menjadi sebuah paper untuk dilombakan dalam Asian Hospital Management Projects.

RSTKA menjadi satu satunya rumah sakit dari Indonesia yang meraih nominasi tersebut disamping 4 rumah sakit dari negara lainnya yakni, Appolo Hospital Enterprise Limited (India), Dubay Health Authority (UEA), National Healthcare Grup Policlinic (Singapura), dan Yishun Hospital (Singapura).

Berhasil menjadi nominator dalam penganugerahan tingkat internasional, Prof. Soetojo mengatakan sangat optimis terkait hasil yang akan diraih. “Optimis lah dapat penghargaan kerena capaian kita dari aspek sosial sangat bagus. Terlebih lagi kita murni dharma bakti dan memberikan pelayanan yang spesialistik,” ujarnya.

Di sisi lain, Dr. Poedjo mengatakan bahwa ikut sertanya RSTKA dalam ajang rumah sakit tingkat internasional ini tidak semata mata menginginkan kemenangan, melainkan untuk lebih mengenalkan RSTKA kepada dunia. Menurut Dr Poedjo, keberadaan RSTKA adalah ruang berbakti dan berdedikasi terbaik bagi para dokter, yang semestinya juga ditiru oleh institusi yang lain.

“Saya harap RSTKA ini menjadi model bagi institusi kesehatan lainnya, untuk tergerak memperhatikan pelayanan kesehatan di daerah terluar dan terpencil yang memang belum sepenuhnya mendapatkan akses yang layak,” harap Dr. Poedjo.

Oleh karenanya, Dr. Poedjo juga tidak ingin segala permasalahan kesehatan di semua daerah 3T menjadi tanggung jawab RSTKA. Ia menegaskan bahwa daerah masing-masing juga harus mampu berdiri di atas kaki sendiri dalam menyediakan pelayanan kesehatan publik.

“Tetap harus ada upaya pemerintah, dan kamipun tidak bisa menyelesaikan seluruh permasalahan di Nusantara, jadi kita ingin ini jadi model jadi pionir,” ungkapnya.

Dr. Gadis sebagai salah satu pembuat paper Asia Hospital Management Projects pun pada awalnya hanya ingin memperkenalkan RSTKA kepada dunia sebagai satu-satunya unit pelayanan kesehatan berupa kapal milik instansi pendidikan yang sifatnya sosial.

“Pelayanan RSTKA itu murni dikhususkan untuk pelayanan spesialis dan kasus operable atau yang berujung operasi, sehingga apa yang kami lakukan ini tidak hanya sekedar kunjungan penanganan batuk pilek karena kami berpikir bahwa masyarakat terluar akan sulit mendapatkan akses ke dokter spesialis,” timpal Dr. Gadis.

Usaha-usaha RSTKA itu lah yang membuat tim RSTKA optimis mendapatkan penghargaan Asian Hospital Management Projects. Selain itu dokter Gadis pun mengatakan bahwa segala upaya yang dilakukan oleh RSTKA terinspirasi dari dharma bakti yang dilakukan dr Agus Hariyanto yang telah terlebih dahulu menjadi pionir dalam melakukan pelayanan kesehatan secara swadaya di pulau-pulau terpencil dengan menggunakan perahu kecil sewaan yang ia beri nama Sailing Medical Service. [adg/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar